Saturday , May 30 2020
Breaking News
Peletakan Batu Pertama Tugu Kujang Kembar Kabuyutan Cipageran

Peletakan Batu Pertama Tugu Kujang Kembar Kabuyutan Cipageran

Diiringi tabuhan rebana dan shalawatan pada Kanjeng Nabi, rombongan keluarga besar almarhum H. Amin Ahmad dan anggota Kabuyutan memutari kompleks tanah warisan keluarganya yang digunakan sebagai tempat konservasi budaya Kabuyutan.

Peletakan batu pertama oleh keluarga besar almarhum H. Amin Ahmad dilaksanakan dengan khidmat meski hujan rintik membasahi. Sabtu (25/4) menjadi hari bersejarah didirikannya Tugu Kujang Kembar ini oleh semua keluarga besar H. Amin Ahmad.

Dedi Kuswandi, cucu tertua H. Amin Ahmad saat ABI Press wawancarai menyebutkan demi melestarikan budaya asli Sunda, keluarganya memang mengikhlaskan tanah seluas 3 hektar itu menjadi lahan konservasi budaya urang Sunda.

“Ini sumbangsih kita untuk melestarikan sejarah Sunda yang sebenarnya. Agar tak ada penyimpangan,” ujar Dedi. Selanjutnya Dedi menegaskan, “Kita kan melihat ternyata bentangan Sunda ini luar biasa. Kalo dilihat dari sisi kerajaan sangat luas, sisi budaya ini sudah sangat mendunia. Ke depan, generasi penerus yang akan datang harus tahu tentang ini. Jangan sampai terputus.”

Dedi berharap dengan didirikannya tugu Kujang Kembar ini, bisa menjadi salah satu situs di Cipageran sebagai tempat bersatunya seluruh masyarakat sunda. “Kita berharap tugu ini bisa menjadi bentuk manifestasi kebersatuan urang Sunda.”

Tugu Jalalah, Simbol Ketaatan Pada Allah SWT.

Abah Yusuf Bachtiar, Karuhun Kabuyutan Gegerkalong yang memimpin acara ini menyebutkan bahwa makna tugu ini bahwa tugu menyimbolkan ikatan kehambaan kita dengan Sang Pencipta.

“Tugu itu adalah tunggal, (simbol) Gusti Allah yang Maha Tunggal. Kujang berpasangan itu menunjukkan lafad Allah, lafadz Jalalah,” terang Abah Yusuf. “Nah, tugu itu cupaknya ada 3, simbol Allah, Muhammad, dan Adam (manusia), simbol perjalanan manusia menuju Tuhannya.”

“Lubangnya ada lima, menyimbolkan Baginda Muhammad, Ali, Hasan Husain Sayyidah Fathimah.” Oleh karena itu kita sebagai pelaku di muka bumi ini harus kokoh dalam mengagungkan yang Maha Agung. Mengikuti sebagaimana 5 manusia suci, wali agung yang sembilan, sampai ratu adil yang sejati. Muhammad al-Mahdi.”

Aming. D. Rahman, konsultan dan arsitek Kabuyutan Cipageran ini menyebutkan bahwa desain yang diciptakannya ini bernafaskan karakter kesundaan yang kuat, yang sesuai dengan karakter bangsa.

“Kita ingin bagaimana membentuk karakter bangsa melalui konsep kesundaan,” ujar Aming. “Mudah-mudahan di sini nanti akan muncul karakter pemimpin yang konsen pada sistem alam, bersatu pada alam, sadar budaya dan penuh asih. Seperti puncaknya tugu itu ada ada kujang kembar, yang secara visual itu membentuk seperti simbol asih, simbol cinta,” imbuh Aming. (Muhammad/Al-Mandari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top