Friday , January 18 2019
Breaking News
Opini – Kelompok Belajar

Opini – Kelompok Belajar

Beberapa anak mendatangi saya atas arahan orang tuanya. Tak lama sebelum mereka datang memang saya sudah berbincang dengan orang tua yang anaknya mengalami kesulitan memahami materi pelajaran. Ada juga yang anaknya memang malas belajar.

Suasana itu terjadi di pelosok yang sudah mulai disentuh kemajuan teknologi. Anak-anak usia sekolah sudah mulai mengenal gadget dan disibukkan dengan perbincangan maya. Lebih lagi permainan maya yang banyak merebut waktu murid-murid sekolah tingkat dasar. Tontonan juga demikian menyita perhatian murid-murid itu.

Belajar bersama dalam suatu kelompok mungkin dapat menjadi pilihan lain. Mengharapkan seorang anak bangkit dengan kesadaran sendiri untuk mengambil buku lalu duduk di meja belajar, menghabiskan waktu setengah hingga satu jam untuk belajar tentu agak sulit. Oleh sebab itu, kiat belajar bersama patut dicoba.

Banyak yang kurang percaya bahwa kelompok belajar dapat membantu para murid untuk mengatasi masalahnya. Itu karena kenyataannya bahwa kelompok belajar hanya selalu diisi dengan cengkerama, suasana gaduh, dan kelakar yang tak terarah. Namun, apakah benar bahwa kelompok belajar tidak dapat dimanfaatkan untuk mengembangan kegiatan belajar? Apakah juga tidak ada kiat untuk menyelesaikan problem kelompok belajar yang selama ini ada?

Kelompok belajar hanya perlu sedikit sentuhan. Arahan dan bimbingan yang dapat menjadi stimulus bagi berjalannya kegiatan dalam kelompok memang diperlukan. Justru karena itulah maka setiap kelompok terbukti dapat menjadi memicu lahirnya gairah belajar murid-murid sekolah.

Psikologi humanistik (Rakhmat, 1985) membawa sebuah konsep tentang perlunya manusia dikembangkan dalam perspektif hidup bersama. Mungkin interaksi dalam kelompok belajar akan menimbulkan motivasi timbal-balik anggota kelompok. Saling mengisi akan terlihat. Proses bersaing akan muncul. Walau demikian, peluang munculnya peserta yang tersisih harus diantisipasi.

Mengakui keunikan masing-masing anggota kelompok harus menjadi dasar dalam kelompok belajar tersebut. Setiap peserta di dalam kelompok akan merasa memiliki kelebihan yang sedang dikembangkannya. Ia akan merasa sedang berproses menjadi dirinya sendiri yang berbeda dari orang lain.

Mencobakan hal tersebut, hanya dalam waktu kurang dari sepuluh minggu, ternyata memperlihatkan hasil yang menggembirakan. Beberapa anak yang memgalami kesulitan belajar, kini terlihat sangat antusias. Proyek yang dikerjakannya cukup menantang dan tidak perlu dihantui rasa tertinggal dari rekannya yang lain. Peserta yang sebelumnya dianggap lambat atau sulit menerima pelajaran kini memperlihatkan kemajuan yang cukup berarti.

Peranan kelompok belajar amat berpengaruh khususnya mereka yang cenderung berkecerdasan sosial yang lebih dominan. Bahkan untuk semua peserta dalam kelompok, setiap hari akan memperoleh inspirasi dari interaksi antar peserta.

Belajar bersama memang lebih baik daripada belajar sendiri. Memecahkan persoalan bersama tetap lebih baik daripada menyelesaikannya dengan kekuatan sendiri. Ajaklah anak-anak anda membentuk dan mengaktifkan diri dalam kelompok belajar.

Abu Mufadhdhal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top