Tuesday , February 18 2020
Breaking News
Menguak Akar Spiritual Islam di Indonesia

Menguak Akar Spiritual Islam di Indonesia

Sayangnya, sejarah awal Islam di Indonesia masih diselimuti beberapa lubang misteri dan ketakjelasan. Hal ini diakui oleh para sejarawan M. C. Ricklefs dalam bukunya, A History of Modern Indonesia since 1200 (Hampshire, 2001) menyatakan bahwa “penyebaran Islam adalah salah satu proses yang sangat penting (the most significant) dalam sejarah Indonesia, tetapi ia juga yang paling tidak jelas (the most obscure)

…penyebaran Islam adalah salah satu proses yang sangat penting (the most signifcant) dalam sejarah Indonesia, tetapi ia juga yang paling tidak jelas ( the most 0bscure)..” (hal. 3)

”Mengapa sejarah awal Islam di Indonesia tidak begitu jelas atau kabur?

Pertama, sumber-sumber tulis lokal. Kurangnya sumber tertulis lokal juga dikarenakan karena tidak begitu kuatnya tradisi menulis. Jikapun ada dari sumber lain yang berbicara tentang Jawa Cina, atau pengembara dari eropa, namun ….. tidak diimbangi dengan sumber-sumber lain. Tentu saja, sumber itu ada, saya saja menemukan seperti kitab Ibnu Batutah yang terkenal juga kitab Al Hind karangan Alhamruzi. Di tengah kekaburan itu, penulis dari Belanda juga kebanyakan menulis masuknya Islam ke Indonesia itu cendrung politis. Prof. Karl A Steentrink mengatakan bahwa ada usaha-usaha sistematis dari para sarjana kolonial Belanda untuk mengecilkan peran Islam di Indonesia. Dia menulis 0pini ini dalam bukunya “Dutch Colonialism and Indonesian Islam“. Misalnya etika jawa yang dilepaskan dari pengaruh Islam” (Prof. Dr. Azyumardi Azra)

“Saya kira apa yang disampaikan oleh Prof Ricklefs itu satu pandangan umum. Berbicara tentang sejarah awal Islam di Indonesia menjadi penting dalam artian dari sana kita bisa mengetahui akar, pengaruh Islam yang masuk ke nusantara dari mana asalnya, mazhabnya, kecenderungannya. Tetapi yang dimaksud yang paling tidak jelas kalau ditanyakan dari mana asalnya Islam tersebut. Paling tidak jelas tersebut artinya, apakah bisa dipastikan dari Arab, Persia, India, Gujarat dan lain-lain. Ini yang tidak pasti” (Dr. Oman Faturrahman)

Menurut Prof. Azyumardi Azra, terdapat tiga masalah pokok yang menjadi perdebatan panjang mengenai sejarah masuknya Islam ke Indonesia, yaitu tempat asal kedatangan Islam, waktu kedatangan, dan siapakah yang membawa pertama Islam pertama kali.

Mengenai asal kedatangan Islam, para sejarawan menyebutkan adanya tiga teori
1. Teori Gyjarat
2. Teori Arab
3. Teori Persia

Pertama, teori Gujarat bahwa Ilam datang ke Nusantara oleh pedagang dan ulama Gujarat, India. Kedua, Teori Arab bahwa Islam dibawa oleh pedgang dan ulama yang berasal dari Jazirah Arab dan Mesir. Ketiga, teori Persia bahwa Islam dibawa oleh pedagang dan ulama yang berasal dari Persia. Meskipun demikian, sejarah umumnya sepakat bahwa Islam berasal dari Arab, Persia dan India.

Kapan Islam Datang ke Nusantara?

Mengenai waktu kedatangan Islam, sejarawan asing seperti Snouck Hurgronye, Moquette, Wintedt menyebutkan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke -13 M. Sedangkan sejarawan dan sarjana Indonesia seperti Aboebakar Atjeh, Hamka, Yunus Jamil, Ali Hasymi, Alwi Shihab, dan Azyumardi Azra berpendapat bahwa Islam telah hadir di N usantara sejak abad ke-7 atau 8 M.

“Berbicara masalah masuknya Islam ke Indonesia dalam karya-karya buku sejarah disebutkan ada dua pendapat utama. Yang pertama, dari kalangan sarjana asing yang menyebutkan bahwa Islam pertama itu di Pasai. Sumber yang ada misalnya makam Malikus Saleh. Ada tulisannya dimana disebutkan Sultan Malikus Saleh yang dimakamkan di sana wafat tahun 1297 M, Berarti abad ke-13. Itu menurut pendapat sarjana asing.

