Sunday , October 20 2019
Breaking News
Menelisik Akar Ajaran Tasawuf di Indonesia

Menelisik Akar Ajaran Tasawuf di Indonesia

Kesepakatan lain diantara penulis sejarah adalah tentang dominannya peran kaum Sufi yang mengislamkan Nusantara. Peneliti A.H. Johns, Naquib Alatas, Fatimi, Martin van Bruinessen dan sejarawan lainnya sepakat bahwa Islam tersebar luas dan dipeluk oleh penduduk Nusantara berkat ajaran dan pendekatan kaum Sufi.

“Peranan para ahli tasawuf atau sufi tidak disangkal lagi, karena sebagian besar penyebar-penyebar agama Islam pada abad ke-13 ke-17 M adalah ahli-ahli tasawuf dan jejaknya dapat disaksikan dalam berbagai bukti seperti kitab-kitab keagamaan dan sastra, juga dalam adat istiadat. Para sufi itu berpengaruh besar dalam penentuan kalender Islam, penentuan bentuk-bentuk upacara keagamaan seperti maulid dan segala macamnya.” (Prof. Dr. Abdul Hadi)

“Tapi yang jelas adalah bahwa pengaruh tasawuf dalam penyebaran Islam di Nusantara itu sangat besar. Sehingga ada yang mengatakan, Islam di Nusantara pada periode-periode awal itu dibawa oleh ulama-ulama yang menyebarkan Islam melalui tasawuf, di samping juga menyebarkan Islam dengan jalur-jalur yang lain, termasuk jalur perdagangan, jalur fikih atau jalur paham Asy’ariyah. Tapi yang jelas adalah bahwa pengaruh tasawuf itu sangat besar.” (Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer)

Alwi Shihab menulis bahwa para penyebar utama Islam awal adalah kaum Sufi. Hasil penelitian ini, yang berjudul “Al-Tashawwuf al-Islami wa Atsaruhu H al-Tashawwuf al-Induniisi al-Muashir” telah diluluskan oleh Universitas al-‘Ain Shams di Mesir. Para sarjana Islam menyebutkan bahwa tasawuf adalah dimensi esoteris Islam atau aspek budaya spiritual Islam.

“Islam tersebar luar di Nusantara, khususnya kebudayaannya itu adalah berkat upaya para sufi. Islam yang diajarkan di Indonesia adalah tafsir Alquran yang dilakukan oleh ahli-ahli tasawuf dan ahli kalam yang berhubungan dengan way of life Islam, gambaran islam tentang dunia (world view) dan juga sistem nilai dan itu terus terasa di dalam bahasa dan kesusastraan melayu.” (Prof. Dr. Abdul Hadi)

“Saya ingat suatu kali Fritjop Schuon, seorang ahli tasawuf dan dia sendiri pelaku sufi, menulis di dalam sebuah bukunya dan membedakan antara Syiah dan Sunnah, bukan sebagai dua mazhab yang bertentangan, tapi sebagai dua pemahaman tentang Islam yang saling melengkapi. Menurut Fritiop Schuon, mazhab Ahlusunnah disebutnya sebagai semacam eksoterisme Islam, jadi pemahaman Islam dari sudut pandang ilmu-ilmu lahir, sementara Syiah disebutnya sebagai lebih menampilkan pemahaman esoteris atau lebih batin, lebih internal dari pada ajaran-ajaran Islam.” (Dr. Haidar Bagir)

Hampir semua tarekat sufi memiliki silsilah yang bermuara kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebelum kepada Nabi Mulia Muhammad Saw.

“Di dalam tasawuf misalnya, dalam silsilah-silsilah tarekat, Ali hampir selalu dimasukkan ke dalam silsilah. jarang yang tidak memasukkan Ali ke dalam silsilah tarekat. itu menunjukkan bahwa Ali sangat penting dalam tarekat dan Ali dianggap orang yang memiliki ilmu batiniah yang lebih dalam atau ilmu esoterik yang lebih dalam ketimbang para sahabat yang lain. Karena itu, tidak keliru misalnya kalau para sufi sering merujuk kepada Ali bin Abi Thalib.” (Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer)

Penulis buku terkenal Jami’ al-Asrar wa Manba‘ al-Anwar, Sayid Haidar Amuli menyebutkan bahwa ada kesatuan esensial antara Syi’ah dan Tasawuf. Dalam tradisi tasawuf dan Syi’ah, Imam Ali menempati posisi puncak (setelah Nabi Muhammad SAW); beliau dijuluki sebagai tajul arifin, rabbaniyul ummah. 

