Tuesday , October 22 2019
Breaking News
Mengawal Gerakan Perempuan Indonesia

Mengawal Gerakan Perempuan Indonesia

Perempuan tak hanya hidup di dapur. Sejarah telah membuktikan perempuan pun dapat menempati posisi-posisi penting dalam perjalanan bangsa ini. Meski demikian memperjuangkan kesetaraan posisi perempuan masih menjadi tantangan, terutama ketika masuk di ranah politik.

Titi Anggraini dari Perludem dalam bedah buku Indonesian Women and Local Politics di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Selasa (19/1), menyebutkan meski perempuan sekarang sudah diakui posisinya, tetapi dalam politik lokal, masih terkendala.

“Dalam konteks politik lokal, belum kondusif untuk perempuan. Kita lihat gerakan-gerakan untuk mengawal perempuan, memberdayakan perempuan, banyaknya lahir di luar partai politik,” ujar Titi.

Menurut Titi, kultur patriarkis, sentimen agama, dan struktur politik kekerabatan masih menjadi kendala yang menghalangi perempuan tampil. Tetapi Titi menjelaskan, pada beberapa kasus, ketika perempuan menunjukkan prestasi, masyarakat mendukungnya.

“Kalau kinerjanya baik, punya akseptabilitas publik yang baik mereka bisa naik dan bisa memperjuangkan nasib perempuan. Meskipun kita juga melihat banyak politikus perempuan tapi malah abai dengan isu perempuan.”

Wahyudi Akmaliah, MA dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI menyebutkan optimismenya terkait posisi perempuan dalam politik Indonesia.

“Saya optimis ya. Mereka kan bisa menempati posisi-posisi penting di Indonesia. Dan bagaimana mereka bisa berpihak tak hanya pada identitasnya, tapi juga pada isu-isu perempuan. Cuma memang problemnya adalah bagaimana partai politik bisa melatih power mereka menjadi lebih bermanfaat,” ujar Wahyudi.

Hal senada diungkapkan oleh Titi yang menyebutkan tantangan ke depan adalah bagaimana perempuan tak hanya menghadirkan dirinya secara fisik, tapi juga bisa membawa visi-visi keperempuanannya ke publik.

“Tantangan ke depan adalah kolaborasi antara perempuan di politik dengan organisasi-organisasi di isu-isu perempuan, untuk memperkuat kehadiran kaum perempuan tak hanya secara fisik, tapi juga bisa membawa nilai-nilai kesetaraan dan program-program perempuan secara lebih baik,” ujar Titi.

Dan kesemua ini haruslah dikawal oleh kita semua agar tercipta kesetaraan, perlindungan dan pengakuan peran serta perempuan yang maksimal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top