Friday , December 6 2019
Breaking News
Menyelami Arti Keris Bagi Masyarakat Jawa

Menyelami Arti Keris Bagi Masyarakat Jawa

kerisSebagai miniatur Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menyimpan banyak ragam kekayaan budaya yang tak ternilai harganya. Salah satunya adalah Museum Pusaka yang terletak di antara Museum Keprajuritan Indonesia dan Taman Akuarium Air Tawar di jalur Selatan TMII.
 
Museum seluas lapangan bola yang di atasnya terdapat replika keris berukuran besar menjulang tinggi itu menyimpan berbagai jenis pusaka mulai dari tombak dan senjata milik para Wali Songo, hingga berbagai jenis keris, dari zaman pra-Islam hingga Islam masuk ke Indonesia.
 
Keris yang merupakan senjata tikam sejenis belati memiliki bentuk khas yang tidak simetris, dengan bagian pangkal melebar dan ujung meruncing. Selain itu, pembeda keris dengan senjata lainnya adalah guratan-guratan logam cerah pada helai bilahnya yang dikenal dengan pamor.
 
Pamor keris merupakan hiasan atau motif pada bilah keris yang dibentuk dengan cara ditempa untuk menyatukan beberapa unsur logam yang berlainan sehingga akan membuahkan motif tertentu pada keris. Teknik tempa ini hanya dikuasai oleh para Empu dari Nusantara.
 
Bagi tradisi Jawa, keris bukan hanya sebagai senjata untuk bertarung jarak dekat tapi juga merupakan sebuah atribut keprajuritan, kelengkapan busana adat Jawa untuk menghadiri sejumlah upacara seperti upacara adat, perkawinan atau pada saat menghadap raja.
 
Dalam adat Jawa, keris juga dapat digunakan sebagai wakil mempelai pria dalam upacara perkawinan jika mempelai pria berhalangan hadir karena sakit atau menjalankan tugas negara. Sehingga keris mempelai pria disandingkan dengan mempelai pengantin wanita di pelaminan. Tapi prosesi semacam itu sudah jarang dilakukan saat ini.
 
Keris juga digunakan sebagai lambang persaudaraan yang biasanya diserahkan oleh calon mertua kepada calon mempelai pria sebagai lambang penyerahan tanggung jawab kepada calon suami dari gadis yang akan dinikahinya. 

Keris juga sering dipilih sebagai cinderamata, seperti yang biasa dilakukan oleh para pejabat negara usai menyambut tamu kenegaraan.
 
Bahkan keris juga digunakan sebagai alat untuk menghukum mati seseorang.
 
Hal lebih menarik lagi adalah terkait kegemaran suku bangsa Jawa berfalsafah dan berolah batin yang dituangkan dalam bentuk-bentuk keris, sehingga setiap keris berserta perlengkapannya dianggap memiliki nilai falsafahnya masing-masing.
 
Misalnya sebuah keris ber-dhapur Brojol mengandung falsafah dan harapan agar semua yang direncanakan oleh pemilik keris dapat terlaksana dengan lancar. 

Pada keris tertentu kadang dibuat juga tanda-tanda untuk mengingat sebuah peristiwa penting seperti pergantian kepemimpinan, kisah percintaan, dan lain-lain.
 
Sebegitu pentingnya keris dalam kehidupan masyarakat Jawa, terutama bagi laki-laki, hingga muncul semacam prinsip atau “pegangan hidup” yang mengatakan bahwa seorang laki-laki Jawa belum lengkap hidupnya jika belum memiliki Curiga (keris), Turangga (kuda), Wisma (rumah), Wanita (istri), dan Kukila (burung).
 
Pembaca dapat menyelami lebih dalam tentang keris dan pusaka warisan para leluhur dari seluruh Nusantara dengan mengunjungi Museum Pusaka di TMII. Cukup membayar tiket masuk seharga 10.000 rupiah, pengunjung sudah dapat mengenal jati diri bangsanya melalui pusaka-pusaka yang terpajang rapi di museum itu. (Lutfi/Yudhi) 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top