Friday , October 18 2019
Breaking News
Nashibi, Pembenci Keluarga Nabi Saw

Nashibi, Pembenci Keluarga Nabi Saw

Jika kategorisasi Syiah moderat dan Syiah Rafidhah pada perawi hadis dapat diterima, maka hal itu juga dapat berlaku pada perawi hadis dari penganut Sunni. Ada yang moderat di satu sisi dan banyak dari perawi hadis yang mengafirkan Syiah dan melaknat Imam Ali. Namun begitu, perawi hadis yang melaknat Imam Ali justru banyak dijumpai pada Kutub Al-Sittah, padahal jelas-jelas mereka telah mencederai kehormatan seorang sahabat utama sekaliber Imam Ali.

Pengertian Nashibi:

Al-Dzahabi dalam Kitab Siyâr A’lâm Al-Nubalâ menulis, Al-Dzahabi berkata, ”Adapun sesuatu yang menambah keburukannya adalah loyalitas Ibnu Hazm kepada pembesar Bani Umayyah, dari awal hingga akhir. Dan keyakinannya bahwa kepemimpinan mereka itu sah, karena itu, Ibnu Hazm dituduh sebagai nashibi.” (­­­­­­1)

Syuaib Al-Arnaut sebagai penahkik kemudian menambahkan dalam catatan kaki, “Nashibi adalah orang yang membenci Ali ra dan loyal kepada Muawiyah bin Abi Sufyan.”
Menghina dan mencaci sahabat mungkin merupakan “sunnah” yang berasal dari Muawiyah dan Umawiyun. Berikut adalah salah satu bukti kebencian Muawiyah kepada Ali bin Abi Thalib:

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahîh: Dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqas dari ayahnya dia berkata, “Muawiyah telah memerintahkan Sa’ad, apa yang mencegah anda tidak mencaci-maki Abu Turab? (­­­­­­2)

Sementara itu, dalam riwayat lain Rasulullah Saw juga telah menegaskan bahwa siapa saja yang mencaci maki Ali bin Abi Thalib, sama halnya dengan mencaci maki Rasulullah Saw, sebagaimana dinukil oleh beberapa penulis kitab hadis berikut ini:

Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘alâ Al-Shahîhain meriwayatkan beberapa hadis yang mirip redaksinya dan disahihkan oleh Al-Dzahabi, di antaranya adalah: Dari Abu Abdillah Al-Jadali berkata, “Aku bertemu Ummu Salamah ra dan ia bertanya kepadaku, ‘Pernahkah Rasulullah dicaci-maki di hadapan kalian?’ Aku menjawab, ‘Aku berlindung kepada Allah.’ Lalu Ummu Salamah berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Barang siapa mencaci-maki Ali berarti telah mencaciku.’”Ummu Salamah berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Barang siapa mencaci-maki Ali berarti telah mencaci-maki aku, barang siapa mencaci-maki aku berarti telah mencaci-maki Allah.

Dari Abu Dzar ra, Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa taat kepadaku berarti ia taat kepada Allah. Barang siapa durhaka kepadaku berarti ia durhaka kepada Allah. Barang siapa taat kepada Ali berarti ia taat kepadaku. Barang siapa durhaka kepada Ali berarti ia durhaka kepadaku.” (­­­­­­3)

Al-Hakim berkata, ”Hadis ini sanadnya sahih dan keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.”Al-Dzahabi berkata, ”Sahih.”

Tampaknya telah jelas yang dimaksud ucapan Rasulullah Saw tentang pribadi Ali bin Abi Thalib. Sebaliknya Ibnu Taimiyah menggambarkan Ali bin Abi Thalib secara berbeda: Ibnu Taimiyah menyatakan dalam Kitab Minhâj Al-Sunnah,

”Kondisi politik lebih tertata pada masa kepemimpinan Muawiyah daripada masa Ali, karena itu, wajib menganggap para pejabat Muawiyah lebih baik daripada para pejabat Ali.” (­­­­­­4)

Dalam kitab yang sama, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Seandainya dibolehkan bagi Rafidhi untuk mengatakan, sesungguhnya ini (Muawiyah) adalah orang yang mencari kekayaan serta kedudukan, maka Nashibi juga boleh mengatakan Ali adalah orang yang zalim, yang mencari kekayaan dan kedudukan, Ali berperang untuk meraih kekuasaan, sehingga orang Islam berperang satu sama lain, sementara dia belum pernah membunuh orang-orang kafir, dan sepanjang kekuasaannya tidak membawa keberhasilan apa pun bagi muslimin kecuali keburukan dan fitnah dalam agama dan dunia mereka.” (­­­­­­5)

