Thursday , April 25 2019
Breaking News
Para Imam Pemilik Dunia Akhirat?

Para Imam Pemilik Dunia Akhirat?

Di dalam Buku Panduan MUI halaman 77 menyatakan: “Mereka juga meyakini bahwa para Imam memiliki dunia dan akhirat. Dinyatakan bahwa “Tidakkah kamu ketahui sesungguhnya dunia dan akhirat adalah kepunyaan imam, dia boleh meletakkannya dimana dikehendakinya dan memberikan kepada siapa yang dikehendakinya. Itu adalah kebenaran dari pihak Allah kepadanya.” (lihat Al-Kafi, 1:109)

Tanggapan:

Pertama, dalam catatan kaki disebutkan riwayat hadis ini termasuk lemah sanadnya. (Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini, Ushûl Al-Kâfî, juz 1, h. 475, hadis 4, cet. 2, Dar Al-Ta’aruf, Beirut, Lebanon, 2009 M (1430 H)

Kedua, jika hadis ini dianggap lemah, maka pasti ditolak oleh Syiah. Sesungguhnya MUI tidak perlu berbaik hati menjadikan hadis ini sebagai dasar untuk menjelaskan ketidaksahihan hadis ini. Hal ini mengindikasikan bahwa MUI tidak jeli dalam membaca kitab tersebut atau tidak mengutipnya secara langsung alias mengcopy-paste saja.

Ketiga, andaikan sanad riwayat ini dianggap sahih, bila matannya tidak sesuai dengan ayat-ayat yang sharih dan hadis-hadis mutawatir, maka berdasarkan pedoman baku istinbath Syiah, riwayat tersebut harus diabaikan.

Lebih jauh dalam Alquran, Allah menjanjikan bahwa bumi akan diwariskan kepada hamba-hambaNya yang saleh dan tertindas, sebagaimana termaktub di bawah ini

Hasil gambar untuk QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 105

dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.(QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 105)

Hasil gambar untuk Al-Qashash [28]: 5

dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).(QS. Al-Qashash [28]: 5)

Selain itu, masih banyak lagi ayat yang menjelaskan bahwa bumi mesti dikelola oleh orang-orang terbaik dari hamba-hambanya. Bagi Syiah, para Imam merupakan hamba-hamba Allah yang terbaik, dan penjelasan di awal telah dinyatakan bahwa Imam yang paling utama adalah Nabi Muhammad Saw. Beliau adalah imam para Nabi dan para Imam. Lantas apa yang menjadikan MUI keberatan dengan hadis dalam Al-Kâfi tersebut?

(Dikutip dari Buku   “Syiah Menurut Syiah”   Tim Penulis Ahlulbait Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top