Wednesday , November 20 2019
Breaking News
Menimbang Nasib Pengungsi Syiah Sampang Pasca Pilpres

Menimbang Nasib Pengungsi Syiah Sampang Pasca Pilpres

Sampai kapan warga Muslim Syiah Sampang akan menjadi pengungsi di negerinya sendiri? Benarkah nasib mereka telah dilupakan pemerintah dan sorotan media, bahkan mungkin oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang lebih sibuk memantau kampanye Pilpres atau gelaran Piala Dunia jauh di Brazil sana?

Debat Capres-Cawapres sudah dua kali digelar. Tema seputar demokrasi, HAM, pemerintahan bersih dan penegakan hukum sengit diperdebatkan. Tapi sayangnya, tak satu kubu pun bicara pemulihan hak-hak para pengungsi Syiah Sampang yang sudah hampir dua tahun terusir dari kampung halamannya sendiri. 

Beruntung pada Rabu (18/6) lalu, Serikat Jurnalis Untuk Keberagamaan (SEJUK) menyelengarakan acara membincang visi-misi Capres 2014 terkait “Masa Depan Kebebasan Beragama & Berkeyakinan” dengan mengundang perwakilan tim sukses masing-masing kandidat Pilpres 2014.

Hadir dalam acara yang digelar di bilangan Menteng tersebut, sosiolog Kastorius Sinaga, mewakili kubu Prabowo. Sedangkan dari kubu Jokowi diwakili aktivis kemanusiaan, Musdah Mulia.

Saat ABI Press wawancarai, Kastorius memaparkan bahwa kubu Prabowo akan memikirkan aspek kemanusiaan, kelayakan hidup pengungsi di samping menjaga kesejahteraan mereka. Kubu Prabowo pun menurutnya akan mencarikan resolusi terbaik yang permanen dengan berbasis pada dialog serta kesepakatan bersama.

Sementara Musdah Mulia mewakili kubu Jokowi, senada pernyataan kubu Prabowo juga menegaskan bahwa semua warganegara harus dimanusiakan, begitu pun halnya pengungsi Syiah Sampang sebagai warganegara Indonesia yang tentu wajib dilindungi hak-hak hidupnya oleh negara.

Tim ABI Press pun menanyakan lebih jauh tentang komitmen masing-masing kubu kandidat tentang kemungkinan memulangkan para pengungsi.

“Kondisi tersebut sangat teknis,” jawab Kastorius. Meski begitu, dia menjelaskan, bahwa dalam visi-misi Prabowo telah disebutkan: siapa pun warganegara Indonesia tanpa pengecualian, tanpa sikap diskriminatif mesti menjadi tanggung jawab negara untuk melindungi mereka.

Sementara jawaban Musdah Mulia ketika kami tanyakan apakah akan memulangkan para pengungsi Syiah Sampang, dia tegas mengatakan, “Oh ya! Tentu saja! Masak mereka mau jadi pengungsi seumur hidup di negeri sendiri?” tanya Musdah. ” Ya ndak mungkin lah, itu kan tidak manusiawi,” lanjutnya.

Komitmen capres-cawapres terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan sangat penting, sebab selama 15 tahun pasca reformasi, kekerasan akibat diskriminasi terus meningkat. Yayasan Denny J.A mencatat, dalam kurun waktu tersebut, lebih dari 10.000 orang meninggal akibat kekerasan diskriminasi. Ironisnya, dalam 2.398 kasus yang terjadi, 65% di antaranya adalah akibat kekerasan berlatar intoleransi beragama sebagaimana yang menimpa komunitas warga Muslim Syiah Sampang. (Lutfi/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top