Friday , September 20 2019
Breaking News
Pengafiran Syiah, Bashar Assad dan Konflik Suriah

Pengafiran Syiah, Bashar Assad dan Konflik Suriah

‘Tuduhlah dia Syiah, kau boleh menimpakan apa saja atas dia’

Seakan menjadi jargon dan doktrin manjur yang secara cepat mampu mengubah seorang yang santun jadi beringas, yang kalem jadi sadis. Bashar Assad yang secara ideologis adalah sekularis sosialis nasionalis dan secara kultural Alawit (bukan Syiah Imamiyah yang lazim disebut Syiah saja) ditampilkan secara masif dan manipulatif sebagai seorang Syiah yang membantai rakyatnya sendiri hanya karena bermazhab Sunni.

Yang menarik, saat Saddam Husein yang sehaluan dan seideologi dengan Asad membantai puluhan ribu warganya yang mayoritas Syiah, tidak pernah ditampilkan oleh kaum Syiah di Irak dan di mana pun, sebagai diktator Sunni yang membantai warganya karena kesyiahan mereka. Tapi apa harus dikata, konflik politik dan konspirasi menumbangkan Assad disulap dalam pemberitaan yang intensif sebagai konflik sektarian Sunni versus Syiah. Israel yang lebih dari enam tahun menjajah Palestina dan mempermalukan bangsa Arab dibiarkan bahkan mulai diterima sebagai bagian dari sekutu.

Baca juga  Memahami Geopolitik dan Pengafiran Syiah di Timur Tengah

Bashar Assad bukanlah pemimpin tanpa cacat yang mewarisi dosa politik ayahnya, Hafez Assad, terutama terhadap Ikhwanul Muslimin di Hama, Suriah. Padahal kesalahan dan kejahatan para pemimpin Arab lainnya jauh lebih banyak. Tapi jelaslah, ini bukan persoalan politik antara pemerintahan Bashar Assad dan oposisi dalam negerinya, tapi persoalan politik tingkat tinggi yang areanya melampaui batas georafis Suriah. Bahkan bukan hanya kawasan Timur Tengah, tapi konflik dua kutub besar: kubu konservatif Barat di bawah AS, Uni Eropa (UE), Israel dan sekutunya di dunia Arab; dan kubu progresif Timur yang dikawal oleh Rusia, China, Suriah, Iran dan faksi-faksi anti-proposal perdamaian AS.

Apa yang terjadi di Suriah semula adalah efek dari perubahan politik di sejumlah negara Arab yang kerap disebut “Arab Spring”. Pada dasarnya penentangan terhadap kebijakan-kebijakan politik dan ekonomi Asad adalah sebuah proses dinamika politik yang wajar. Namun, ia terlanjur dilukiskan sebagai konflik sektarian. Akibatnya, banyak orang di seluruh negara Islam, termasuk Indonesia, yang tersetrum oleh provokasi dan ujar kebencian yang dilakukan secara sistematis, menganggap perlawanan terhadap Pemerintahan Bashar sebagai jihad.

(Dikutip dari Buku “Syiah Menurut Syiah” Tim Penulis Ahlulbait Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top