Tuesday , October 22 2019
Breaking News
Menyelesaikan Permasalahan Radikalisme dalam Perspektif Imam Ridho As

Menyelesaikan Permasalahan Radikalisme dalam Perspektif Imam Ridho As

Jakarta, Minggu 20/1/19 -Bertepatan dengan Pembukaan Short Course di Islamic Cultural Center Jakarta diadakan juga Pembukaan Seminar Internasional Imam Ridho serta dialog antar agama. Acara ini menghadirkan Ahmad Hidayat sebagai Sekretaris Jenderal DPP Ahlulbait Indonesia, Agus Muhammad dari Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, dan dua pembicara dari Iran yang mengupas bagaimana menyelesaian permasalahan radikalisme menurut perspektif Imam Ridho as.

Mahmud Waizi, pembicara dari Republik Islam Iran menceritakan perihal kehidupan Imam Ridho. Menurutnya kehidupan Imam Ridho adalah periode emas yang penuh dengan pelajaran dan ibrah bagi kita semua. Karenanya kita harus mengkaji dan menelusurinya. Imam Ridho menghadapi kelompok-kelompok yang mewarisi pemikiran-pemikiran ateis, zindiq, kafir, dan munafik. Imam Ridho adalah orang yang moderat, penuh kesabaran dan toleransi saat berhadapan dengan kelompok-kelompok yang beragam model pemikiran yang jelas tidak sepemahaman dengannya.

Beberapa padanan kata moderat, yaitu i’tidal (adil), hanif, bukan ektrim kanan dan bukam ekstrim kiri, tidak terlalu ketat dan tidak pula terlalu longgar. Banyak ayat yang menyebutkan tentang moderat ini, salah satunya adalah ayat yang biasa kita baca dalam sholat kita sehari-hari. Ayat ihdina asshirathal mustaqim menunjukkan bahwa kita meminta untuk ditunjukkan jalan yang tidak melenceng ke kanan dan tidak melenceng ke kiri. Ini adalah jalan moderat.

Baca juga Mewaspadai Radikalisme pada Generasi Milenial

“Saya akan menunjukkan bagaimana pendekatan Imam Ridho mempropagandakan sikap moderat. Untuk menghadapi peradaban manusia di zaman sekarang, kita harus mengedepankan cara berpikir kritis dalam berbicara dan bertindak. Cara ini juga yang bisa digunakan untuk menghadapi radikalisme.” ungkapnya

Untuk menghadapi radikalisme Mahmud Waizi menjabarkan, bahwa dengan bersikap moderat yang bisa dimunculkan;

Pertama, dengan mengedepankan Alquran, hadis dan aka sehat.

Cara kedua, adalah mencari persamaan dan mengedepankan persatuan saat kita menghadapai kelompok-kelompok yang bahkan berbeda agama dengan kita. Ada hadis yang cukup tegas mengatakan bahwa barang siapa yang mengganggu persatuan umat maka jika ia mati, ia mati dalam keadaan jahiliyah.

Ketiga, ketika Imam Ridho diungsikan dari Madinah ke Marwah, ia menerimanya karena ingin mengajarkan ke masyarakat sikap moderat.

Terakhir, mengadakan dialog dengan orang lain tanpa perlu mengajak orang lain agar mengikuti pemahaman kita. Karena boleh saja orang berbeda dengan kita dan anggap itu sebagai khazanah bagi kita. Yang menjadi masalah sekarang adalah orang berbicara untuk mengajak mereka menerima apa yang kita sampaikan bahkan meski dengan paksaan.

“Pandangan-pandangan yang menjadi ajaran pokok para Imam Ahlulbait, akan menunjukkan bahwa Islam akan menjadi pusat kebangkitan peradaban di masa yang akan datang.” Tutupnya.

Muhsin Al Husaini al Faqih berbicara tentang Agama dan rasionalitas dalam mencegah radikalisme. Kita bisa katakan bahwa tidak  ada agama yang mengajak umat untuk menggunakan akal dan pikirannya sebagaimana Islam ajarkan. Alquran menyebutkan afala ta’qilun, tatafakkarun, yatadabbarun, dan lain sebagainya.

Dan disebutkan bahwa tujuan utama Islam diturunkan adalah untuk membimbing jalan yang lurus dan untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, juga menjelaskan hak kebenaran itu apa adanya. Oleh karena itu tidak ada pemaksaan dalam ajaran Islam. Ada kebebasan untuk memilih , imma syakuran aw imma kafuran. La ikraha fiddin.

Dalam Islam, teman setiap orang adalah akalnya. Dan musuh setiap orang adalah kebodohannya.

Dalam Islam, teman setiap orang adalah akalnya. Dan musuh setiap orang adalah kebodohannya. Alquran mengurai tentang bagaimana proses penciptaan nabi Isa yang sama sebagaimana penciptaan Adam yang diciptakan dari tanah. Satu bentuk penalaran yang juga menjadi bantahan bagi siapa yang menuhankan nabi Isa. Kemudian Allah menyebutkan andai ada Ilah selain Allah, maka akan terjadi kehancuran. Ini adalah contoh-contoh burhan atau argumentasi yang disebutkan dalam Alquran.

Baca juga Biografi Singkat Imam Ali Ar-Ridha a.s.

Adapun yang terkait dengan sirah Imam Ridha, akan disampaikannya dalam 3 poin. Pertama, Imam Ridha menghadapi kelompok yang cenderung ke kanan atau ke kiri. Misal ketika Imam Ridha menghadapi masalah ghuluw (menganggap selain Allah sebagai Allah). Ahlulbait yang memiliki kedudukan yang paling dekat dengan Alquran, sebagaimana disebut dalam hadits Tsaqolain. Namun sebagian orang mendudukkan Ahlulbait lebih dari Alquran, dan sampai tingkat menuhankan Ahlulbait. Mereka inilah yang juga menjadi masalah yang harus dihadapi oleh Imam. Imam menukil hadits, ada dua kelompok orang yang mencelakakanku padahal aku bukan pendosa. Dua orang itu adalah mereka yang mencintaiku, tetapi mereka ekstrim dalam mencintaiku. Yang kedua adalah mereka yang membenciku, tetapi mereka ekstrim dalam membenciku.

Kedua, Imam Ridha melakukan dialog dan debat ketika menghadapi orang-orang di lingkungannya. Imam mengedepankan akal saat berdialog dengan kaum Nasrani, Yahudi, Majusi, bahkan kepada Zindiq sehingga mereka dapat menerimanya.

Ketiga, mengedepankan sikap moderat sebagai salah satu cara untuk menghadapi sikap ekstrim atau radikal dalam beragama. Dan saya akan menyebutkan beberapa hadis. Contohnya adalah moderat dalam kehidupan sosial bermasyarkat. Imam Ridha ditanya tentang bagaimana mengatur rumah tangga. Beliau menyebutkan dua hal yang ditolak  / dibenci dalam Alquran. Yaitu, penolakan terhadap sikap mubazir dan bakhil. Saat kita mendengar berita yang tidak benar, kita tidak boleh menghadapinya dengan marah. Dan saat kamu memiliki janji dengan siapapun, maka kita harus memenuhinya. Kita juga dianjurkan untuk berendah hati kepada teman dan keluarga, menghindari permusuhan, dan tampakkan wajah yang gembira. Sebuah hadis yang terkenal dari Imam Ridha adalah bahwa kita diminta bergaul agar saat kita mati, mereka menangisimu dan jika kita ada mereka gembira.  (Aba Haidar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top