Tuesday , November 19 2019
Breaking News
Mufti Suriah: Konflik di Suriah Bukan Konflik Agama, Apalagi Sunni dan Syiah

Mufti Suriah: Konflik di Suriah Bukan Konflik Agama, Apalagi Sunni dan Syiah

Jakarta, Kamis 1/11/2018 – Seminar kebangsaan bertajuk “Jangan Suriahkan Indonesia!” di Magzi Ballroom Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan, sebagai keynote Speaker Syeikh Dr Adnan al-Afyouni Mufti Suriah sekaligus Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional, Suriah. Dihadiri juga oleh beberapa narasumber seperti Drs. Djoko Harjanto sebagai Duta Besar Indonesia untuk Suriah.

Syeikh Dr Adnan al-Afyouni memulai memberikan tausiyahnya di hadapan peserta seminar yang hadir meramaikan acara.  Syeikh menuturkan bahwa sejak ratusan tahun yang lalu Suriah masih sangat aman, agama itu menyatukan, bukan untuk menciptakan konflik. Krisis Suriah sebenarnya adalah masalah politik yang melibatkan banyak negara. Jadi bukan krisis antar umat beragama, apalagi konflik antara sunni dan syiah.

“Sumber konflik itu disebabkan oleh beberapa hal berikut, Qatar ingin melewatkan pipa gas melalui Suriah, Amerika ingin melindungi atau memberikan keamanan kepada Israel dari potensi serangan Suriah, dan Amerika juga ingin menguasai ladang minyak dan gas di Suriah yang melimpah. Sebelum konflik, Suriah adalah negara paling aman di dunia, bahkan melebihi negara-negara di Eropa. Kebutuhan hidup atau pokok harganya murah. Amat sulit menemui orang-orang miskin di sana. Suriah sangat beragam, terdiri dari bermacam umat beragama tapi tetap rukun dan damai,” paparnya.

“Lalu bagaimana para pemberontak dan negara-negara yang berkepentingan itu bisa menguasai Suriah? agar konflik bisa meluas setelah melihat kondisi Suriah yang aman itu maka digunakanlah isu agama. Banyak negara-negara asing mengirim pemberontak ke suriah. Celah yang dipakai oleh mereka untuk membuat krisis memainkan isu agama, dengan memainkan propaganda agama, di masjid memainkan propaganda agama untuk memecah belah,” ujar Syekh Adnan.

Duta besar Indonesia di Suriah, Djoko Harjanto sempat menceritakan betapa mengerikannya hidup di wilayah konflik itu. Setiap hari ada saja dentuman bom dan suara tembakan tiada henti. Pasukan bersenjata yang bernama Free Syrian Army pada 2011 adalah orang-orang bersenjatayang anti terhadap pemerintah, yang kemudian menjadi cikal bakal berlanjutnya gejolak konflik di Suriah. Kemudian ada demonstrasi, ada pihak-pihak oposisi yang dapat senjata kemudian menyebar ke mana-mana. Kemudian berkobar sebegitu kuatnya, para pemberontak itu menamakan dirinya Free Syrian Army. Dari free army ini lalu muncul lagi Al Nusro, kemudian tahun 2013 baru muncul ISIS.

Djoko pun heran, mengapa banyak orang yang tergiur untuk ikut ISIS, hingga akhir tahun 2014 ISIS masih ada, dan konflik itu luar biasa, Djoko menuturkan memasuki wilayah perang, tugas utama beliau sebagai duta besar adalah untuk melindungi TKI, Mahasiswa dan Staf kedutaan.

“Ketika 2015 saya masuk Aleppo, bukan karena berani, tapi untuk melindungi rakyat kita di sana, banyak juga TKI, mereka butuh perlindungan. Itu tidak semenit pun berhenti itu mortir, senapan, AK47 bahkan bom. Kenang Djoko waktu bertugas dulu di Suriah.” Kenang Djoko

“Dulu sudah ada program pendidikan gratis, mulai dari Taman Kanak-kanak hinggaPerguruan Tinggi. Dan untuk bidang Kesehatan juga dijamin pemerintah, semua jenis penyakit apapun dan bagaimana pun beratnya tanpa terkecuali ditanggung pemerintah. Segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan pokok dipenuhi oleh pemerintah. Tidak ada lagi yang bisa dimainkan di Suriah kecuali celah agama, mereka melakukan fitnah
melalui agama,” tambahnya.

“Pelajar dan mahasiswa yang belajar di sana berasal dari lebih 60 negara, diantaranya dari Indonesia. Saya sangat terkesan dengan pelajar asal Indonesia karena tetap berada di Suriah sejak awal-awal konflik. Saya waktu itu menawarkan kepada para pelajar ,jika ingin kembali ke negara masing-masing silahkan. Tapi jika ingin tetap di Suriah, maka pemerintah Suriah akan melindungi dan menjaganya sesuai kemampuan yang dimilikinya.” Papar Syeikh Dr. Adnan Al Afyouni.

Menurut Dr, Syeikh Adnan Al Afyouni ciri-ciri orang beragama adalah selalu menyandarkan semuanya kepada Allah SWT setelah berikhtiar atau berusaha. Dan khusus pelajar Indonesia sangat diapresiasi oleh Syeikh, dengan berbagai cobaan dan konflik yang telah dialami oleh Suriah, Indonesia adalah sahabat sejati Suriah. Dan untuk rekonsiliasi, Presiden Bashar Asad siap memberi maaf pada warga negaranya yang telah ikut memberontak. (dh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top