Wednesday , November 14 2018
Breaking News
Mencintai Rasul: Menghargai Perbedaan Di Tengah Umatnya

Mencintai Rasul: Menghargai Perbedaan Di Tengah Umatnya

Oleh: Haddad Alwi

Di dalam Al-Quran, Allah menyatakan bahwa Rasulullah SAW adalah suri teladan terbaik, contoh pribadi mulia dengan akhlak paling utama bagi seluruh umat manusia. Karena itu, setiap Muslim dianjurkan oleh Allah untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai panutan utama mereka. Maka siapa pun yang mencintai Rasulullah, maka Allah bakal mencintainya.

Namun demikian, saya ingin sampaikan kepada siapa saja yang mengaku cinta kepada Rasululah, berhati-hatilah dengan pengakuan itu. Karena orang yang mengaku cinta kepada Rasulullah tapi tidak mencintai umatnya, berarti orang itu pembohong. Begitu pun orang yang mengaku cinta kepada Nabi, namun di saat yang sama tidak mau menghargai perbedaan, gemar menyalahkan orang lain dan menganggap dirinya sendiri paling benar, bisa dianggap juga sebagai suatu kebohongan.

Seharusnya orang yang benar-benar cinta kepada Rasul tidak akan memiliki sifat sombong, merasa benar sendiri dan menganggap salah setiap orang yang berbeda dengannya. Karena seharusnya mereka tahu bahwa dalam Islam, perbedaan sebagai sebuah keniscayaan bisa dianggap sebagai rahmat Allah.

Dalam beragama, tidak masalah masing-masing orang berbeda mazhab dan beraliran apapun. Semua akan memiliki peluang yang sama masuk surga asal tidak saling menyalahkan, tidak saling mengkafirkan, tidak selalu menganggap dirinya benar dan yang lain salah.

Di dalam Al-Quran surah Asy-Syuara [26] ayat 88-89 juga disebutkan bahwa pada hari (kiamat) nanti sudah tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak kecuali hamba Allah yang menemui Allah dengan hati yang bersih, hati yang tidak sombong.

Kita tidak hidup sejaman dengan Rasulullah. Seandainya kita hidup di masa Rasulullah kita bisa bertanya langsung kepada beliau. Bagaimana shalat yang benar ya Rasulullah? Boleh nggak kita bertahlil? Boleh nggak baca Yasin di malam Jumat? Boleh nggak ngadain acara Maulidan? Pasti semua pertanyaan itu akan dijawab oleh Rasulullah, dan selesailah semua masalah.

Sayangnya, kita yang hidup di jaman ini tidak ada yang pernah bertemu dengan Rasulullah. Artinya, kita hanya tahu Islam dari riwayat. Maka dari itu, alangkah menggelikan kalau kita yang tahu Islam dari riwayat saja lalu mengklaim diri kita yang paling benar. Padahal dalam persoalan kuat atau lemahnya riwayat juga terdapat perbedaan pendapat dari setiap orang yang memahaminya.

Jika boleh diibaratkan, mazhab itu sesungguhnya hanyalah sebuah alat transportasi untuk menuju ke suatu lokasi tertentu. Sedangkan kita tahu, alat transportasi yang ada itu pun bermacam-macam bentuknya; ada mobil pribadi, ada taksi, bus, ojek, dan sebagainya. Misalkan kita mau ke Monas, maka dengan banyaknya pilihan itu kita dapat saja memanfaatkan ojek, bisa pula naik taksi, bus, dan sebagainya. Intinya, yang terpenting bagi kita adalah sampai ke sana. Tapi, kalau untuk tujuan yang sudah jelas dan sederhana saja kita mesti rapat dulu, memperdebatkan bahkan bertengkar berkepanjangan hanya perihal manakah di antara alat transportasi itu yang paling baik digunakan dan mana yang tidak boleh digunakan. Atau misalnya yang suka naik ojek tiba-tiba melarang orang yang sudah biasa pakai taksi dan sebaliknya, dan seterusnya. Dengan kata lain, jika kita hanya sibuk berkutat dalam masalah yang itu-itu saja, maka sudah dapat dipastikan justru akan membuat kita tidak sampai ke Monas sebagaimana yang sejak awal kita rencanakan.

Dengan uraian singkat di atas marilah kita pahami bersama bahwa untuk sampai kepada Allah pun, untuk meraih cinta dan keridhaan-Nya, berbagai  jalan dapat kita tempuh. Untuk itu, dengan cinta kita kepada Nabi, dengan meneladani semua keutamaan akhlak beliau,  saling menghargai dan menghormati perbedaan di tengah umat, kita berharap agar Allah berkenan meridhai  dan merahmati kita semua. (Haddad Alwi/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top