Wednesday , April 8 2020
Breaking News
Nilai Akal dalam Islam

Nilai Akal dalam Islam

Al-Quran berkali-kali menjelaskan tingginya nilai akal. Orang yang akrab dengan al-Quran tahu betapa masalah ini dipaparkan sejelas-jelasnya dalam pelbagai konteks di dalam al-Quran. Meskipun beredar ucapan-ucapan dusta yang disampaikan sejumlah pemikir bahwa agama adalah candu pikiran dan penyebab jatuhnya nilai akal di mata pemeluknya, Islam membantah argumen itu dengan menjadikan akal sebagai ukuran kebenaran keyakinan kepada Tuhan, kebahagiaan, dan keselamatan hakiki di akhirat. Al-Quran menyebut sebagian manusia dengan panggilan ulul albab dan ulul abshar.

Adam as Memilih Akal

Sudah tak aneh bila dalam sumber-sumber muktabar Islam banyak terkandung hadis yang berbicara mengenai akal. Lebih menarik lagi, salah satu kitab paling diakui dalam bidang hadis, yaitu al-Kafi, diawali sebuah bab berjudul “Kitab Akal dan Kebodohan.’” Setiap orang yang menelaah hadis tentang nilai akal akan memahami betapa Islam memandang masalah ini secara serius dan sangat mendalam. Di sini kami hanya akan membawakan dua hadis dari sana.

Diriwayatkan bahwa Imam Ali as pernah menyampaikan kisah berikut: “Suatu hari Jibril mendatangi Adam dan berkata, ‘Aku diperintahkan untuk menawarkan salah satu dari tiga karunia yang aku bawa ini kepadamu, kamu pilih salah satu darinya dan tinggalkan sisanya.’

Adam bertanya, ‘Apa itu?’

Akal, rasa malu, dan agama. Jawab Jibril.

Adam berkata, “Saya memilih akal.’

Setelah Adam menjatuhkan pilihan pada akal, Jibril berkata pada rasa malu dan agama, ‘Tinggalkan dia dan kembalilah kepada urusan kalian!’

Rasa malu dan agama menjawab perintah Jibril dengan berkata, ‘Kami diperintahkan mengiringi akal di manapun dan tidak diperkenankan berpisah darinya.’

Jibril berkata, ‘Kalau memang demikian, laksanakanlah perintah itu.’ Selepas mengucapkan kata-kata ini Jibril kembali naik ke langit.” (Ushul al-Kafi, 5/382)

Hadis di atas terhitung sangat menarik dan detil dalam menerangkan akal dan hubungannya dengan rasa malu dan agama. Jika agama terpisah dari akal, ia akan terhempas pada sesuatu yang tak bernilai sekalipun atau menyimpang. Rasa malu tak lain adalah buah ilmu dan akal, aa dapat mencegah manusia dari perbuatan buruk dan maksiat. Jadi, hadis ini menunjukkan bahwa keberadaan Adam ikut menentukan dan menegaskan nilai akal. Saat disodori akal, rasa malu dan agama, ia memilih derajat tertinggi dari akal sehingga ia pun mendapatkan rasa malu dan agama.

Terangkan tentang Akalnya

Sejumlah sahabat yang sedang berkumpul di sekeliling Rasulullah saw memuji seorang muslim. Rasulullah saw bertanya kepada mereka, “Bagaimana dengan akal lelaki itu?”

“Ya Rasulullah, kami sedang membicarakan kerja keras, ibadah dan amal salehnya. Mengapa Anda bertanya tentang akalnya?” kata mereka keheranan.

Rasulullah saw berkata, “Musibah yang menimpa orang dungu disebabkan kedunguannya lebih berat dan buruk dari musibah yang menimpa ahli maksiat disebabkan perbuatan maksiatnya. Kelak, di hari pembalasan derajat hamba-hamba Allah akan naik dan mereka dan mencapai kedudukan di sisi Allah berdasarkan kualitas akal mereka.” (Majma’ l-Bayan, 10/324)

Makhluk Pertama yang Tercipta

Dalam sebagian hadis dijelaskan: “Yang pertama Allah ciptakan adalah akal” ( Tafsir Fahkru Razi, 30/78)

Sebuah hadis menyebutkan bahwa Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Barangsiapa berakal, ia beragama. Dan barangsiapa beragama, ia masuk surga.” (Ushul al-Kafi, 5/382)

Tentu saja maksud keterangan dalam hadis tersebut adalah akal yang benar, bukan akal yang membuahi pikiran jahat para penguasa zalim di dunia, sebagaimana penjelasan Imam Ja’far Shadiq as: “Itu adalah sesuatu yang menyerupai akal, bukan akal yang sebenarnya.” (Ushul al-Kafi, 5/382)

Sejumlah hadis menyebutkan bahwa perhitungan atas perbuatan manusia di hari pembalasan dilakukan secara cermat dan tegas berdasarkan ukuran akal dan pengetahuannya. Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Allah akan menghisab hamba-hamba-Nya secara teliti berdasarkan kadar akal yang Allah telah berikan kepada masing-masing mereka.” (Tafsir Nur al-Tsaqalain, 5/537)

Said Husain Husaini, “Bertuhan dalam Pusaran Zaman”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top