Monday , December 16 2019
Breaking News
Nilai Luhur Pancasila Sebagai Basis Ideologi Gerakan Revolusi Mental

Nilai Luhur Pancasila Sebagai Basis Ideologi Gerakan Revolusi Mental

Judul di atas merupakan judul sebuah tema seminar nasional yang diselenggarakan di Gedoeng Joang ’45 Jakarta, Kamis (16/10). Acara yang terselenggara atas kerjasama LSM  Semangat Merah Putih (SEMERU) dan Himpala ini dimaksudkan untuk lebih mengenal nilai luhur Pancasila sebagai basis ideologi revolusi mental.

Agus Triantara, dari SEMERU menjadi salah satu pembicaranya. Ia mengajak hadirin memahami peran Pancasila sebagai salah satu elemen terpenting atas terbentuknya Negara Republik Indonesia.

Agus menyontohkan, dalam kosmologi Yunani Kuno, menyatakan: kehidupan itu ada 4, yaitu tanah, air, udara dan api. Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1945 negara Repubik Indonesia lahir berkat kepiawaian leluhur bangsa ini, mempertemukan 4 elemen: 1. Pancasila (cita-cita bersama – elemen api) 2. UUD 1945 (atmosfer bangsa – elemen udara) 3. Bhinneka Tunggal Ika (keragaman sebagai potensi budaya – elemen air) 4. NKRI (wilayah Negara – elemen tanah).

Dari empat elemen yang digambarkan tersebut, Pancasila menjadi elemen sangat penting dalam tema ideologi gerakan revolusi mental. Sebab, ideologi sangat erat hubungannya dengan cita-cita atau elemen api seperti yang digambarkan tadi.

Apa itu ideologi?

Pembicara lain adalah Ahmad Helmi Alireza, Ketua Umum lembaga SEMERU yang menerangkan tentang pengertian ideologi tersebut. Ideologi menurut istilah, yang disampaikan Helmi, merupakan nilai-nilai ideal yang berakar dari kebenaran logis, dapat membuang gagasan-gagasan tak berguna dari alam pikiran, dan dapat membangkitkan semangat, membangun sikap tanggungjawab. “Gotong royong adalah nilai luhur, kalau masih ada gagasan dan tindakan menentang gotong royong, berarti ideologi belum jalan dengan baik,” ungkap Helmi menyontohkan.

Di dalam Pancasila misalnya, sila pertama bicara tentang ideologi ketuhanan. Kalau disadari dari sisi ketuhanannya, maka Pancasila akan kuat sebagai basis ideologi. “Jangan bicara Pancasila kalau Tuhan belum menjadi pusat perhatian,” tambah Helmi.

Nah, dari kesadaran mengenai nilai-nilai itulah, akan menentukan bagaimana mental bangsa Indonesia. Dari situ pula ketika bicara revolusi mental bangsa Indonesia tak terpisahkan oleh nilai-nilai Pancasila itu sendiri.

Bagaimana kondisi ketahanan bangsa Indonesia?

Sebelum bicara tentang revolusi mental, kita tengok dulu ketahanan bangsa Indonesia, dalam berbagai bidang. Sulit tentunya jika ingin melakukan perubahan, namun dalam kondisi lemah dan tak memungkinkan. Mengenai ketahanan ini, Irjen. Pol (Purn) Rosyid Ridho, selaku tenaga profesional Lemhannas RI yang bertugas menjelaskan. Dalam forum itu, ia memaparkan hasil pengukuran ketahanan yang dilakukan oleh Laboratorium Pengukur Ketahanan Nasional (Labkurtannas).

Ada 5 kriteria dari hasil pengukuran itu. Pertama sangat tangguh, kedua tangguh, ketiga cukup tangguh, keempat kurang tangguh, dan kelima rawan.  “Indonesia berada dalam posisi kurang tangguh, geser dikit bisa jadi rawan,” ungkap Rosyid. Sementara menurutnya, di wilayah Indonesia, hanya Bali dan Jawa Tengah yang berada dalam posisi cukup tangguh. “Mental bangsa Indonesia harus direformasi total, atau bahasa lainnya revolusi mental,” tambah Rosyid.
Ia juga prihatin atas kaum elit yang banyak menempuh pendidikan di luar negeri, kemudian pulang menjadi pejabat setingkat menteri. “Padahal di sana karakter budaya bangsa Indonesia tidak diajarkan,” pungkas Rosyid.  (Malik/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top