Baca juga  Perawi Rafidhah dalam Shahih Bukhari dan Muslim

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Jika Rafidhi berdalil dengan kepopuleran islamnya (Ali), hijrahnya, serta jihadnya. Maka demikian juga islamnya Muawiyah, Yazid, para khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbas. Salat mereka, puasa dan jihad mereka terhadap orang kafir dan Jika Rafidhi mengklaim salah seorang dari mereka itu munafik, maka orang di luar Rafidhi juga boleh mengatakan munafik (kepada Ali).” (­­­­­­6)

Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya Nabi meninggalkan Ali di Madinah karena kebencian Nabi kepadanya. Jika beliau pergi berperang, beliau menjadikan seseorang sebagai pengganti bagi umatnya, sementara di Madinah saat itu banyak lelaki mukmin yang mampu mengembannya, akan tetapi di perang Tabuk beliau tidak memberi izin untuk siapa pun dan tidak meninggalkan seorang pun melainkan karena dia memiliki alasan tertentu atau telah berbuat maksiat…….dan telah diketahui, sebelumnya Rasulullah Saw telah menjadikan pengganti baginya selain Ali, mereka pun memiliki kedudukan yang sama dengan Ali, karena itu, hal ini bukanlah kekhususan bagi Ali. Jikalau dia adalah pengganti Rasulullah Saw yang paling utama, niscaya dia tidak akan takut serta menyusul Nabi dengan menangis.” (­­­­­­7)

Pernyataan Ibnu Taimiyah dalam membandingkan pengikut Ali dengan selainnya, tanpa disadari sesungguhnya telah mengarah kepada bentuk penghinaan terhadap pribadi Ali bin Abu Thalib. Hal ini terjadi lantaran adanya kebencian serta kedengkian yang ada dalam diri Ibnu Taimiyah. Dan sejatinya ia tak lain adalah guru sekaligus panutan bagi para pengikutnya yang telah berani menuding bahwa Ali adalah seorang munafik.

Bukan hanya itu, komentarnya dalam riwayat di atas juga telah mengatasnamakan orang lain, bahwa Ali tidak diikutsertakan dalam perang Tabuk karena kebencian Rasulullah Saw terhadapnya. Oleh sebab itu, dengan segala sikap Ibnu Taimiyah terhadap Ali tersebut, bukankah gelar yang layak disandang oleh Ibnu Taimiyah adalah Nashibi?

Oleh karenanya, pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimanakah hukum terhadap seseorang yang membenci sahabat Nabi Saw? Sebab, bukankah Ali adalah seorang sahabat, menantu, dan sekaligus salah satu Al-Khulafa Al-Rasyidun? Apakah hal semacam ini yang diajarkan oleh seorang Ibnu Taimiyah?

Tak heran jika seorang Ibnu Hajar kemudian mengkritik dan menolak cara berfikir Ibnu Taimiyah yang dianggapnya sangat berlebihan dan melampaui batas, berikut kutipan dari pernyataan Ibnu Hajar dalam kitabnya: Ibnu Hajar berkata dalam Lisân Al-Mîzân,“….aku melihat Ibnu Taimiyah di dalam bantahannya, banyak yang melampaui batas dalam menyanggah hadis-hadis yang dinukil oleh Ibnu Muthahhar (ulama Syiah), walaupun di dalamnya ba-nyak hadis-hadis palsu, akan tetapi Ibnu Taimiyah banyak pula menyanggah hadis-hadis Sahih….. sering kali pendapat yang berlebihan darinya untuk menyesatkan Rafidhah justru malah mencela keutamaan Ali ra. . .” (­­­­­­8)

Tidak hanya itu, terdapat pula pernyataan yang sama dari Al-Albani tentang pribadi Ibnu Taimiyah ketika berhadapan dengan riwayat keutamaan Ali bin Abi Thalib berikut:
Al-Albani dalam kitab Silsilah Al-Ahâdîts Al-Shahîhah: Sesungguhnya Rasulullah Saw berkata kepada Ali, “Kamu adalah wali setiap orang beriman sepeninggalku (ba’di).”

