Sunday , June 7 2020
Breaking News
Muhsin Labib: Pemberhalaan Makam Para Wali Ala ISIS Itu Firaunisme

Muhsin Labib: Pemberhalaan Makam Para Wali Ala ISIS Itu Firaunisme

Berhala ala ISIS (Buku SKI Bermasalah)Minggu ini, umat dan jajaran pendidikan Islam dikejutkan adanya Buku pedoman Guru Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VII Madrasah Tsanawiyah yang di dalamnya memuat konten yang menyatakan bahwa “Berhala sekarang ini adalah kuburan para Wali.” Hal ini tentu saja menodai wajah Islam Indonesia dan telah melecehkan kehormatan para Wali yang telah berjuang menyebarkan Islam hingga menjadi agama mayoritas di Indonesia.

Terkait masalah ini, ABI Press mewawancarai Dr. Muhsin Labib, MA, untuk mengetahui pandangan-pandangannya terhadap upaya stigmatisasi “pemberhalaan” makam para Wali tersebut.

Berikut hasil wawancara kami.

Terkait buku pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang memuat pernyataan bahwa makam para Wali itu adalah berhala, bagaimana tanggapan Dr. Muhsin Labib, MA?

Penyebaran paham semacam itu sebenarnya sudah lama terjadi, hanya saja kita baru ribut pada hari ini. Sudah lama ada pembid’ahan, pensyirikan, pengkafiran, intoleransi, takfirisme, penolakan menghormat bendera, juga penghargaan terhadap jasa para pahlawan karena menurut mereka semua orang yang sudah mati itu tak lebih hanyalah bangkai. Namun media kita sibuk meliput ISIS hanya dari sisi keberadaannya sebagai sebuah kelompok atau organisasi, sementara terkait paham ISIS seperti pembid’ahan, pensyirikan, pengkafiran dan seterusnya seperti sudah saya katakan tadi tidak diperhatikan. Padahal justru itulah benih awal dari kemunculan ISIS itu sendiri.

Lha ini sekarang kita temukan pemahaman itu dalam buku pelajaran sejarah. Ini merupakan cara sistematis pemeluk paham ISIS yang ibaratnya ingin merusak kita dari sumbernya, bukan lagi dari air minum galon kita. Sedangkan kita baru heboh ketika itu terbongkar, padahal boleh jadi semua itu sudah berjalan lama, dan dalam benak anak-anak kita sudah tertanam paham seperti itu. Sadar atau tidak, ternyata kita telah menyerahkan anak-anak kita untuk ditanami pemahaman-pemahaman ala ISIS.

Mengapa paham ISIS yang membid’ahkan dan mengkafirkan seolah bisa diterima di masyarakat kita?

Ya boleh jadi karena selama ini kita lalai. Di tivi-tivi kita malah ada slot acara untuk membid’ahkan ziarah kubur dengan menampilkan tokoh agama yang membid’ahkan tindakan kaum Muslimin yang pada saat-saat tertentu sudah terbiasa menziarahi makam, artinya apa? Paham ISIS sudah masuk ke semua lini, cuma tidak disadari oleh masyarakat kita. Karena biasanya masyarakat awam itu cenderung melihat agama secara simbolik. Karena secara simbolik lebih mudah dilihatnya mana yang lebih ‘Islami.’ Mereka yang memakai baju-baju Islami pun kemudian mensyirikkan apa yang  dilakukan oleh Muslim yang lain. Mengapa mereka mensyirikkan Muslim yang lain? Karena menurutnya, diri merekalah yang paling bertauhid. Mengapa menganggap dirinya paling bertauhid? Karena yang tidak sama dengan dirinya itu kafir. Orang-orang yang disebut syirik itu berarti kafir, karena level tertinggi dari kekafiran itu adalah syirik.

Mereka ini menganggap dirinya paling bertauhid, sehingga semua prilaku yang tidak sama dengan mereka dianggap syirik. Orang yang dianggap syirik sama saja dengan dikafirkan, karena syirik itu adalah level tertinggi dari kekafiran. Dan karena dikafirkan, sah darahnya, halal darahnya untuk ditumpahkan. Jadi inillah benih pengkafiran, benih penolakan terhadap orang yang sebenarnya sudah menerima Islam. Pendeknya, jika sesama umat Islam saja dikafirkan, ya berarti yang beda agama akan lebih kafir lagi namanya. Padahal kesombongan paling besar itu adalah mensesatkan orang. Sombong karena harta itu masih lumayan, tapi sombong karena klaim kebenaran? Hanya Iblis yang bisa melakukan hal semacam itu.

