Sunday , November 17 2019
Breaking News
Nyangku: Merawat Tradisi, Introspeksi Diri 

Nyangku: Merawat Tradisi, Introspeksi Diri 

Sebagai ahli waris, tentu kita akan menjaga warisan dari para leluhur kita. Begitupun dengan warga daerah Panjalu, 42 Km dari kota Ciamis yang tetap memegang tradisi mereka untuk mencuci benda-benda pusaka warisan para leluhur dalam sebuah tradisi yang disebut dengan “Nyangku.”

Salah satu benda pusaka yang dicuci Senin (19/1) lalu adalah pedang Sayyidina Ali, yang konon merupakan pemberian alias cinderamata Sayyidina Ali kepada Prabu Boros Ngora yang pernah bertemu saat sang Prabu mengembara mencari ilmu hingga ke tanah Mekkah.

Upacara Nyangku pada hari itu dilaksanakan di alun-alun kecamatan yang terletak di Desa Panjalu, dihadiri oleh sejumlah pejabat setempat seperti Bupati Ciamis, juga masyarakat Panjalu dan sekitarnya. Upacara tersebut dimaksudkan untuk menghormati jasa-jasa Prabu Sang Hiang Boros Ngora sebagai Raja Galuh sekaligus penyebar Agama Islam pertama kali di pulau Jawa.

“Nyangku ini diadakan bukan untuk menyembah benda pusaka, tapi untuk melestarikan tradisi dan menghormati budaya leluhur,” terang Dr. Johan Wiradinata, Ketua Yayasan Boros Ngora dalam sambutannya.

ABI Press_NyangkuMenurut Johan, Nyangku yang sudah dilaksanakan sejak jaman Prabu Boros Ngora, merupakan salah satu cara Raja Galuh itu untuk menyiarkan Islam kepada masyarakat Panjalu dan sekitarnya. Sedangkan Nyangku pada saat ini tak lebih untuk menapaktilasi jasa-jasa sang Prabu sebagai sebuah warisan budaya dari para leluhur.

Johan menerangkan bahwa Nyangku bukan semata-mata penghormatan pada leluhur Panjalu tapi juga merupakan momen untuk evaluasi diri. Selain itu sebagai sebuah nilai budaya, Nyangku telah melahirkan nilai-nilai strategis kearifan lokal yaitu keterbukaan masyarakat Panjalu terhadap perubahan.

“Momen untuk mengkritisi diri agar masyarakat Panjalu menjadi lebih baik,” tegas Johan.

Nyangku sendiri juga merupakan momen berkumpul para keturunan dari Prabu Boros Ngora yang saat ini telah tersebar di sejumlah wilayah di Indonesia. Begitupun bagi masyarakat Panjalu yang bekerja di luar Panjalu, juga menjadikan adat Nyangku untuk pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga. (Lutfi/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top