Al-Albani berkata, “Benar-benar suatu keanehan bahwa Ibnu Taimiyah sangat berani mengingkari hadis tersebut dan mendustakannya dalam kitab Minhaj Al-Sunnah.”. (­­­­­­9)

Al-Albani dalam kitab yang sama juga menyatakan, “Saya melihat Syekh Ibnu Taimiyah telah mendaifkan bagian awal hadis (man kuntu maulah fa ‘Aliyun maulah – keutamaan untuk Ali) sedangkan bagian yang lain, dia meyakininya bahwa hadis tersebut dusta. Ini di antara kesimpulan dan penilaian yang berlebihan dari ketergesa-gesaannya dalam mendaifkan hadis-hadis sebelum dia mengumpulkan dan meneliti jalur-jalurnya terlebih dahulu.”(­­­­­­10)

(Dikutip dari Buku “Syiah Menurut Syiah” Tim Penulis Ahlulbait Indonesia)

 

Catatan Kaki

  1. Al-Dzahabi, Siyâr A’lâm Al-Nubalâ’, tahkik Syuaib Arnauth, j. 18, h. 201, cet. 2, Muassasah Al-Risalah, Beirut, Lebanon, 1982 M, 1402 H.
  2. Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, op.cit., h. 1198, kitab Fadhail Al-Shahabah, bab Fadhail Ali bin Abi Thalib, hadis 6114.
  3. Al-Hakim, Al-Imam Al-Hafiz Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah Al-Nisaburi, Al-Mustadrak ‘alâ Al-Shahîhain, j. 3, h. 130-131, hadis 4615-7, cet. 2, Dar Al-Kutub Al-’Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, 2002 M, 1422. Hadis di atas juga diriwayatkan oleh: Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Al-Imâm Ahmad bin Hanbal, j. 44, h. 328-329, hadis 26748, Muassasah Al-Risalah, Beirut, Lebanon, cet. 1, 2001 M, 1421 H. Arnaut berkata, ” Sanadnya sahih.”
    Al-Haitsami, Al-Hafiz Nur Al-Din Ali bin Abu Bakr, Majma’ Al-Zawâid wa Manba’ Al-Fawâ’id, j. 9, h. 175, hadis 14740, cet. 1, Dar Al-Fikr, Beirut, Lebanon, 1994 M, 1414 H. Al-Haitsami berkata, ”Telah diriwayatkan oleh Ahmad dan rijalnya rijal sahih, kecuali Abu Abdillah Al-Jadali, dia seorang yang terpercaya (tsiqah).” Abd Al-Rauf Al-Manawi, Faidh Al-Qadîr Syarh Al-Jami’ Al-Shagîr, j. 6, h. 181, Dar Al-Fikr, 2006. Al-Imam Al-Muhaddits Abu Bakar Muhammad bin Al-Husein Al-Ajuri, Kitab Al-Syarî’ah, h. 460, Dar Al-Hadis, Kairo, Mesir, 2005.
    Allamah ‘Ala’ Al-Din Ali Al-Muttaqi A-Hindi, Kanz Al-’Ummâl fî Sunan Al-Aqwâl wa Al-Af’âl, juz 11, h. 614, cet. 5, Muassasah Al-Risalah, Beirut, Lebanon, 1985 M, 1405 H.
  4. bnu Taimiyah, Minhâj Al-Sunnah Al-Nabawiyyah, juz 5, h. 466, cet. 1, Jami’ah Al-Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Saudi Arabia, 1986 M, 1406 H.
  5. Ibnu Taimiyah, Minhâj Al-Sunnah Al-Nabawiyyah, juz 2, h. 60.
  6. Ibnu Taimiyah, Minhâj Al-Sunnah Al-Nabawiyyah, juz 2, h. 62.
  7. Ibnu Taimiyah, Majmû’ Fatâwâ, j. 4, h. 416-7, Mujamma’ Al-Malik Fahd, Riyadh, Saudi Arabia, 2004 M (1425 H).
  8. Ibnu Hajar Al-’Asqalani, Lisân Al-Mîzân, j. 6, h. 319-20, cet. 3, Muassasah Al-A’lami, Beirut, Lebanon, 1987 M, 1406 H.
  9. Muhammad Nasir Al-Din Al-Albani, Silsilah Al-Ahâdîts Shahîhah, j. 5, h. 263-4, hadis 2223, Min Fadhail Ali, cet. 1, Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh, Saudi, 2002 M, 1422 H.
  10. Ibid., j. 4, h. 344, hadis 1750.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top