Thursday , May 23 2019
Breaking News
Mukmin Formal dan Kafir Informal

Mukmin Formal dan Kafir Informal

Inilah salah satu kata (kafir red) yang telah merenggut banyak nyawa dan memerahkan lembaran sejarah umat Islam dan manusia karena sejumlah faktor. Salah satunya adalah manipulasi frase-frase suci oleh pihak-pihak yang mempertahankan status quo dengan menciptakan pengkafiran mutual untuk pengalihan perhatian.

Kafir; Secara etimologis berarti menutup. Boleh jadi cover dalam bahasa Inggris adalah serapan dari kafara yang pada dasarnya adalah aksi bebas nilai.

Secara terminologis kafir, yang mengikuti wazan (modus) ism fail (kata kerja) didefinisikan sebagai sikap menolak yang berdamping dengan mukmin.

Kafir bisa baik dan bisa buruk tergantung pada objek, alasan dan caranya. Kufur dan iman adalah dua frase yang saling terakit seperti siang dan malam.

Kekafiran positif adalah pengingkaran terhadap yang mesti ditolak. Objek yang harus ditolak meliputi apapun yang tidak sesuai dengan logika dan etika.

Kekafiran positif adalah sikap terpuji. “Sesiapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, sungguh telah memegang tali yang sangat kuat.” (2:256)

Kekafiran negatif adalah penolakan terhadap sesuatu yang harus diterima. Inilah arti yang populer. Ada dua macam kekafiran negatif; kekafiran rasional dan kekafiran emosional.

Kekafiran rasional adalah penolakan terhadap kebenaran (logika). Kekafiran emosional adalah pengingkaran terhadap kebaikan (etika).

Kekafiran rasional itu gradual mulai yang berat seperti menyekutukan Tuhan Pencipta Yang Esa dengan selain Tuhan sampai yang ringan seperti berdusta.

Kekafiran emosional juga gradual mulai dari yang berat seperti memadu cinta kepada Tuhan dengan selain-Nya hingga yang ringan seperti berprasangka buruk.

Sabda Nabi, ”Tidak beriman orang yang tidur dengan perut kenyang sedangkan tetangganya lapar” mengkonfirmasi kekafiran vertikal dan horisontal.

Dengan makna-makna yang kompleks, frase kafir harus dipahami secara komprehensif, karena penganut agama apapun bisa menjadi mukmin juga bisa jadi kafir.

Salah stu ciri orang kafir adalah zalim. Orang yang mengagresi orang lain adalah kafir, sebagaimana ditegaskan dalam Alquran. Walkafiruna hummuzhzhalimun.

Salah satu kekafiran rasional stadium 4 adalah mengkafirkan orang lain yang tidak kafir / belum dipastikan kafir hanya karena tidak sepandangan dengannya.

Pengkafiran adalah cara menghindari dialog fair dengan parameter akal. Pengkafir berhalusinasi bahwa selain dia berencana masuk neraka!. Pengkafiran adalah license to kill dan labelisasi halal diserang, diusir, diusir, bahkan dituduh menodai agama dan dipenjarakan.

Sebagian ulama terutama kalangan non-Syiah, menganggap orang yang tidak beragama Islam sebagai kafir, karena memaknai kufr secara teologis semata. Kalangan skripturalis wahabi malah mendistribusikan dengan obral besar-besaran tuduhan kafir, musyrik dan bid’ah dengan sasaran sesama Muslim.

Teolog-teolog dan filsuf Syiah membedakan kafir teologis dengan non Muslim. Kafir teologis adalah orang yang menolak Islam karena keangkuhan dengan kebencian. Dalam buku “Keadilan Ilahi“, Ibu Theressa dan Descartes dijadikan contoh pembedaan “kafir” secara teologis dengan “non muslim”.

Mukmin formal dan substansial itu berbeda. Kebanyakan orang mengaduknya dalam satu makna. Padahal mukmin formal tidak niscaya mukmin substansial. malah sebagian orang yang terlihat mukmin / dikenal muslim (formal) berperilaku kontra keimanannya dan keislamannya bahkan mencorengnya. Kemukminan substansial adalah iman universal yang berporos pada divinitas dan humanitas melampaui keberimanan institusional (agama). Kemusliman yang merupakan salah satu tahapan keberimanan juga berdimensi formal dan substansial. Formalisme sering juga mereduksi substansi.

Muhsin Labib Assegaf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top