Kemudian yang kedua dari para sarjana Indonesia sendiri yang didasarkan pada hasil-hasil seminar. Seminar pertama tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia diadakan di Medan pada tahun 1963. Disimpulkan bahwa kerajaan Islam yang tertua adalah Perlak .” (Dr. Rusdi Sufi)

“Pertama Snouck Horgronje mengatakan Islam datang ke Nusantara ini pada abad ke-13. Perbedaan itu terjadi, terutama karena para sarjana Belanda ini tidak mengakses sumber-sumber yang lain, dalam hal ini sumber Cina, Persia, Arab dan lain sebagainya. Mereka hanya mendasarkan diri mereka pada sumber-sumber riwayat perjalanan orang-orang Eropa ke Nusantara ini. Oleh karena itu, bagi mereka lslam baru datang pada abad ke-13. Padahal sumber-sumber yang lain yang saya teliti, sumber Cina, Arab, Persia dan bahkan sumber Yahudi yang sampai juga ke Nusantara. Akhir abad ke-7 dan ke-8, Islam sudah sampai ke Nusantara.” (Prof. Dr. Azyumardi Azra)

Pandangan bahwa Islam sudah masuk ke Nusantara sejak awal peradaban Islam dikukuhkan oleh tiga kali seminar nasional tentang Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara yang masing-masing diselenggarakan di Medan, Banda Aceh, dan Perlak pada tahun 1967, 1978, dan 1980. Akan tetapi, terdapat dua versi sejarah tentang siapa yang membawa masuk Islam pertama kali.

Sejarawan-sejarawan seperti Aboebakar Atjeh, Slamet Mulyana, F.A. Hosein Djayadiningrat, Baroroh Baried, Yunus Jamil, Ali Hasymi, dan Wan Azmi Husein berpendapat bahwa pembawa masuk Islam pertama kali ke Nusantara adalah penganut Syi’ah. Sementara Hamka, Azyumardi Azra, dan Saifuddin Zuhri menolak pendapat ini karena menurut mereka tidak ada bukti yang kuat tentang kehadiran Syi’ah pada sejarah awal Islam di Nusantara.

“Lagi-lagi kita tidak bisa memastikan sebenarnya apakah pandangan Ali Hasymi yang benar bahwa Islam sudah masuk pada abad ke-9 dan dengan kerajaan Perlaknya itu atau abad ke-13 dengan bukti-bukti arkeologisnya seperti menurut sarjana Belanda, Muquette, Wintedt dan lain-lain.” (Dr. Oman Fathurrahman)“Tidak ada bukti-bukti yang meyakinkan mengenai kerajaan Perlak yang disebut pada abad ke-9. Memang Islam sudah datang. Orang-orang Muslim sudah datang ke pelabuhan Sriwijaya pada abad ke-7 M. Para pedagang Muslim yang berasal dari Arabiah, yang kita sebut sekarang Timur Tengah, itu kemudian aktif di dalam penyebaran Islam.” (Prof. Dr. AzyumardiAzra)

“Kalau kita melihat pandangan Prof. Azra, Prof Hamka, berbeda dengan pandangan Prof Ali Hasyimi dan Prof Abu Bakar Aceh. Yang pertama mengatakan bahwa Sunni yang pertama datang. Kemudian yang kedua, Syi’ah yang pertama datang. Saya kita karena memang risetnya belum selesai untuk memastikan apakah Syi’ah atau Sunni yang pertama datang ke Nusantara. Saya berargumentasi kemungkinan besar -karena wilayah Aceh adalah besar- ada daerah yang didatangi dahulu oleh Sunni dan ada wilayah walaupun kecil yang didatangi oleh Syi’ah, karenanya ada pengaruh Syi’ah. Karena itu suni dan Syi’ah di Aceh saling mempengaruhi.” (Dr. Asna Husen)

Pendapat Prof. Azyumardi Azra ini berbeda dengan hasil kesimpulan tiga kali seminar nasional tentang masuknya Islam ke Indonesia yang menyatakan bahwa kerajaan Islam yang pertama di Nusantara adalah Kerajaan Perlak, yang awalnya menganut mazhab Syi’ah.

Tiga kali Seminar Nasional tentang masuknya Islam ke Indonesia:
  1. Pada tanggal 17-20 Maret 1967 di Medan
  2. Pada tanggal 10-16 Juli 1978 di Banda Aceh
  3. Pada tanggal 23-30 September 1980 di Perlak

Kesimpulan dari 3 Seminar di atas adalah Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan Perlak.

