Sunday , August 18 2019
Breaking News
Palestina bukan Milik Satu Penganut Agama dan Satu Etnik

Palestina bukan Milik Satu Penganut Agama dan Satu Etnik

Setiap kali kalender Ramadan mendekati 1 Syawal semua umat Islam ingat Hari Idul Fitri. Bagi sebagian mereka jelang Idul Fitri ada satu tradisi universal yang harus diingat, yaitu peringatan Hari Internasional Quds, hari solidaritas dengan rakyat Palestina. Karena itu ada baiknya kita menyegarkan memori kita tentang isu penting ini.

Ada banyak kesalahpahaman terhadap aksi mendukung kemerdekaan Palestina. Berikut daftar kesalahpahaman dan klarifikasinya:

Kesalahpahaman:
Isu Palestina adalah isu agama (Islam) dan ekspresi fanatisme agama.

Klarifikasi:

  1. Palestina adalah isu kemanusiaan. Palestina adalah negara bagi siapapun yang memang berhak menjadi warga Palestina, apapapun agamanya, Islam, Kristen dan Yahudi.
  2. Meski isu Palestina adalah isu lintas agama, tak berarti umat Islam tak patut menjadikan keislaman sebagai alasan pendukung untuk mendukungnya selama tidak menganggapnya sebagai isu umat Islam semata.

Kesalahpahaman:
Dukungan bagi Palestina adalah isu rasial karena hanya hendak memberikan Palestina kepada warga Arab saja.

Klarifikasi:
Palestina adalah negara bagi siapapun yang memang berhak menjadi warga Palestina, apapapun rasnya, Arab, Yahudi dan lainnya.

Kesalahpahaman:
Mendukung kemerdekaan Palestina dan menentang Israel dan zionime berarti anti Yahudi.

Klarifikasi:

  1. Israel, Zionisme dan Yahudi adalah tiga kata yang masing-masing mengandung tiga makna berlainan meski bisa bertemu. Dengan kata lain, relasi makna antar tiga frasa ini adalah interseksi.
  2. Yahudi adalah nama sebuah ras dalam rumpun Semit yang mencakup ras Arab. Yahudi adalah nama agama Samawi yang diperkenalkan oleh Nabi Musa dan para nabi setelahnya sebelum Nabi Isa.
  3. Zionisme adalah ideologi apartheid yang diberi bumbu teologi yang menjadi dasar justifikasi bagi okupasi dan penjajahan dan pengusiran serta pembantaian penduduk asli dari ragam ras dan agama atas dasar klaim nubuat kitab suci dengan dukungan negara-negara Barat terutama Inggris lalu Amarika Serikat seusai PD 2.
  4. Israel adalah nama negara fiktif yang dipaksakan berdiri di atas tanah Palestina sebagai hasil dari persekongkolan yang dirancang negara-negara Barat terutama AS dengan alasan menghindari terulangnya Holocoust dan sejumlah alasan irrasional lainnya.

Kesalahpahaman:
Yang berhak atas Palestina adalah ras Yahudi karena nenek moyang para pendatang yang melakukan okupasi lahir di sana. Karena itu Israel patut diterima sebagai realitas.

Klarifikasi:

  1. Yang berhak atas Palestina adalah siapapun yang tinggal di Palestina sebelum pendudukan dan penjajahan serta sebelum didirikannya Israel.
  2. Siapapun tak berhak mengklaim sebagai penduduk atau pemilik sebuah tanah hanya karena nenek moyangnya lahir dan hidup di sana, apalagi setelah beberapa abad berlalu.
  3. Mengklaim sebuah tanah dengan menjadikan teks kitab suci atau berita sejarah masa lalu dan nubuat sebagai bukti kepemilikan dan keabsahan sebagai penduduk adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa logis.

Kesalahpahaman:
Mendukung kemerdekaan Palestina berarti mendukung berdirinya sebuah negara dengan sistem Islam.

Klarifikasi:
Yang berhak menentukan bentuk negara dan sistem pemerintahannya adalah bangsa Palestina yang terdiri atas ragam etnik dan agama. Bangsa Palestina bisa memutuskan bentuk negaranya dan sistemnya sebagai hasil kesepakatan dan kontrak sosial yang mengikat semua melalui referendum yang diselenggarakan secara demokratis, adil dan transparan yang diawasi oleh dunia.

Kesalahpahaman:
Mestinya bangsa Palestina menyambut baik tawaran damai dengan Israel yang diajukan Amerika Serikat.