Ulama sufi terkemuka ini menunjukkan bahwa Tasawuf memiliki doktrin-doktrin pokok yang bersumber dari ajaran Syiah. Hanya saja dalam perkembangannya kemudian banyak aliran tasawuf yang memutuskan hubungan epistemologis dengan para Imam Ahlulbait meski secara silsilah spiritual masih bersambung kepada mereka.

“Memang kalau kita analisis lebih jauh, Syiah memiliki afinitas yang kuat terhadap tasawuf, khususnya terkait dengan konsep-konsep yang menampilkan faham tentang kewalian. Tentu faham kewalian ini tidak dapat dilepaskan dari suatu faham dominan di dalam Syiah yaitu Wahdatul Wujud. Seorang wali, tentu saja di atasnya seorang nabi adalah perwujudan sempurna dari tajalliyat sifat-sifat dan asma Allah Swt. Maka dia menjadi pintu gerbang dari setiap orang yang ingin berjalan menuju Allah swt. Bahwa dengan melewati kaum auliya atau para anbiya, khususnya al-insan al-kamil, Nabi Muhammad Saw. Maka kita akan dapat mendekati Allah Swt lewat eksemplarnya, yaitu al-insan al-kamil, para nabi dan para auliya itu. Nah, konsep auliya dalam tasawuf yang seperti saya singgung tadi, inilah yang hampir-hampir identik dengan konsep imamah yang merupakan salah satu ciri penting dari mazhab Syiah.” (Dr. Hadar Bagir)

Itulah sebabnya mengapa Sufl Wujudiyyah yang disistematisasi oleh Ibn Arabi diterima di kalangan ulama Syiah.

“Syi’ah itu sangat menekankan aspek esoterik atau aspek batiniah di samping tetap mempertahankan aspek eksoterik atau aspek lahiriah. Ajaran Ibnu Arabi memiliki atau menekankan aspek esoterik yang sangat dalam karena itu sesuai. Hal ini berbeda misalnya dengan Ahlusunnah yang didominasi oleh teologi Asy’ariyah yang hampir mengabaikan aspek esoterik. Jadi, di sini ada semacam kecocokan, kesesuaian antara tasawuf Ibnu Arabi dengan ajaran Syiah.” (Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer)

Fakta sejarah menunjukkan paham Wujudiyyah dalam beragam modifikasinya sangat berpengaruh dalam penyebaran Islam awal di Nusantara.

“Pengaruh tasawuf Ibnu Arabi di Nusantara itu sangat besar, hampir semua para ulama sufi di Nusantara mulai dari abad ke-17 sampai abad ke-18 dipengaruhi oleh Ibnu Arabi, misalnya Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Yusuf al-Makassari, Abdus Samad al-Palembangi, Nafis al-Banjari dan Daud Fatani, mereka semua adalah ulama-ulama sufi yang menganut paham Wahdatul Wujud meskipun dengan formulasi yang lebih moderat.” (Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer)

“Tarekat Syattariyah mengajarkan doktrin Wahdatul Wujud yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi. Nah, Syeikh Burhanuddin di Ulakan ini murid dari Syeikh Abdur Rauf. Teks-teks yang kita kaji menjelaskan bahwa tarekat Syattariyah mengajarkan Wahdatul Wujud, tetapi dengan catatan Wahdatul Wujud yang tidak bertentangan dengan syariat.” (Dr. Oman Fathurrahman)

“Makanya tidak heran juga kalau di Indonesia ini misalnya kita mendapati di antara paham tasawuf yang bersifat lebih Sunni, lebih ortodoks, ada juga paham-paham tasawuf Wahdatul Wujud yang menekankan pada martabat tujuh, menekankan pada konsep wilayah dan lain sebagainya. Karena sesungguhnya di antara tasawuf yang masuk ke Nusantara ini adalah tasawuf yang diajarkan oleh Ibnu Arabi yang dikenal sebagai bapak tasawuf. Dengan masuknya dan cukup kuatnya berpengaruh mazhab Wahdatul Wujud dalam tasawuf, maka kita juga tidak merasa heran jika di sana-sini ada kesamaan antara mazhab atau pemahaman Islam yang dianut oleh mayoritas kaum Nusantara, khususnya sebagaimana ditampilkan NU dengan Syiah.” (Dr. Haidar Bagir)

