Wednesday , December 19 2018
Breaking News
Muslim bin Ausajah, Syahid Pertama Peristiwa Karbala

Muslim bin Ausajah, Syahid Pertama Peristiwa Karbala

Muslim bin Ausajah al-Asadi adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw dan merupakan jawara bangsa Arab pada permulaan munculnya agama Islam. Di samping itu, Muslim juga merupakan sahabat Imam Husain as. Ia adalah salah seorang yang syahid pada awal-awal peristiwa Karbala di hari Asyura. Sebelumnya ia merupakan pemimpin pasukan perlawanan Muslim bin Aqil di Kufah kabilah Madzhaj dan Bani Asad. Keluarga Muslim bin Ausajah hadir pula di peristiwa Karbala dan putranya juga syahid di Karbala.

Muslim bin Ausajah turut pula dengan pasukan kaum Muslimin dalam upaya penaklukan Azerbaijan dan tempat-tepat lain. [1] Demikian juga ia adalah sahabat Nabi Muhamad saw, ia banyak meriwayatkan hadis dari beliau. [2] Muslim bin Ausajah adalah orang yang pertama syahid dari penolong setia Imam Husain as syahid pada serangan pertama pertempuran Karbala. [3]

Pada peristiwa Karbala Muslim bin Ausajah mendukung Muslim bin Aqil, memberinya uang dan senjata serta memberikan baiat yang menguntungkan Imam Husain as. [4].

Berdasarkan sebagian nukilan, ketika Muslim bin Aqil masuk kota Kufah, pertama-tama pergi ke rumah Muslim bin Ausajah. Masyarakat Kufah menemuinya di sana dan memberikan baiatnya kepada Imam Husain as. Mereka bersumpah akan membela Imam Husain as hingga titik darah penghabisan baik dengan harta maupun jiwa. Kabar ini sampai kepada Imam Husain as di Mekah dan Imam-pun bergerak menuju Kufah. Muslim bin Ausajah memerankan peranan penting dalam proses ini semua. [5]

Ma’qil, mata-mata Ubaidillah bin Ziyad mengetahui tempat persembunyian Muslim bin Aqil dari Muslim bin Ausajah. [6] Setelah Hani bin Urwah ditangkap, Muslim bin Aqil mengatur prajuritnya dan memilih pemimpin diantara mereka, maka ia memilih Muslim bin Ausajah untuk menjadi komandan bagi kabilah Madzhaj dan Asad. [7]

Setelah kesyahidan Muslim bin Aqil, ia bersembunyi untuk beberapa waktu dan setelah itu ia dan keluarganya pergi menemui Imam Husain as sehingga bisa berkhidmat kepada beliau di Karbala. [8]

Peristiwa Karbala

Dari sebagian riwayat dapat diketahui bahwa istri dan anak-anak Muslim bin Ausajah juga hadir di Karbala. Khalaf bin Muslim Ausajah juga hadir di sisi ayahnya dan dan turut berperang di barisan Imam Husain a.s hingga menemui kesyahidannya. Yang tercatat dalam sebagian sejarah bahwa seorang pemuda keluar dari dalam tenda untuk menolong Imam Husain a.s, kemudian Ibundanya membuntutinya, pemuda ini tidak lain adalah putra Muslim bin Ausajah. [9]

Pada malam Asyura, ketika Imam Husain a.s mencabut baiat atas pengikutnya dan mereka dipersilahkan untuk memilih apakah akan tetap berada di barisan Imam Husain a.s ataukah akan meninggalkan Imam Husain as, maka setiap para penolong Imam Husain as mengemukakan kecintaannya dengan perkataanya sendiri kepada Imam Husain as dan dan bersikeras untuk memenuhi janjinya. Setelah pemuda Bani Hasyim, Muslim bin Ausajah adalah orang pertama kali yang berdiri dan berkata:

“Wahai Aba ‘Abdillah! Apakah kami akan membiarkan Anda sendirian? Kemudian ketika ditanyakan bagaimana kami menjalankan hak Anda di hadapan Ilahi, apa yang akan kami jawab? Tidak, demi Tuhan. Kami bersumpah, tidak akan membiarkan Anda sendiri. Kami tidak akan membiarkan Anda sendiri hingga kutancapkan tombak ke dada-dada musuh, sedemikian kuat aku akan menyabet mereka dengan pedangku hingga pedangku jatuh dari tanganku dan setelah itu jika tidak ada lagi senjata di tanganku, maka aku akan menghujani musuh dengan batu.
Aku bersumpah, aku tidak akan berpisah denganmu hingga Allah swt mengetahui bahwa kami menjaga kehormatan Rasulullah saw tentang Anda. Aku bersumpah jika aku mengetahui akan terbunuh, kemudian akan hidup lagi, akan terbakar, akan kembali hidup dan hal itu akan berulang sebanyak 70 kali, aku tidak akan memisahkan diri darimu hingga aku syahid di barisanmu. Bagaimana mungkin aku tidak akan melakukan itu, padahal aku tahu aku hanya akan hidup sekali saja, kemudian kehormatan dan kesenangan abadi yang akan terjadi?”

