Wednesday , February 19 2020
Breaking News
Nasionalisme dalam Islam

Nasionalisme dalam Islam

Bagi sebuah bangsa, nasionalisme ibarat jantung yang berfungsi memompa darah ke seluruh badan. Nasionalisme bararti sabagai kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai. mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kakuatan bangsa itu (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Menurut dafenisi ini, tanpa nasionalisme yang terus berdetak, suatu bangsa lambat laun akan sakit dan mati. Yang dimaksud dengan bangsa di sini adalah kelompok masyarakat yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri. Lalu muncul pertanyaan, apa pandangan Islam tentang nasionalisme?

Dalam teks-teks Islam, tidak ada istilah khusus nasionalisme dengan definisi yang sudah dipaparkan. Tapi dalam fikih Islam, ada istilah wathan (tanah air) yang berarti tempat di mana seseorang dilahirkan dan menjalani kehidupan. Dengan kata lain. tanah air adalah tempat untuk menjaga harta, kehormatan, dan kemuliaan seseorang. Pada surat al-Mumtahanah ayat 8 Al-Qur’an sempat menyinggung masalah lni.

“Allah tidak melarang kalian berbuat baik pada orang yang tidak memerangi kalian dalam masalah agama dan tidak mengusir kalian dari rumah-rumah kalian, berbuat baiklah dan berlaku adillah pada mereka, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

Dalam ayat ini, rumah (tanah air) digambarkan sebagai sesuatu yang bernilai dan manjadi salah satu tolak ukur untuk berbuat adil pada sesama.

Kesadaran untuk memportahankan bangsa sendiri pada dasarnya berakar dari rasa cinta pada tanah air. Cinta tanah air merupakan satu hal yang fitrah dalam wujud manusia. Sejarah mencatat bagaimana sosok mulia Nabi Muhammad Saw dikenal sebagai orang yang cinta pada tanah air. Diriwayatkan oleh Abbdullah bin Abbas, kala terpaksa hijrah ke Madinah setelah plot kaum Quraisy untuk membunuh dirinya. Nabi Muhammad berkata pada kota Mekkah,

“Tak ada kota lain yang lebih aku cintai seperti engkau [wahai Mekkah] dan jika kaummu [penduduk Mekkah] tidak mengusirku, aku tak akan pernah meninggalkanmu atas keinginanku sendiri. (Biharul Anwar. jld. 57, hal. 229).

Nabi Saw hijrah ke Madinah demi masa depan yang lebih baik untuk Islam dan kehidupan yang lebih layak bagi Muslimin. Madinah kemudian menjadi tanah air kedua bagi Nabi. Diriwayatkan bahwa Meski begitu, Mekkah tidak kemudian berpaling (i’radh) dan tetap mencintai Mekkah sebagai tanah air pertama. Mengenai ini, Sayyidah Fathimah as perah berkata,

“Rasulullah mencemaskan 10 hal dan Allah yang maha perkasa menenangkannya dan karena terpisah jauh dari tanah Mekkah, Allah memberinya kabar gembira dan memberi janji pulang padanya. Maka Allah menurunkan [firman] dalam surah al-Qashah ayat 85, ‘Tuhan yang menurunkan Al-Qu’ran padamu juga akan mengembalikanmu ke tempat kelahiranmu.” (Biharul Anwar, jil. 43, hal, 34)

Kecintaan pada tanah airlah yang kemudian memantik api nasionalisme dalam jiwa manusia. Api ini pula yang kelak membuat manusia bergerak dan menjalankan kegiatan untuk memakmurkan bangsanya. Imam Ali as pernah mengingatkan,

“Kota-kota akan makmur dengan rasa cinta pada tanah air.
( Biharul Anwar, jil. 75, hal. 45)

Sementara rasa cinta itu tak akan tumbuh subur tanpa kita mengenal dalam seperti apa tanah air kita. Bak kata pepatah, “Tak kenal maka tak sayang” kita layaknya tahu seluk beluk tanah air kita: letak geograli, cuaca dan iklim, sumber daya alam yang dikandung, letak strategis dalam tataran nasional dan intemasional, karakter dan budaya orang-orang yang hidup di sana, prospek yang bisa kita bangun, sampai bahaya yang mengancam tanah air kita. Maka sudah selayaknya kita menyisakan waktu khusus untuk mendapatkan semua informasi tersebut, baik dengan membaca buku atau artikel yang tersebar di dunia maya.

Nasionalisme merupakan istilah baru yang berkembang pada abad ke-19 di Eropa yang berlandaskan pada pemikiran bahwa kesetiaan tertinggi seseorang harus diberikan pada bangsa. Dalam perkembangannya nasionalisme Eropa melahirkan kecenderungan nasionalisme yang terlalu mementingkan tanah air hingga mendorong masyarakat Eropa melakukan ekspansi-ekspansi ke wilayah dunia lain.

Sebagai agama penutup bagi umat manusia, Islam tidak serta merta menerima atau menolak sebuah ide atau pemikiran baru. Islam punya mekanisme saringan tersendiri. Terkait kesetiaan tertinggi dalam Islam, kesetiaan tertinggi seorang Muslim harus diserahkan pada Sang Pencipta, Allah Swt karena manusia adalah khalifah-Nya di muka buml. Kesetiaan-kesetiaan lain Muslim, seperti kesetiaan pada orang tua, pasangan, pekerjaan, masyarakat atau bangsa, harus barada di bawah kesetiaan pada Allah Swt. Artinya, selama kesetiaan-kesetiaan itu tidak bermasalah dalam kacamata Islam, selama tidak bertentangan dengan kesetiaan pada Allah Swt. Begitu pula selama nasionalisme dan penerapannya tidak bertentangan dengan ajaran Islam, nasionalisme tidak akan tertolak dalam Islam.

Majalah ‘ITRAH, edisi September 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top