Klarifikasi:
Berdamai dengan perampok berarti mendukung perampokan. Berdamai hanya logis dengan pihak lain yang berada secara sejajar dalam sengketa. Meski demikian, sebagian pihak yang mewakili rakyat Palestina mencoba untuk merespon positif tawaran damai justru dijadikan. Namun perluasan pemukiman terus dilakukan, penindasan terhadap rakyat Palestina berlangsung. Karena sambutan terhadap proposal damai yang ditawarkan oleh pihak yang netral, AS, justru dimanfaatkan untuk melemahkan posisi tawar rakyat Palestina dalam perundingan-perundingan dengan aneka keputusan zalim rezim Israel seperti pembangunan dinding pemisah, penodaan masjid Aqsa dan penguatan Israel secara milier, ekonomi, media dan sebagainya seperti pengakuan atas Jerussalem sebagai ibukota, klaim kepemilikan atas dataran tinggi Golan di Suriah serta pelemahan Iran secara diplomatik, ekonomi dan militer.

Kesalahpahaman:
Kenapa sibuk memperjuangkan hak negara dan bangsa lain? Bukankah kita harus lebih memperhatikan bangsa sendiri dan negara sendiri? Bukankah memperjuangkan hak bangsa Palestina adalah tanggungjawab bangsa Palestina dan negara-negara Arab?

Klarifikasi:

  1. Mendukung kemerdekaan negara dan bangsa yang dijajah adalah wujud spirit kebangsaan dan ejawantah dari amanat UUD negara Indonesia
  2. Mendukung kemerdekaan bangsa yang mendukung kemerdekaan Indonesia adalah wujud komitmen kepada keluhuran moral sebuah bangsa.
  3. Mendukung kemerdekaan Palestina dan memberikan perhatian kepada isu Palestina dan derita bangsa-bangsa lain tak berarti mengabaikan bangsa dan negara sendiri. Kepedulian dan solidaritas kepada bangsa lain adalah manifestasi spirit Pancasila yang menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab.
  4. Isu Palestina perlu mendapatkan perhatian lebih besar karena fakta-fakta ironis sebagai berikut:

    A. Amerika Serikat dan Uni Eropa telah berhasil memandulkan bangsa Arab dengan mendukung rezim-rezim boneka yang justru mengkhianati rakyat Palestina dengan menjalin hubungan diplomatik atau kerjasama informal dalam berbagai bidang dengan rezim Israel.

    B. Amerika Serikat dan sekutunya telah mengalihkan perhatian dunia terutama dunia Islam dari isu sentral Palestina dengan menjadikan Suriah yang dipimpin oleh satu-satunya pemipin Arab yang mendukung resistensi militer demi kemerdekaan rakyat Palestina sebagai arena jihad dan Iran yang gigih mendukung perlawan bersenjata demi kemerdekaan Palestina sebagai musuh bersama pengganti Israel dengan menyebarkan hoax-hoax dan fitnah sektarian serta menciptakan kelompok-kelompok ekstremis yang justru bekerjasama dengan Israel.

    C. Penderitaan bangsa Palestina sudah berlangsung lama. Mendukung kemerdekaan Palestina berarti menolak lupa dan menggaungkan gelora penentangan terhadap kezaliman dan penjajahan sebagai tanggungjawab kemanusiaan juga keagamaan.

    D. Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar dan kekayaan alamnya yang berlimpah serta area tanah airnya yang sangat luas, bisa memainkan peranan penting dalam mendukung penghapusan penjajahan dan penegakan keadilan di atas muka bumi.

    E. Sebagaimana umat Yahudi dan Nasrani, umat Islam memandang Palestina sebagai tempat sakral karena majid al-Aqsa merupakan kiblat pertama dan tanah para nabi yang dihornati dalam Islam juga kota Quds (Jerussalem) yang diyakini sebagai kota suci. Karena itu, Palestina merupakan isu sentral yang harus diingat dan kemerdekaannya harus diperjuangkan dan didukung.

Kesalahpahaman:
Kenapa dilakukan aksi demo pro Palestina setiap Jumat terakhir bulan Ramadhan? Bukankah Ramadan adalah bulan ibadah dan ketenangan?

Klarifikasi:
Jumat terakhir Ramadhan telah diabadikan sebagai Hari Internasional Quds. Di seluruh penjuru dunia banyak orang Muslim dan non-Muslim, Sunni dan Syiah, Arab dan non-Arab melakukan aksi damai demi menunjukkan simpati dan memberikan dukungan atas perjuangan rakyat Palestina merebut tanah airnya.

Hari Jumat terakhir dalam Ramadhan dipilih sebagai Hari Internasional Quds justru karena pada bulan ini aksi ini menyimpan nuansa spiritual sekaligus ritual sehingga bisa dipastikan aksi damai ini berjalan damai dan bebas dari tendensi politik dalam konteks nasional yang sedang memanas.

Dr. Muhsin Labib Assegaf 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top