Hasil gambar untuk peta samudra pasai

Menurut Ali Hasymi dalam bukunya Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia (Medan: Al-Ma’arif, 1981) Kerajaan Perlak didirikan pada tahun 840 M oleh Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah. Pendiri kerajaan Islam tertua di Asia Tenggara ini menganut mazhab Syi’ah. Akan tetapi, mulai sultan kelima, yaitu Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdul Kadir Syah lohan Berdaulat, Kerajaan Perlak dipimpin oleh Syi’ah dan Sunni secara bergiliran.

“Jadi menurut sumber-sumber sekunder ini, pada tahun 173 H telah datang sebetulnya di bandar yang bernama Bandar Perlak seorang bernama Nakhoda Khalifah. la datang dari Gujarat untuk mensyiarkan Islam di kawasan Perlak ini. Menurut Sahibul hikayat itu, jumlah rombongan ada 100 orang yang terdiri dari orang Arab, orang Persia dan orang India. Mereka berhasil membentuk komunitas Islam di sana, termasuk juga keluarga elite di sana yaitu keluarga Meurah Perlak yang berhasil diislamkan.

Perkembangan selanjutnya adalah bahwa salah seorang anggota rombongan yang bernama Sayyid Ali menikahi Makhdum Tansuri yaitu adik Meurah Perlak yang bernama Sahir Nuwi. Sebenarnya Sahir Nuwi itu sendiri adalah putri Pangeran Salman yang telah lebih dulu datang ke Perlak 50 tahun sebelumnya Dari perkawinan ini lahirlah seorang anak yang diberi nama Sayid Abdul Aziz. Sayyid Abdul Aziz inilah yang pada tanggal 1 Muharram tahun 225 H diangkat menjadi raja kerajaan Islam Perlak yang pertama, gelarnya Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah.

]ika menurut sumber sekunder ini maka kerajaan Islam Perlak berdiri pada abad ke-3 H atau abad ke-9 M. Ada satu hal yang menarik yaitu bahwa kerajaan ini memiliki mata uang sendiri yaitu uang ‘dirham’ dan mata uang ‘kupang’. Di atas mata uang itu ada tulisan Arabnya. Ini menunjukkan bahwa kerajaan Perlak satu kerajaan yang cukup maju untuk waktu itu.

Pada abad ke-10, terjadi kekosongan kekuasaan di kerajaan Perlak ini, karena terjadi konflik antara dua golongan yaitu golongan Syi’ah dan golongan Ahlusunnah Wal Jama’ah. Dalam pertarungan ini yang menang adalah golongan Ahlusunnah Wal Jama’ah sehingga yang diangkat menjadi raja dari kerajaan Perlak ini adalah keturunan Meurah Perlak. Ini ada beberapa raja yang disebut dalam kitab-kitab yang ditulis abad ke-13 H yaitu ldzhar al-Haqq, karya Abu Ishak, Tadhkirah Tabaqat dan Silsilah Raja-raja Perlak dan Pasai.

Raja-raja menurut kitab-kitab ini yang terkenal, pertama abad ke-10, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Syah lohan Berdaulat (memerintah 928 932), kemudian berikutnya Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Syah Johan Berdaulat (932 983), kemudian Sultan Makhdum Abdul Malik Syah Johan Berdaulat. Pada masa Sultan Johan Berdaulat yang 956 983 golongan Syi’ah bangkit kembali dan akhirnya konflik ini memecah kerajaan menjadi dua; yang pertama adalah Perlak Pesisir. Di sini diangkat raja dari golongan Syiah, yaiu Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Syah (memerintah 976 988). Kemudian yang kedua adalah kerajaan Perlak pedalaman yang diangkat raja dari golongan Ahlusunnah, yaitu Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah lohan Berdaulat (memerintah sampai 1023). kita juga tahu bahwa Sriwijaya yang sudah muncul dari abad ke-8 itu berusaha melakukan invasi termasuk ke wilayah Perlak. Di sinilah raja dari golongan Syi’ah gugur di dalam konflik dengan Sriwijaya. Sebaliknya Sultan dari golongan Ahlusunnah yang berada di pedalaman malahan berhasil memukul mundur Sriwijaya sehingga setelah itu peperangan berakhir tahun 1006. Kerajaan inilah yang sebetulnya terus eksis.