Bahkan, sekalipun dimusuhi dan ditutup-tutupi, jasa Sufi Wujudiyyah dalam penyebaran Islam dan pembentukan kebudayaan Islam di Nusantara tidak bisa dipungkiri. Abdul Hadi menyebutnya sebagai tasawuf yang tertindas

“Meskipun demikian ajaran Hamzah Fansuri dan sufi wujudiyah itu malah berkembang pesat di Nusantara. Ini yang sengaja ditutup -tutupi bahwa ini tidak ada, untuk mengkerdilkan bahwa Islam tidak mempunyai peranan sejarah apa-apa dalam kebudayaan Indonesia. Tidak memiliki peran historis dalam perkembangan kebudayaan Islam Indonesia.” (Prof. Dr. Abdul Hadi WM)

Syeikh Hamzah Fansuri dan muridnya Syeikh Syamsuddin Sumatrani adalah dua tokoh utama Sufi Wujudiyyah di Sumatera yang berpengaruh ke seluruh wilayah Nusantara melalui Tuanku Syah Kuala alias Syeikh Abdul Rauf bin Ali Fansuri As-Singkili. Sarjana antropologi sejarah Anthony Reid, dalam bukunya Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680, menyebutkan bahwa Hamzah Fansuri adalah seorang guru Sufi berpaham Syiah.

“Syeikh Syamsuddin Sumatrani adalah filosof, sufi dan juga sastrawan yang menjabat sebagai mufti pada masa pemerintahan Iskandar Muda. Hidupnya kalau menurut sejarah cukup jauh dari Hamzah Fansuri. Dia mungkin hanya murid spiritual Hamzah Fansuri dan dia mengembangkan sistem bersama gurunya, Syeikh Fadlullah al-Burhanpuri. Mengembangkan aliran tersendiri dalam tasawuf, yaitu metafisika yang disebut martabat tujuh dan ajaran martabat tujuh ini yang berpengaruh. Kadang-kadang beliau disebut juga Syamsuddin al-Sumatrai. Kadang-kadang disebut Syeikh Syamsuddin Pasai, karena berasal dari Pasai.” (Prof. Dr. Abdul Hadi WM)

Sejumlah doktrin Sufi Wujudiyyah tanpa nama juga telah masuk menjadi tradisi di kalangan umat Islam yang dibina oleh para wali termasuk Syeikh Siti Jenar.

“Bahkan di dalam kitab diba’ itu ada satu konsep yang berkaitan dengan keberadaan Nur Muhammad. Itu dihafal setiap orang. Dibaca ‘Fasubhanahu wa ta’ala min maliki aujada nuron Nabiyyihi Muhammadin sallahu alai wasallam min nurihi qabla an yakhluqa Adam’ yang Nabi itu (Muhammad) nurnya dicipta sebelum Adam. Ini konsep Nur Muhammad. Dibaca anak-anak kecil dan diperkenalkan kepada mereka tanpa mereka sadar. Baru setelah dewasa baru tahu bahwa ternyata ada konsep ini.” (Agus Sunyoto, MA)

Siapakah Syeikh Siti Jenar? Dialah salah seorang tokoh Wali Songo yang ajarannya tersebar luas di Jawa. Nama asli beliau adalah Sayyid Hasan ‘Ali al-Husaini. Sempat belajar ke ulama Syiah di Irak selama 17 tahun dan menikahi putri seorang tokoh Syiah Irak. Dialah yang dikenal sebagai pengusung ajaran manunggaling kawula gusti, sebagai usaha Jawanisasi konsep wahdatul-wujud.

Sangatlah jelas bahwa sejumlah ajaran Sufi Wujudiyyah seperti Nur Muhammad, Wahdatul Wujud, martabat tujuh, manunggaling kawula gusti, sangkan paraning dumadi, emanasi ternyata hadir dan sangat populer di Nusantara; dan tentu saja doktrin-doktrin ini dianggap bertentangan dengan tradisi tasawuf Sunni (ortodoks) yang mainstream.

“Kita tidak akan menemukan konsep Nur Muhammad itu dalam ajaran tasawuf yang mainstream, itu tasawuf kelompok wujudiyah. Karena itu kemudian di Indonesia beberapa jenis dari aliran tasawuf tersebut masih tetap menjalankan paham itu, misalnya ada tarekat Akmaliyah yang dinisbatkan kepada tokoh bernama Syeikh Siti Jenar. Kemudian tokoh Sunan Kalijaga dengan konsep ‘Manunggaling Kawula Gusti Sangkan Paraneng Dumadi’. Selain itu ada lagi tarekat Syattariyah, sama juga konsepnya dan besar jumlahnya. Itu semua dirangkum dalam Jam’iyah Mu’tabaroh oleh NU. Silahkan saja berbeda pandangan karena itu merupakan produk dari Islamisasi jaman dahulu dan sampai sekarang masih berlangsung.” (Agus Sunyoto, MA)

Baca juga Apa Makna Pernyataan Gus Dur ‘NU adalah Syiah Secara Kultural’?