Apa maksud dari pemberhalaan makam itu sendiri?

Pemberhalaan itu ya menganggap makam itu disembah. Jadi kalau orang melakukan ziarah itu bukan untuk menghormati tapi dianggapnya telah menyembah ibarat kita sembahyang. Sengawur itu. Padahal mana ada orang datang ke makam bawa kembang atau nyekar, sebagai tanda hormat, kemudian kalau 17 Agustus banyak orang ke makam pahlawan naruh karangan bunga, masak hal-hal semacam itu dianggap nyembah? Apakah orang  yang berbicara di kuburan itu berbicara dengan jasadnya? Tentu tidak. Apakah dia minta berkah kepada kuburan? Ndak, dia minta kembali semua kepada Allah. Kenapa itu dilakukan? Ya sekadar wujud sikap lebih ekspresif. Namun tetaplah semua yang diminta itu ditujukannya kepada Allah.

Kalau ada orang yang menyembah, memberikan sifat-sifat ketuhanan kepada yang selain Allah, itu yang namanya syirik. Kalau orang sekadar datang ke makam yang dibaca adalah la ila ha illallah, baca Al-Quran, semuanya ditujukan kepada Allah, masa itu disebut sebagai meminta kepada selain Allah? Ya salah dong. Makanya saya bilang kelompok pembid’ah ini memahami tauhid secara irasional, ndak logis. Ini akibat cuti logika karena tidak menggunakan akal dalam memahami agama. Ketika agama dipisahkan dari akal maka muncullah terorisme dan intoleransi. Karena itu akal dan agama harus selalu beriringan biar tidak muncul sikap-sikap seperti ini.

Apa yang akan terjadi jika paham ISIS ini tidak dihentikan mulai dari sekarang? Apakah akan menjadikan kondisi Indonesia seperti di Irak dan Suriah?

Sangat mungkin, sangat mungkin sekali. Ketika ada orang dianggap beda dengan dia dan dianggap kafir, ya segala macam bisa dilakukan. Ibaratnya, saya bisa melakukan apa saja terhadap anda hanya dengan sekadar saya anggap anda kafir. Karena anda kafir ya mau saya apakan saja boleh, yang awalnya haram menjadi halal. Anda boleh diusir, anda boleh dianiaya, harta anda boleh diambil dan dirampas, bahkan semua, termasuk nyawa anda. Oleh karena itu kalau ada unsur pengkafiran terhadap orang lain, harus disadari bahwa itu adalah paham ISIS. Rakyat semuanya harus sadar, jangan sampai malah toleran terhadap intoleransi. Masyarakat awam jangan awam-awam banget lah dalam memahami Islam. Bahwa Islam itu belum tentu muncul dalam bentuk lahiriah, bisa jadi yang tampilannya baik dan terkesan Islami, sebaliknya pandangan-pandangannya malah ingin mengambil hak orang lain. Indonesia itu negara majemuk, ada perkembangan semua agama, paham-paham selain Islam. Kalau ada orang yang ingin menjadikan negara mengabaikan hak orang lain yang berbeda, lantas apa mau disuruh keluar semua orang yang berbeda?

Cara mereka itu manipulatif, masuk ke wilayah-wilayah yang strategis, seperti media, dunia politik, kurikulum, pendidikan, sekolah-sekolah, lembaga-lembaga zakat, yang ujung-ujungnya kembali ke kelompok mereka sendiri. Kita saja yang dengan kepolosan kita selalu bersangka baik, karena menganggap mereka ahli ibadah, gambarnya Islam, sekolahnya Islami, dan sebagainya. Padahal di sekolah-sekolah itu para anak didik kita didoktrin dengan pandangan-pandangan yang akan menghancurkan bangunan pendidiakn yang sudah dibangun dengan susah payah, dengan darah para pahlawan. Kita lalai, banyak orang yang muncul menolak ISIS, padahal Islamnya sendiri sebenarnya mencerminkan paham ISIS.

Sekali lagi karena kita sibuk dengan simbol ISIS, hingga kita lupa dengan pandangan-pandangan ISIS yang mengkafirkan dan intoleran. 

