Saturday , October 19 2019
Breaking News
Motivasi Pencarian Agama

Motivasi Pencarian Agama

Salah satu keistimewaan manusia di atas makhluk lainnya, yaitu adanya motivasi fitriah untuk mengenal hakikat dan mengetahui berbagai realitas. Fitrah ini mulai tampak sejak masa kanak-kanak sampai akhir usianya. Ia yang lebih dikenal juga sebagai rasa ingin tahu (kuriositas) dapat mendorong seseorang untuk mcncari agama yang benar dan memikirkan berbagai persoalan yang bersangkutan, antara lain:

  • Apakah ada wujud lain yang bersifat nonmateri dan gaib?
  • Jika memang ada, apakah ada hubungan antara alam gaib dengan alam materi ini?
  • Jika benar terdapat relasi di antara keduanya, apakah wujud nonmateri itu sebagai Pencipta alam materi ini?
  • Apakah wujud manusia itu terbatas pada badan fisikal ini saja?
  • Apakah hidupnya terbatas pada kehidupan di dunia ini? Ataukah ada kehidupan lain?
  • Apabila kehidupan lain itu ada, apakah ada hubungan di antara kehidupan duniawi ini dan kehidupan ukhrawi?
  • Apabila hubungan itu ada, persoalan-persoalan duniawi apakah yang dapat menentukan urusan akhirat?
  • Apakah cara untuk mengetahui tata hidup yang benar, yaitu sistem yang dapat menjamin kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun di akhirat kelak?
  • Dan yang terakhir, berupa apakah sistem dan undang-undang tersebut?

Dengan demikian, naluri rasa ingin tahu itu merupakan motivasi utama yang mendorong seseorang untuk mencari berbagai persoalan, termasuk yang berkaitan dengan agama.

Motivasi kedua yang juga begitu kuat membangkitkan keinginan seseorang untuk mengetahui berbagai hakikat adalah rasa ingin memenuhi berbagai kebutuhan yang ada hubungannya dengan satu atau beberapa fitrah selain fitrah rasa ingin tahu. Berbagai kebutuhannya itu tidak dapat terealisasi kecuali dengan memperoleh pengetahuan tertentu.

Maka itu, berbagai kenikmatan dan kesenangan materi duniawi itu baru akan dapat dicapai dengan cara mengerahkan pikiran dan pengetahuan. Sedangkan pengetahuan empiris seseorang akan sangat membantunya untuk memenuhi berbagai kcbutuhannya. Jika agama itu dapat membantu pula untuk memenuhi segala kebutuhannya dan meraih kesenangan dan keuntungan yang diinginkan serta melindungi dirinya dari bahaya yang mengancamnya, tentunya agama itu pun akan menjadi elemen utama di dalam kebutuhan hidupnya.

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa fitrah mencari keuntungan, kebahagiaan dan rasa aman dari marabahaya merupakan pendorong bawaan lainnya untuk mencari agama. Akan tetapi, mengingat pengetahuan yang berhubungan dengan hal ini banyak sekali, belum lagi syarat-syarat untuk mengetahui semua hakikat itu tidak mungkin dapat terpcnuhi, maka sangat mungkin seseorang itu akan memilih masalah dan persoalan yang paling mudah untuk dipecahkan, yang paling banyak keuntungan materinya. Untuk itu, dia akan memilih jalan yang paling dekat untuk sampai kepada tujuan yang diinginkannya dan menghindar dari usaha mencari kebenaran agama, yang dia yakini bahwa hal itu sangat rumit dan sulit untuk dipecahkan, atau dia meyakini bahwa masalah-masalah agama itu tidak akan membuahkan basil yang berarti.

Atas dasar itu, kami perlu menjelaskan betapa pentingnya pengaruh masalah-masalah agama. Lebih dari itu, mencari masalah apa pun selain agama tidak akan memiliki nilai sebesar nilai yang dikandung oleh masalah-masalah agama.

Kita perhatikan bahwa sebagian ahli psikologi meyakini bahwa beragama dan beribadah kepada Allah itu sebenarnya satu kecenderungan fitriah tersendiri, yang basisnya disebut sebagai rasa beragama. Mereka menempatkan rasa beragama sebagai naluri keempat manusia, di samping naluri rasa ingin tahu (kuriositika), rasa ingin berbuat baik (etika) dan rasa ingin keindahan (estetika).

Selain mengandalkan bukti-bukti sejarah dan data-data arkeologis, para pakar itu pun menemukan bahwa rasa bcragama dan beribadah kepada Allah adalah fenomena yang merata dan umum pada setiap generasi manusia sepanjang sejarah. Fenomcna ini adalah bukti kuat bahwa ihwal beragama merupakan sebuah naluri dan fitrah manusia.

Keumuman naluri beragama ini tidak berarti bahwa hal itu senantiasa ada dan hidup dalam diri setiap orang yang lalu mendorongnya secara sadar kepada tujuan-tujuannya. Akan tetapi, sangat mungkin fitrah itu tertimbun di kedalaman jiwanya lantaran faktor-faktor yang melingkupinya dan pendidikan yang tidak benar, atau dia menyimpang dari jalan yang lurus, sebagaimana hal-hal ini pun -sedikit atau banyak- bisa menimpa naluri dan kecenderungan bawaan lainnya.

Berdasarkan pandangan ini dapat kita ketahui bahwa mencari agama merupakan naluri tersendiri pada diri setiap manusia sehingga tidak perlu lagi menetapkan keberadaannya dengan argumentasi. Pandangan ini dapat ditopang oleh dalil-dalil dari al-Quran dan hadis yang berhubungan dengan naluri beragama. Akan tetapi, karena naluri dan kecenderungan semacam itu tidak dapat dirasakan secara langsung, sangat mungkin seseorang akan mengingkari keberadaannya dalam dirinya pada saat dia melakukan perdebatan.

Oleh karena itu, kami tidak sepenuhnya bersandar pada pandangan ini. Kami hanya akan membahas dan menjelaskan Pentingnya mencari agama yang berdasarkan argumentasi-argumentasi akli.

Ayatullah Taqi Misbah Yazdi. Iman Semesta, Merancang Piramida Keyakinan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top