Sunday , October 20 2019
Breaking News
Murthada Muthahari: Penyebab Berpikir Keliru dalam Agama

Murthada Muthahari: Penyebab Berpikir Keliru dalam Agama

Alquran mengajak manusia untuk berpikir dan menarik kesimpulan. Menurut Alquran, berpikir merupakan bagian dari ibadah. Alquran tidak mau kalau orang mempercayai ajaran doktrinal Alquran bukan dari hasil berpikir yang benar. Dalam hubungan ini, Islam memperhatikan satu hal pokok. Islam menunjukkan penyebab berpikir keliru, dan menjelaskan bagaimana cara menghindari kekeliruan dan penyimpangan.

Alquran menyebutkan sejumlah faktor penyebab kekeliruan. Kekeliruan tersebut adalah:

  1. Bersandar Pada Persangkaan, Bukan Pada Pengetahuan yang Pasti. Alquran memfirmankan: “Dan jika kamu menuruti amakebanyakan orang, niscaya mereka akan menjauhkanmu dari jalan yang benar. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka. (QS. al-An’âm: 116)Alquran melarang keras mengikuti persangkaan: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya”. (QS. al-Isrâ’: 36)Para filosof mengakui bahwa persangkaan merupakan penyebab utama kekeliruan. Berabad-abad setelah turunnya Alquran, Descartes menyebut ini sebagai prinsip pertama logikanya, katanya: “Aku baru menganggap sesuatu itu sebagai realitas, kalau sesuatu itu sudah jelas bagiku. Aku tak mau ketergesaan, menghubung-hubungkan gagasan dan kecenderungan. Aku hanya menerima apa yang sudah begitu jelas, sehingga tak ada lagi keraguan tentangnya.”
  2. Prasangka dan Hawa Nafsu
    Jika manusia ingin memberikan penilaian yang benar, maka dia harus benar-benar bersikap adil. Dengan kata lain, dia harus mencari kebenaran saja, dan menerima tanpa segan-segan apa yang telah dibuktikan. Sikapnya harus seperti hakim pengadilan. Seraya menelaah kasus, hakim harus bersikap netral terhadap klaim dua belah pihak. Jika hakim
    berat sebelah kepada satu pihak, maka argumen yang menguntungkan pihak itu secara tidak sadar akan menarik perhatian hakim, dan argumen yang menyudutkan pihak itu secara otomatis akan diabaikan oleh hakim. Hal itulah yang menyesatkan hakim. Jika manusia bersikap tidak netral dan pikirannya berat sebelah, secara tidak disadari maka arah pemikirannya akan condong ke hawa nafsunya dan apa yang disukai hawa nafsunya. Itulah sebabnya Alquran memandang hawa nafsu dan juga bersandar pada persangkaan sebagai sumber kesalahan. Alquran memfirmankan: Mereka hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diingini hawa nafsu mereka. (QS. an-Najm: 23)
  3. Tergesa-gesa
    Untuk mengemukakan pendapat mengenai suatu persoalan, kita harus memiliki bukti yang memadai. Kalau belum ada bukti yang cukup, boleh jadi pendapat yang dikemukakan akan salah. Berulang-ulang Alquran mengatakan bahwa pengetahuan manusia belum memadai untuk mengemukakan pendapat mengenai banyak masalah penting. Misalnya, Alquran memfirmankan: Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (QS. al-Isrâ’: 85)Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Dalam dua ayat Alquran itu, ada dua peringatan Allah untuk manusia. Allah berfirman agar manusia tidak mempercayai sesuatu kecuali tahu betul tentang sesuatu itu (peringatan agar jangan buru-buru percaya). Allah berfirman agar manusia tidak menolak sesuatu, kecuali tahu dengan pasti tentang sesuatu itu (peringatan agar jangan buru-buru menolak). Dalam sebuah ayat, Allah SWT berfirman: Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan mengenai Allah kecuali yang benar? (QS. al-A’râf: 169)Dalam ayat lain Allah SWT berfirman: Yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum ketahui dengan pasti. (QS. Yunus: 39)
  4. Berpikir Tradisional dan Melihat ke Masa Lalu Kecenderungan alamiah manusia adalah cepat menerima gagasan atau kepercayaan yang sudah diterima oleh generasi sebelumnya, tanpa memikirkannya lebih jauh. Alquran Suci mengingatkan manusia agar berpikir independen, dan agar tidak menerima apa pun tanpa menilainya dengan seksama, dan semata-mata karena sudah diterima oleh generasi sebelumnya.Alquran memfirmankan:
    Tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati pada nenek moyang kami. Walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk? (QS. al-Baqarah: 170)
  5. Memuja Tokoh Yang juga menyebabkan terjadinya salah berpikir adalah memuja tokoh. Akibat sangat dihormati, tokoh sejarah dan tokoh kontemporer yang termasyhur mempengaruhi pemikiran dan kehendak orang. Sesungguhnya tokoh-tokoh terkenal mengendalikan pemikiran orang. Orang berpikir seperti pikiran tokoh, dan berpendapat seperti pendapat tokoh. Orang tidak berani beda dengan tokoh, dan karena itu orang kehilangan kemerdekaan berpikir dan berkehendak. Alquran menyeru kita agar berpikir independen, dan agar jangan membabi buta mengikuti orang-orang tua, karena dengan berbuat demikian ada kemungkinan kita akan mendapat nasib buruk. Alquran mengatakan bahwa pada Hari Pengadilan orang-orang  yang sesat akan berkata: Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. (QS. al-Ahzâb: 67)

Disadur dari dari buku Manusia dan Alam Semesta, Murthada Muthahari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top