Kalau kita baca buku-buku sejarah yang pernah ditulis mengenai sejarah perkembangan Islam di Nusantara, orang sering melupakan peranan Perlak ini. Meskipun tidak semua, ada juga yang memasukkan bahwa Perlak berperan besar bersama-sama dengan kerajaan Samudera Pasai di dalam meng-Islamkan Nusantara.

Catatan Marcopolo sudah mengatakan bahwa selain Samudera Pasai yang sudah dia temui rajanya ada juga kerajaan Islam yang lebih dahulu, yaitu namanya Feirlek, maksudnya Perlak. Dicatat pula bahwa menurutnya, di ibu kota kerajaan Perlak tersebut amat ramai dikunjungi oleh saudagar-saudagar Muslim dari Arab, Persia maupun India. Para pedagang ini juga melakukan dakwah di sana.

Menariknya Marcopolo juga mendapat cerita-cerita yang diceritakan bahwa di sini dahulu ada raja-raja terkemuka karena sangat berjasa, misalnya Sultan Alauddin yang memerintah antara 1161 1186. Di situ anehnya disebut dialah raja pertama. Jika kita lihat di sini ada perbedaan dua abad, bahkan hampir tiga abad dari sumber-sumber yang lain. Tentu saja kita harus tahu bahwa ada kitab-kitab yang mungkin Ahlusunnah menganulir sumber-sumber yang berasal dari golongan Syi’ah sehingga dikatakan bahwa Sultan Alauddin itulah sebetulnya pendiri Perlak. Dengan demikian baru pada tahun 1161.

Kerajaan Samudera Pasai sumber primernya sama sangat jelas yaitu pertama, dari peninggalan yang berupa nisan Malikus Saleh yang jelas-jelas disebut ini adalah raja Malikus Saleh, Raja Samudera Pasai dan angka tahun kematiannya 1297 M. Jadi tidak bisa dibantah bahwa pada akhir abad ke-13 M kerajaan Samudera Pasai sudah ada. Namun di sana pun ada berita Marcopolo yang pernah bertemu dengan Sultan yang meninggal ini. Ceritanya cukup banyak sehingga darinya dapat disimpulkan bahwa Samudera Pasai itu sebenarnya sudah ada pada abad ke-12, yang tentunya berdasarkan tuturan dari orangorang yang ditemui oleh Marcopolo pada akhir abad tersebut. Seperti tadi saya sampaikan bahwa sebetulnya kerajaan Perlak sudah lebih dahulu ada, tapi tampaknya kerajaan Samudera Pasai lebih kuat secara militer maupun secara kepemilikan komoditas. Bagaimana kemudian hubungan dengan kerajaan Perlak?. Hal Itu ternyata diikat oleh perkawinan karena ada bukti bahwa salah seorang Sultan Pasai menikah dengan puteri raja Perlak. Saya bisa mengatakan ini adalah sebuah perkawinan politik dan menjadi pengikat persahabatan antara dua kerajaan ini.” (Prof. Dr. Nina H. Lubis)

Makam .jpg

Makam Sultan Alaidin

Beberapa sarjana beranggapan bahwa kisah Syi’ah-Sunni seperti yang tergambarkan dalam Kerajaan Perlak itu lebih dipengaruhi oleh suasana ketegangan politik kontemporer antara dua mazhab Islam tersebut. Namun, anggapan ini terbantahkan mengingat bahwa ketiga seminar sejarah masuknya Islam ke Indonesia tersebut diselenggarakan jauh sebelumnya, yaitu pada tahun 1967, 1978 dan 1980. Bahkan, sebelum ketiga seminar nasional tersebut, M. Jamil Djamil seorang pakar sejarah Aceh, dalam pekan kebudayaan Aceh pada tahun 1959 mengungkapkan bahwa Islam telah masuk ke Perlak pada tahun 790 Masehi. Beliau merujuk kepada kitab Zubdatul Tawarikh karya Nurul-Haq Al Masyriqiyal-Duhlawy, dan kitab Idharul-Haq Fi Mamalakatil Felah wal Fasi karya Abul-Ishaq Al-Makrany.

“Dalam catatan-catatan yang ada di Samudera Pasai disebutkan bahwa ulama-ulama dari Pasai bekerjasama dengan ulama-ulama dari Perlak untuk menyebarkan Islam ke daerah lainnya di Nusantara, baik langsung maupun melalui Malaka.” (Prof. Dr. Nina H. Lubis)

Dikutip dari buku Menguak Akar Spiritual Islam Indonesia, Peran Ahlulbait dalam Penyebaran Islam di Nusantara.
Penulis TIM ICRO dan Tim ACRoSS 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top