Adanya materi pemberhalaan makam para Wali mesti dipahami sebagai alarm. Itu langkah awal mereka yang ingin menghancurkan makam para wali tersebut. ISIS itu kan biasanya menghancurkan makam-makam setelah dianggapnya berhala. Setelah berhala dianggap syirik, artinya tahapan pertama dari rencana ISIS sudah dilewati. Kita sedang dihadapkan kepada ISIS dalam bentuk yang sistemik, karena memang tahapannya pertama mempengaruhi pandangan masyarakat, setelah itu baru mereka melakukan aksi-aksinya. Maka jangan heran jika setelah ini, mungkin dalam waktu tak lama lagi, kalau dibiarkan, maka makam para Wali itu akan dihancurkan karena sudah dianggap sebagai berhala. Kalau itu sudah terjadi, maka terlambat bagi kita untuk mencegahnya.

Maka dari itu hendaknya pemerintah jangan membiarkan orang yang mengkafirkan orang lain, jangan ditolerir orang yang memprovokasi, orang yang menyebarkan ujaran-ujaran kebencian, se-‘Islami’ apapun nama kelompok atau organisasinya. Karena negara tidak berurusan dengan keyakinan. Negara berurusan dengan ketertiban, negara berurusan dengan keamanan. Lha kalau ada orang yang mengganggu kepentingan orang lain, mencabut hak kebebasan orang lain, mengganggu kepentingan orang lain dengan pengkafiran, itu berarti negara harus melindungi.

Karena membiarkan pensyirikan, pembid’ahan dan pengkafiran itu lebih berbahaya dari korupsi. Kalau korupsi itu kejahatan sosial, ekonomi. Tapi kalau pengkafiran, itu kejahatan fikiran, lebih dari narkoba, karena ini yang melahirkan terorisme. 

Kita ini seringkali baru mau mengantisipasi ketika tragedi sudah terjadi. Padahal seharusnya benih-benih intoleransi dan terorisme inilah yang harus dihilangkan sehingga tidak perlu ada korban lagi. Namun selalu saja cara berfikir kita menunggu orang melakukan sesuatu baru kita bertindak.

Jadi apa yang seharusnya kita lakukan ?

Jangan gampang terpengaruh oleh simbol-simbol. Telusuri dengan baik. Sementara ada sekolah-sekolah Islam yang baik diberi stigma negatif, dibilang aliran sesat, padahal tidak menyesatkan apapun. Ada sekolah SMA terkenal bagus sekali, pengalaman sistem pendidikannya pun bagus, dituduh sesat, padahal ndak ada itu yang namanya ajaran penyesatan. Kenapa hanya karena mengajarkan orang untuk bersikap toleran, hanya mengajarkan orang agar tidak bersikap intoleran kok malah dianggap sesat? Bayangin saja, sekarang siapa saja yang mau menerima kelompok minoritas pun akan dianggap sesat. Jadi anda otomatis akan dicap sesat karena anda tidak ikut-ikutan menyesatkan. Ini fakta yang terjadi di masyarakat kita. Kalau hal macam itu terus-terusan terjadi, ya siap-siaplah bangsa kita ini hancur.

Sebab itu kita harus sadarkan masyarakat agar berhati-hati pada paham ISIS. Jangan cuma ribut yang namanya simbol ISIS saja. Kalau ISIS yang simbol, begitu kita solid menentang, tentu mereka akan menghentikan penampakan simbol-simbolnya, tapi bagaimana dengan pandangan-pandangannya? 

Kita harus mewaspadainya dalam dua tingkatan untuk persoalan buku sejarah ini. Tingkat pertama intoleransi. Intoleransi muncul dalam bentuk apa? Pensyirikan, pengkafiran, pembid’ahan, pemberhalaan. Bayangin makam-makam para Wali yang berjasa menyebarkan Islam di Indonesia dianggap berhala, ini kan penistaan.

Kemudian harus ditelusuri, siapa yang mencetak buku itu? Jangan hanya sekadar ditarik peredarannya, tapi cari siapa aktor di belakangnya. Kalau tidak berhasil, ini berarti kita kecolongan dan hilanglah wibawa negara kita. Orang  yang menulis sembarangan di Twitter saja bisa dilacak, apalagi menulis buku? Pastinya kan ada timnya yang disuruh untuk nulis dan pasti akan ketemu siapa itu aktornya. 

