Saturday , March 28 2020
Breaking News
Mengenal Mufasir Milenial, Ayatullah Mohsen Qiraati

Mengenal Mufasir Milenial, Ayatullah Mohsen Qiraati

Lahir di iran pada 1946 dari keluarga taat beragama, Ayatullah Mohsen Qiraati termasuk tipe ulama yang bersahaja dan merakyat. Kendati begitu, beliau memiliki ciri khas sebagai mubalig yang benar-benar menguasai forum. Dalam karir akademisnya, beliau banyak belajar dari beberapa ayatullah ternama. Di antaranya, Ayatullah Sayyid Ridha Ghulfaegani yang pernah memberi nasihat agar lebih fokus pada kawula muda yang haus ilmu pengetahuan.

Setelah merampungkan seluruh pelajaran dasar (muqadimah) di kota kelahirannya, Kasyan, Ayatullah Qiraati hijrah ke Qom dan belajar selama 15 tahun, mulai dari tingkat sutuh hingga kharij. Beliau juga pernah belajar selama setahun di Masyhad dan setahun lagi di Najaf Abad dan Isfahan.

Figur lain yang amat mempengaruhi kehidupan beliau adalah Imam Khomeini. Ayatullah Qiraati mulai mengenal Imam sejak 1964 melalui surat-surat dan ceramah-ceramah Imam dalam upaya menyelamatkan umat Islam Iran dari cengkeraman Rezim Syah dan antek-antek Amerika Serikat.

Surat-surat Imam dari Perancis digambarkan Ayatullah Qiraati seperti kapak Nabi Ibrahim as yang sanggup menghancurkan patung-patung berhala abad ini. Karena itu, Imam Khomeini juga mendapat gelar “ruhullah”. Bagi Syaikh Qiraati, Imam Khomeini merupakan wasiat Tuhan di muka bumi yang akan memberi rahmat kepada seluruh umat manusia. Pasalnya, Imam melihat semua kalangan dengan pandangan sama.

Beliau juga sosok mubalig yang amat mencintai anak-anak muda. Itu tak lepas dari misinya sebagai mubalig. Beliau meyakini itu sebagai panggilan Ilahi dan merasa bahwa tabligh harus dinikmati semua kalangan.

Ayatullah Muhsin Qiraati juga telah menghasilkan berbagai karya. Di antaranya kitab Ushuludin (lima jilid), tafsir an-Nur (12 jilid), Ensiklopedia salat (10 jilid), tentang Haji, Ammar Makruf Nahi Munkar, Tafsir Anak Muda Surah Yusuf, Tafsir Anak Muda Surah al-Ankabut, Surah al-Isra, Tafsir Anak Muda Surah Luqman, Tafsir Anak Muda Surah al-Hujurat, Tafsir Anak Muda Surah Yasin, dan lain-lain.

Syaikh Qiraati pernah bercerita tentang ayahnya yang hingga usia 45 tahun masih belum dikaruniai anak. Padahal, ia ingin sekali memiliki anak. Kemudian, ayahnya itu bertolak ke Mekah dan memohon di hadapan Kabah. Ia ingin dikarunia anak yang kelak akan dijadikan muballigh. Lalu, ketika dia pulang, Allah Swt mengaruniainya 12 anak yang semuanya menjadi muballigh, termasuk Syaikh Qiraati sendiri.

“Saya sekarang bisa berada di negeri Indonesia, di hadapan Anda sekalian berkat ayah saya yang menangis di hadapan Kabah,” ungkapnya di hadapan jamaah seminar. Ayatullah Muhsin Qiraati melanjutkan pembicaraannya. Menurutnya, Muballigh yang baik harus lolos syarat moral.

Ayatullah Muhsin Qiraati adalah figur alim yang tidak suka basa-basi dan dengan segala jenis protokoler yang kaku serta menghalangi keakraban dengan umatnya. Ia juga termasyhur sebagai mubalig yang mendakwahkan kehatia-hatian dalam pemanfaatan baitul mal. Karena itu, tidak heran jima sebagian besar perjalanannya dilakukan sendirian tanpa ditemani ajudan.

Yang istimewa darinya adalah kecintaan yang mendarah daging terhadap al-Quran. Semua itu disempurnakan dengan kefasihannya dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran di sela-sela kuliah-kuliah umum.

Peran para ulama di tengah masyarakat Iran sejak dulu sampai saat ini, terutama di masa imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei, tidak mungkin diabaikan dari panggung sejarah. Mereka dengan segala kesulitan di tengah masyarakat yang sebagiannya masih sekularz terus berusaha menghidupkan ajaran Islam dengan segala metode. Para ulama di bawah kepempimpinan Imam Khomeini menjadi ujung tombak dari misi islam yang hadir dalam setiap kancah perjuangan. Di antara sekian ribu ulama yang turut menghidupkan revolusi dan menjaga semangatnya adalah Ayatullah Muhsin Qiraati; murid Imam yang mewarisi sifat tidak bisa tinggal diam terhadap segala problematik umatnya.