Imam Husain as juga berterima kasih kepada masing-masing sahabatnya kemudian kembali ke kemah komandan. [10]

 

Pada Hari Asyura

Syaikh al-Mufid menulis: Pada hari Asyura, Imam Husain a.s menggali parit di belakang perkemahan untuk melindungi perkemahan dari arah belakang, kemudian beliau menyalakan api di dalamnya. Syimr bin

Dzil Jausyan ketika melihat ranting-ranting dan kayu-kayu itu terbakar, berteriak: Hai Husain! Apakah Anda sudah tergesa-gesa dengan api dunia sebelum tibanya hari kiamat?

Imam Husain as berkata, Siapakah itu?

Sepertinya Syimr bin dzil Jausyan. Ia menjawab: Iya.

Imam dengan mengisyaratkan surah Maryam ayat 7 bersabda, Hai anak penggembala kambing! Kaulah yang lebih layak dengan api neraka.

Muslim bin Ausajah berkata: Wahai putra Rasulullah saw! Apakah Anda mengizinkan orang fasik ini aku panah? Ia ada dalam bidikanku dan anak panahku tidak akan melesat.

Imam berkata: Jangan panah dia, aku tidak suka memulai peperangan.! [11]

Poin penting dan patut di perhatikan dalam kehidupan Muslim bin Ausajah adalah syair-syair arif dan pengetahuannya yang bersumber dari kedalaman ma’rifatnya kepada madzhab Ahlulbait dan jalan yang ditempuhnya. Ketika ia bertempur melawan melawan musuh, ia mendendangkan syair ini dengan lirih:

إن تسألوا عنی فإنی ذو لَبَد و ان بیتی فی ذری بنی اسد فمن بغانی حائد عن الرشد و کافر بدین جبار صمد
Apabila mereka bertanya kepadaku, aku berbuat apa? Maka jawablah bahwa keberanianku seperti singa, nasabku Bani Asad,

Siapa yang berbuat dzalim kepadaku, maka ia telah melenceng dari kebenaran dan telah kafir kepada Tuhan yang Maha Kaya. [12]

Syahadah

Imam Husain as bersama dengan Habib bin Mazhahir mendatangi Muslim bin Ausajah, dalam keadaan mandi bersimbah darah dan melewati masa-masa akhir kehidupannya. Imam Husain as bersabda: Wahai Muslim, semoga Allah swt mengampunimu! Kemudian Imam membacakan ayat:

“Maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu; dan mereka sedikit pun tidak merubah (janji merekanya).” [13]

Kemudian Habib pun mendekat ke arah Muslim dan berkata, “Kesyahidanmu merupakan hal yang berat bagiku, tapi aku jamin kau masuk surga”

Kemudian dengan suara lirih Muslim berkata, “Tuhan telah mengabarkan kabar gembira bagimu”.

Kemudian Habib berkata: “Jika kesyahidanku belum dekat, aku senang jika engkau mewasiatkan sesuatu kepadaku segala hal penting sehingga aku akan memenuhi hak agama dan kekeluargaanku”.

Muslim bin Ausajah memberi isyarat kepada Imam Husain a.s dan berkata kepada Habib bin Mazhahir, “Aku wasiatkan kepadamu Aba ‘Abdillah al-Husain, semoga Allah merahmatimu, selama hayat masih ada di kandung badan, tolonglah beliau dan jangan biarkan beliau sendiri hingga Anda akan terbunuh.”

Habib bin Madzahir berkata: Aku akan mengamalkan nasehatmu dan akan membahagiakanmu.” [14] 

Pembunuh Muslim bin Ausajah adalah Muslim bin Abdullah Al-Dzabayi dan Abdurahman bin Abi Khuskarah. [15]

Source: wikishia.net

 

Catatan kaki

  1. Zirikli, Khairuddin, I’lām, jil. 7, hal. 222.
  2. Abu Mikhnaf, Maqtal al-Husain, foot note no. 136-138.
  3. Abu Mikhnaf, Waq’ah al-Thaf, hal. 225.
  4. Al-Qumi, Syaikh Abbas, Nafas al-Mahmum, hal. 120.
  5. Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jil. 8, hal. 163.
  6. Ibnu Mikhnaf, Waq’ah Al-Thaf, hal. 225.
  7. Qurasyi, Mausu’ah Sirah Ahlulbait, jil. 13, hal. 380.
  8. Samawi, Abshār al-Ain, hal. 137.
  9. Hairi, Muhammad Mahdi, jil. 1. Hal. 48.
  10. Sayid bin Thawus, Luhuf, hal. 117.
  11. Mufid, al-Irsyād, hal. 449.
  12. Samawi, Abshār al-Ain, hal. 139.
  13. Qs al-Ahzab, 33.
  14. Sayid, bin Thawus, Luhuf, hal. 133.
  15. Syaikh Abbas al-Qummi, Nafas al-Mahmum, hal. 121.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top