Wednesday , September 18 2019
Breaking News
Pancasila Dan Warisan Reformasi 98

Pancasila Dan Warisan Reformasi 98

Berhasil merobohkan kepemimpinan Soeharto di masa Orde Baru, reformasi mahasiswa 1998 adalah salah satu tonggak besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Setelah 17 tahun berlalu, apakah yang telah diwariskan gerakan Reformasi 98?

Membicarakan hal ini, Universitas Islam Nasional (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan KontraS dan Kelompok Studi Trisakti menyelenggarakan diskusi publik “Kilas Balik Gerakan Mahasiswa: Menyoal Warisan Reformasi 98” di auditorium FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Senin (11/5).

Alexander Yahya Datuk, Ketua Dewan Pembina Kelompok Studi Trisakti yang menjadi salah satu pembicara menegaskan, Reformasi 98 itu sejatinya adalah proses, bukan tujuan.

“Reformasi adalah proses, sebagai landasan bagi kemajuan demokrasi. Bukan tujuan,” ujar Alexander. “Salah satu warisan terbesar Reformasi adalah kebebasan berpendapat.”

Menurut Alexander, gerakan Reformasi terjadi karena Pancasila yang mestinya menjadi pengayom masyarakat justru menjadi alat represi rezim Soeharto.

“Pancasila dulu digunakan sebagai alat represi oleh Soeharto. Makanya justru jadi bumerang. Proses ideologi Pancasila yang sehat justru mundur karena dipaksakan dan Pancasila mengalami degradasi,” terang Alexander.

“Kalau sekarang, karena tak dijadikan sebagai alat represi, justru tak ada yang menolak Pancasila. Dalam diskusi-diskusi justru saling mengisi dan melengkapi.”

Tanggungjawab Mahasiswa

Andike Kristianto, Pembina Lembaga Kemahasiswaan UIN Jakarta mengingatkan bahwa pasca Reformasi, perjuangan belum usai. Perjalanan demokrasi masihlah panjang, dan di punggung para mahasiswa mudalah tanggungjawab itu dipikul.

“Pasca 98 ini, yang harus diwaspadai adalah hal-hal yang tak diekspos media. Cara-cara yang dilakukan Orba itu masih dilakukan hingga saat ini,” ujar Andike. “Kita harus mewaspadai tangan-tangan besi itu kembali.”

“Kita harus pastikan supremasi sipil itu tegak,” lanjut Andike. “Pastikan Reformasi yang dulu kita dengungkan terjaga. Jangan sampai hiruk-pikuk ini membuat kita lupa akan hal ini.”

Moh. Hasan Ansoru, salah astu aktifis 98 yang juga hadir sebagai pembicara memesankan hal yang sama.

“Mahasiswa harus terus bersikap kritis pada kebijakan negara agar memastikan warisan Reformasi tak terdegradasi,” pesan Hasan. (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top