“Karena kalau kita lihat mulai dari Hamzah Fansuri sampai kepada sufi-sufi yang lain, termasuk Abdus Samad Al-Palembangi, Nafis sampai abad ke-18 dan pertengahan abad ke-19 masih cukup besar pengaruhnya di Nusantara. namun pengaruh itu mulai menurun pada pertengahan abad ke-19 ketika pengaruh Wahabi di Saudi menguat. Al-Haramain, Makkah dan Madinah yang dahulunya menjadi pusat tasawuf telah berubah menjadi pusat Wahabi.

Hal itu ada kaitannya dengan penyebaran tasawuf di Nusantara, karena banyak ulama-ulama Indonesia yang belajar ke sana lalu pulang ke Indonesia banyak yang menentang tasawuf, termasuk Ahmad Khatib dari Minangkabau dan kemudian juga ada penentangan terhadap tarekat dan tasawuf dari kelompok-kelompok kaum modernis, termasuk diantaranya adalah Muhammadiyah dan Al-Irsyad. Jadi, pengaruh itu (Wahabi dan modernis) sampai sekarang masih kuat, meskipun misalnya ajaran tasawuf Ibnu Arabi sekarang mulai lagi dihidupkan oleh kelompok-kelompok tertentu di Indonesia. Dan saya kira penamaan Ar-Raniry (IAIN di Aceh) itu juga mencerminkan pengaruh kelompok-kelompok yang lebih menyukai Ar-Raniry ketimbang Hamzah Fansuri dan kita ketahui Ar-Raniry secara teologis menganut paham Asy’ariyah. Itu juga menunjukkan bahwa pengaruh teologi atau kalam Asy’ariyah itu masih kuat di Indonesia dan paham Asy’ariyah itu sulit dipertemukan atau disatukan dengan paham Wujudiyah.” (Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer)

Dari beberapa wawancara tadi dapat dibuat dua silogisme berikut:

Silogisme Pertama

Premis 1: Pembawa Islam awal yang utama di Nusantara adalah kaum Sufi

Premis 2: Kaum Sufi awal yang berpengaruh luas di Nusantara adalah paham Wujudiyyah

Kesimpulan: Sebagian pembawa Islam awal di Nusantara adalah kaum Sufi Wujudiyyah

Silogisme lanjutan adalah

Premis 1: Sufi Wujudiyyah tidak sesuai dengan teologi Asy’ari dan sufi Ghazali (Sunni)

Premis 2: Akan tetapi, Sufi Wujudiyah berkesesuaian dengan teosofi Syiah

Premsi 3: Sufi Wujudiyyah berpengaruh luas dalam penyebaran awal Islam Nusantara

Kesimpulan: Teosofi-spiritualitas Syiah berpengaruh luas dalam penyebaran awal Islam Nusantara

“Karena itu tidak heran kita lihat betapa besarnya afinitas antara kaum Syiah dan kaum sufi. Itu antara lain disebabkan prinsip-prinsip yang mendasari kedua pemahaman tentang Islam itu sebetulnya saling overlap, di antara Syiah yang awal yang bersifat spiritual dan tasawuf. Kita bisa melihat sebagai akibatnya misalnya banyak kelompok di dalam Islam yang sebetulnya tidak pernah dikaitkan dengan ke-Syiahan. Semisal di Indonesia NU yang oleh Gus Dur dibilang sebagai Syiah minus Imamah atau disebutnya juga sebagai Syiah kultural, terasa memiliki banyak kesamaan dengan Syiah, bukan karena NU adalah bagian dari Syiah-isme, tapi karena dominasi tasawuf di dalam ajaran NU yang menyebabkan kemudian terasa banyak di antara pemahaman kedua kelompok ini yang dekat.”
(Dr. Haidar Bagir)

Dikutip dari buku Menguak Akar Spiritual Islam Indonesia, Peran Ahlulbait dalam Penyebaran Islam di Nusantara.
Penulis TIM ICRO dan Tim ACRoSS 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top