Thursday , October 24 2019
Breaking News
Metode Pendidikan “Design for Change”

Metode Pendidikan “Design for Change”

Apa yang Anda rasakan bila pulang sekolah anak Anda berkata: “Aku tidak becus!, “Aku tidak bisa!”, atau kalimat lain yang merefleksikan keputusasaan? Tentu sedih dan getir. 

Bagaimana mungkin seorang anak yang sejatinya sinonim dengan pengharapan dan impian, malah mengimani keputusasaan dan ketakbecusan? 

Itu yang terjadi pada Kiran Bir Sethi. Saat anaknya menyatakan kalimat tersebut sepulang sekolah, Kiran pun langsung bergerak. Berbekal studinya dalam bidang  design  atau rekacipta dan dukungan keluarga orangtuanya yang juga perekacipta, Kiran kemudian menggagas  Sekolah Riverside  di kota Ahmedabad, India, di tahun 2001.
 
Tujuan Kiran yang utama adalah: anak belajar menyelesaikan masalah dengan pemikirannya sendiri, sehingga mereka dapat berujar “Aku bisa!” atau “Aku becus!”.
 
Konsep yang diterapkan Kiran pada Sekolah Riverside adalah  Design for Change (Berpikir Rekacipta). Yaitu rumusan empat langkah: merasakan-mengkhayalkan-mewujudkan-membagikan. 

Pendekatan yang dilakukan, pertama, kelompok anak menemukan masalah di lingkungannya yang mereka  rasa  perlu untuk diselesaikan. Kemudian mereka  mengkhayalkan  kemungkinan jawaban untuk permasalahan tersebut. Kadang, jika perlu, mereka berdiskusi dengan orang dewasa. Dan sesudah dirasa matang, mereka  mewujudkan  jawaban tadi dan diujicobakan secara nyata. Setelah berhasil, mereka  membagikan  cerita keberhasilan itu melalui berbagai media.
 
Dengan kata lain, Kiran Bir Sethi ingin membentuk sebuah pendidikan yang menyenangkan bagi anak,  tidak kaku,  dan memberi ruang bagi siswa untuk melejitkan potensi-potensi yang ada dalam diri siswa.
 
Pendidikan melalui pendekatan  Design for Change  ini telah diterapkan di 35 negara di dunia dan kini giliran Indonesia.
 
Akhir pekan Agustus ini, Kiran Bir Sethi datang ke Indonesia untuk berbagi tentang Design for Change.
 
Sabtu (29/8) Kemendikbud beserta media patnernya mengadakan seminar Design for Change di Graha Utama Gedung A Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan menghadirkan Kiran Bir Sethi sebagai salah satu pembicara.
 
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan turut hadir dan menjadi salah satu pembicara dalam seminar itu. Menteri Anies memaparkan salah satu kunci bagaimana pendidikan itu memberikan ruang bagi potensi anak untuk tumbuh, memberikan rangsangan dan percaya diri pada anak-anak untuk tumbuh.
 
“Sekitar dua bulan lalu kita melihat ada anak menerima hadiah Nobel namanya Malala, lalu saya sempat bertemu, lalu teringat kata ayahnya ketika ayahnya ditanya, kenapa Malala bisa seperti ini? Apa jawab ayahnya? ‘Karena saya tidak memotong  sayapnya’. Anak tumbuh dengan sayap, dengan potensi, dan kitalah yang memunculkan percaya dirinya. Memunculkan keyakinan, membuat suasana yang memungkinkan potensi anak itu tumbuh dan berkembang,” kata Anies Baswedan.
 
“Salah satu yang menghalangi potensi kita seringkali karena pandangan kita yang sempit bagaimana mendidik anak atau bagaimana cara kita menilai apa yang kita didik pada anak-anak,” imbuhnya.
 
“Ki Hajar Dewantara mengatakan, sekolah itu seperti taman, tempat belajar yang tantangannya menyenangkan. Taman itu penuh dengan tantangan tapi menyenangkan. Saya rasa sekarang tanggung jawab kita bagaimana mengembangkan sekolah-sekolah kita menjadi tempat-tempat belajar yang menyenangkan. Kalau tantangannya terlalu rendah, anak-anak tidak akan tertarik. Atau jika terlalu tinggi, anak-anak bisa frustasi. Jadi dengan tantangan yang terukur, yang sesuai dengan usia, potensi, kesempatannya dan diberikan dosis yang tepat, insya Allah anak-anak kita bisa tumbuh,” papar Anies Baswedan.
 
Di sela acara, dua anak SD dari Sekolah Kembang, yaitu sekolah yang telah menerapkan Design for Change di bawah komunitas Taman Gagasan Anak di Jakarta, mempersembahkan projek mereka.
 
Dihadiri pula Prof. Iwan Pranoto (Guru Besar Matematika ITB dan Atase Pendidikan & Kebudayaan KBRI New Delhi, India) selaku pembicara, seminar ini diakhiri dengan peluncuran buku berjudul “Aku Bisa!” yang diterbitkan oleh Noura Books. Penulisan buku ini juga terinspirasi oleh metode pendidikan Design for Change Kiran Bir Sethi. (Malik/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top