Jadi percuma kalau cuma bereaksi spontan tapi tak berkelanjutan. Dengan mencabut buku yang sekarang, tidak menjamin masalah selesai. Karena bisa saja buku serupa akan muncul lagi di lain waktu. Itulah pentingnya mencabut pemahaman menyimpang ini dari awal, dari akar paham ISIS ini.

Di sisi lain negara, intelijen harus sadar, jangan ikut-ikutan terpengaruh jadi intoleran. Makanya kita sangat senang kalau Menteri Agama yang sekarang ini memposisikan diri menjadi menteri bagi semua agama, bukan hanya menteri bagi satu agama.

Bagi para orang tua, langkah-langkah apa yang harus ditempuh?

Orang tua harus rajin mengecek pelajaran-pelajaran di tempat anaknya bersekolah, bukunya, semuanya itu harus diteliti dan dipelajari. Waspadai jika ada sekolah yang mensyirikkan hormat bendera, sebab itu salah satu paham ISIS. Nah kalau warga negara tidak boleh menghormati simbol negara, lalu apa arti negara? Padahal kepatuhan itu bisa diekspresikan dalam bentuk penghormatan.

Apa ciri-ciri dari paham ISIS?

Pertama, mereka gampang mengkafirkan, gampang mensyirikkan, membid’ahkan, memberi cap sesat, memberhalakan makam dan yang paling penting intoleran terhadap pandangan yang berbeda dengan mereka.

Yang kedua, mereka ingin mendirikan negara Islam. Kalau negara Islam yang bener itu enak, indah. Tapi kalau tujuannya adalah memaksa orang lain yang berbeda dengan mereka dalam satu sistem yang mereka paksakan pada orang lain, hanya agar orang lain menjadi tidak berbeda dengannya, itu yang berbahaya. 

Makanya jangan hanya terpengaruh dengan nama, tapi coba lebih perhatikan substansinya. Jangan ngomong mengklaim diri Islami tapi tujuannya ternyata memaksa orang lain agar sama dengan apa yang diyakininya sendiri. 

Mengucapkan “Mari kembali kepada Al-Quran dan Sunnah” itu gampang, semua orang Islam juga pasti akan mengikuti Al-Quran dan Sunnah. Tapi bila ternyata yang dimaksud adalah mengikuti Al-Quran dan Sunnah sesuai dengan pemahaman mereka, lalu semua yang tidak mengikuti pemahaman mereka berarti dianggap tidak mengikuti Al-Quran dan Sunnah, dan karena tidak mengikuti Al-Quran dan Sunnah semacam itu, maka kafir. Hal-hal semacam inilah yang ditransfer kepada anak-anak kita, generasi yang akan memegang negara dan bangsa ini ke depan. Itulah yang dilakukan oleh mereka.

Apa pesan-pesan anda bagi seluruh rakyat Indonesia?

Kalau kita masih ingin mencintai bangsa dan negeri ini,  negara Indonesia yang penuh dengan kemajemukan ini. Juga agar kita bisa menikmati suasana keberagaman dan toleransi di negara ini, maka kita harus sadar bahwa fenomena intoleransi itu ada di tengah kita.  Jangan-jangan kita juga tejangkiti olehnya, ketika kita menolak orang lain berbeda dengan kita. 

Saya ingin bilang toleransi itu tidak hanya terkait keyakinan, prilaku, sikap. Ketika kita tidak bisa menerima orang yang beda karakter dengan kita, itu pun intoleransi. Misalkan saja saya dengan anda berbeda karakter, berbeda hobi, berbeda latar belakang, kemudian saya tidak bisa menerima anda, tiba-tiba saya membenci anda, hanya karena apa? Karena anda berbeda dengan saya, ini juga bisa disebut sebagai intoleransi.

Sebaiknya disadari, saat kita harus hidup berdampingan, itu berarti kita harus bisa menerima keberadaan orang lain, menghormati hak-hak orang lain, menerima orang lain berbeda dengan kita.  Dengan itu kita tetap bisa membentuk civil society

Jadi, kalau dalam bermasyarakat masih saja ada yang berusaha menafikkan etika bermasyarakat dan ada yang memaksa orang lain supaya berkeyakinan sama dengan yang dia miliki, ini berbahaya. Ini firaunisme namanya.(Lutfi/Yudhi) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top