Syaikh Qiraati lalu menuturkan cerita lain yang menurutnya sangat penting. Saat percah perang antara Irak versus Iran, terdapat seorang ulama bernama Abu Thuraby yang ditawan Saddam selama 10 tahun. Ia adalah pemimpin dari 100 ribu tawanan yang ada di Irak.

“Saya pernah belajar bersama-sama beliau. Saya ingin mengetahui bagaimana seorang ruhani menjadi pemimpin 100 ribu tawanan,” ujar Syaikh Qiraati. Ini cerita yang sangat penting dalam hidupnya, yang perlu diceritakan kepada orang lain, bahkan mungkin layak dijadikan film.

Ayatullah Muhsin Qiraati melanjutkan ceritanya. Sebuah mobil palang merah datang untuk menemui para tawanan. Mereka lalu mendatangi Abu Thuraby. Rombongan palang merah ini bertanya tentang apakah terjadi penyiksaan oleh pasukan Saddam terhadap para tawanan. Beliau tidak menjawab karena di situ berdiri seorang kolonel tentara yang berdiri mengawasi mereka. Setiap kali mereka bertanya tentang itu kepadanya, beliau tidak menjawab. Akhirnya mereka meninggalkan tempat itu.

Si kolonel yang mengawasi tersentuh hatinya dan menghampiri Abu Thuraby. Ia berkata, “Saya sendiri yang menyiksa Anda. Saya sendiri yang dulu memaku kepala Anda.”

Tahukah Anda apa yang dikatakan Abu Thuraby? Beliau menjawab, “Kenapa saya tidak katakan pada mereka tentang penyiksaan itu? Sebab, rombongan palang merah itu beragama Kristen dan Anda seorang Muslim. Karena, dalam al-Quran dikatakan, jangan pernah menceritakan kepada orang kafir yang dengannya Anda merasakan kebaikan-kebaikan mereka.”

Kolonel itu merasa tersentuh dan berkata, “Saya malu kepada Anda dan malu kepada al-Quran. Anda sosok mullah yang luar biasa. Al-Quran benar-benar telah melebur pada diri Anda.” Kolonel itu kemudian bertanya, “Karena Anda telah berbuat seperti itu kepada palang merah tadi, lantas apa yang harus saya perbuat untuk Anda? Dulu saya menyiksa Anda, sekarang saya ingin melakukan sesuatu yang luput dari pandangan Saddam. Apa yang harus saya lakukan untuk Anda?”  Abu Thuraby kontan menjawab, “Saya hanya minta satu hal. Izinkan saya bertemu dengan 100 ribu anak muda Iran yang jadi tawanan.”

Kolonel itu kemudian bekerjasama dengan Abu Thuraby dan menjadi mata-mata beliau di tengah pasukan Saddam. Abu Thuraby lalu menyusun program pembinaan untuk anak-anak muda yang ditawam itu. Beliau memberikan bimbingan tahfiz al-Quran, tafsir al-Quran, bahasa Inggris, Nahjul Balaghah, retorika, dan selama 10 tahun menjadi pemimpin mereka. Semua itu disebabkan ayat yang dibacakannya kepada Sang Kolonel.

Syaikh Qiraati menegaskan bahwa agama Islam memiliki daya tarik tersendiri. Imam Ali Ridha as pernah berkata, “Seandainya seluruh manusia mengetahui betapa manisnya agama ini, niscaya mereka akan masuk Islam.”

Ayatullah Muhsin Qiraati lalu menceritakan pengalamannya. Di Iran, beliau biasa berceramah di hadapan ribuan orang. Suatu waktu, sekumpulan anak kecil persis berada di bawah mimbarnya. Saat itu beberapa perwira penting hadir dalam acara itu. Pimpinan majelis kemudian memindahkan anak-anak kecil itu untuk tempat duduk para perwira. Melihat hal itu dari atas mimbar, Syaikh Qiraati kontan menyebutnya sebagai kemunkaran. Kemudian beliau berkata bahwa dirinya harus mengatakan itu apa adanya.

Menurut Ayatullah Qiraati, seandainya dalam suatu majelis terdapat seorang anak yang duduk lalu dipindahkan untuk tempat shalat seorang presiden, maka shalat presiden itu tak akan diterima Allah Swt. Lalu, Syaikh Qiraati berhenti berbicara dalam acara itu dan berkata selamat datang kepada para penguasa negeri Iran seraya mengatakan bahwa mereka telah merampas hak anak-anak kecil tadi.

Mendengar itu, mereka berdiri dan mencari tempat kosong. Syaikh Qiraati lalu mempersilahkan anak-anak kecil tadi untuk kembali duduk di tempatnya semula. Inilah salah satu contoh dari ucapan suci Imam Ali Ridha di atas, bahwa seandainya mereka mengetahui manisnya agama ini, tentu mereka akan memeluk Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top