Tuesday , October 22 2019
Breaking News
Mengapa Nama Para Imam Ahlulbait tidak Dicantumkan Secara Jelas dalam Alquran? [1/2]

Mengapa Nama Para Imam Ahlulbait tidak Dicantumkan Secara Jelas dalam Alquran? [1/2]

Perlu diketahui bahwa kendati nama para Imam Maksum as tidak disebutkan secara jelas dan tegas dalam Alquran, namun dalam sabda-sabda Nabi Saw disebutkan secara jelas nama para Imam Maksum As, khususnya nama Imam Ali as yang merupakan proyeksi jelas dari hadis al-Ghadir dan sebagai pengumuman resmi akan kekhalifahannya. Hadis al-Ghadir, dari aspek sanadnya termasuk hadis yang mutawatir dan dari sisi dilalah-nya (petunjuknya) merupakan bukti-bukti jelas akan imamah Imam Ali as.

Terlepas dari hal ini, dalam Alquran juga terdapat ayat-ayat yang turun berkenaan dengan Imam Ali as di mana yang paling penting di antaranya adalah surat al-Maidah ayat 55 yang artinya: ”Sesungguhnya wali kalian adalah hanya Allah Swt dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan salat serta memberikan zakat dalam keadaan ruku”. Dalam kitab-kitab tafsir, sejarah dan riwayat-riwayat, baik Syiah ataupun Sunni, disebutkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Imam Ali as yang sedang ruku’ sambil menginfakkan cincinnya dan bukti luarnya itu tidak ada yang lain kecuali Imam Ali as, oleh itu meski Alquran tidak menyebutkan secara transparan nama Imam Ali as, namun ia telah menunjukkan hal itu secara jelas.

Namun bahwa mengapa nama Imam Ali itu tidak disebutkan secara terbuka? Minimal ada dua jawaban yang dapat disuguhkan di sini.

Pertama: Secara mendasar, Alquran itu (diturunkan) untuk menjelaskan seluruh permasalahan itu secara universal, dengan bentuk kaidah dan pokok, bukan menjelaskan secara rinci dan detil seluruh permasalahan. Dan demikianlah yang berlaku pada beberapa teori-teori Alquran. Terkait hal ini, ketika Imam Shadiq as ditanya: Mengapa nama para Imam as tidak disebutkan secara terbuka dalam Alquran, beliau menjawab: sebagaimana halnya Allah Swt menurunkan perintah salat, zakat, haji secara universal tanpa menjelaskan perinciannya, bahkan Rasulullah Saw sendiri yang menjelaskan dan menerangkan cara pelaksanaan dan rincian hukum-hukumnya. Demikian pula dengan masalah wilayah, Rasulullah Saw sendiri yang menjelaskan serta memaparkan ihwal kekhalifahan Imam Ali as dan Ahlulbait as tanpa perlu disebutkan nama para Imam Maksum as satu per satu dalam Alquran.

Kedua: Pada masalah seperti ini, karena diprediksikan banyak orang yang akan menentang, maka jalan terbaik dan maslahat adalah Alquran menjelaskan hal ini secara tidak transparan dan cukup dengan isyarah dan kinayah (kiasan) saja, lantaran kemungkinan penentangan atas masalah keimamahan para Imam Maksum as bisa melebar sampai kepada menentang Alquran itu sendiri dan juga prinsip serta pokok agama, yang tentu saja hal ini akan sangat berbahaya bagi umat Islam secara keseluruhan; artinya betapa banyak orang-orang yang menentang wilayah Imam Ali As yang karena penentangan itu –jika ada ayat yang secara transparan dan terbuka menjelaskan ihwal wilayah beliau As– mereka berani dan nekad merubah dan membelokkan ataupun menghapus ayat tersebut, dan ketika itu nilai Islam sebagai agama penutup dan Alquran sebagai kitab suci yang abadi akan dicemooh dan dihina.

Selain itu, perlu dicamkan baik-baik bahwa kalau Allah Swt berfirman dalam Alquran yang artinya: ”Kami telah menurunkan Alquran dan kami pulalah yang akan menjaganya”. Salah satu cara menjaga Alquran adalah memberantas seluruh motivasi-motivasi untuk menentang dan distorsi tersebut secara alami. Dengan demikian dalam Alquran, pertama: tidak dijelaskan secara transparan ihwal wilâyat dan juga tidak disebutkan dengan jelas nama beliau (Ali as), kedua: ayat-ayat yang ada kaitannya dengan wilayat Imam Ali as dan ayat tabligh yang merupakan ayat yang mengumumkan langsung secara resmi atas wilayah dan khilafah Imam Ali as dan juga ayat tathir yang mengandung kemaksuman (terhindar dari segala bentuk dosa) Ahlulbait as, yang terletak di antara ayat-ayat yang lahir tidak punya relasi sama sekali dengan bahasan yang ada, sehingga semaksimal mungkin dapat mengatasi adanya keinginan dan motivasi untuk mengganti dan mengubah (Alquran) dan karena itu sepanjang sejarah, Alquran selalu terjaga dan terpelihara dari segala macam distorsi.

Terlebih dahulu ada poin penting yang perlu kita camkan baik-baik. Pertama: nama para Imam Maksum as secara jelas disebutkan dalam sabda-sabda Nabi Saw, khususnya nama mulia Imam Ali as yang telah dijelaskan Rasulullah Saw ihwal wilayat dan khilafah Imam Ali As, salah satu di antaranya adalah pada awal pengangkatan Rasulullah Saw menjadi nabi, ketika beliau Saw menyampaikan risalahnya kepada keluarga, kaum dan sanak famili, Rasulullah Saw bersabda: ”Orang yang paling pertama beriman kepadaku,maka ia akan menjadi wali, wazir dan penggantiku”, dan tidak ada satu orang pun yang menyambut kecuali Imam Ali as dan pada akhirnya Rasulullah Saw bersabda pada Imam Ali: “Setelahku, engkaulah yang akan menjadi washi, wazir dan khalifah”.[1] Riwayat lain adalah “hadis al-Ghadir” yang dijelaskan Nabi Saw secara terang-terangan: ”Man kuntu maulaahu fa ‘aliyyun maulaahu” (Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka Ali As menjadi pemimpin baginya).[2] Dan juga hadis “manzilah” dimana Rasulullah Saw bersabda kepada Imam Ali :” Engkau (wahai Ali As) bagiku (Nabi Saw) laksana Nabi Harun as bagi Nabi Musa as, kecuali bahwa tidak ada nabi setelahku”.[3] Source: quran.al-shia.org

Bersambung……….

 

Catatan Kaki

1. Ibnu al Bithriq, al ‘Umdah, hal. 121 dan 133; Sayid Hasyim Buhrani, Ghâyah al-Marâm, hal. 320; Allamah Amini, al Ghadir, jil. 2, hal. 278.
2. Hadits ini mutawatir dan ada dalam kitab-kita syi’ah dan sunni. Dalam kitab al Ghadir disebutkan para penukil hadits ini tahap pertahap dari abad 1 sampai abad 14 dimana yang paling awal ada 60 orang dari sahabat Nabi Saw yang dalam kitab-kitab ahlusunnah merupakan perawi hadits ini dan nama mereka itu tercatat dalam kitab-kita tersebut. Dan juga dalam kitab ‘Abaqât Mir Hamid Husein, terbukti akan kemutawatiran hadits al-Ghadir. Al-Ghadir, jil. 1, hal 14-114; Ibnu al-Maghaazali, Manâqib, hal 25-26; Murtadha Muthahari, Imâmat wa Rahbari, hal 72-73.
3. Al-Umdah, hal 173-175; Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, jil. 3, hal 32; al Ghadir, jil. 1, hal 51, jil. 3, hal 197-201.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top