Thursday , April 9 2020
Breaking News
Pengaruh dan Keuntungan Keyakinan Religius dalam Kehidupan

Pengaruh dan Keuntungan Keyakinan Religius dalam Kehidupan

Kecenderungan religius mendorong manusia melakukan berbagai upaya, sekalipun dengan mengorbankan perasaan individualistis dan naluriahnya. Terkadang manusia mengorbankan jiwanya dan kedudukan sosialnya untuk kepentingan agamanya. Hal ini dapat terjadi hanya bila idealnya sudah mencapai tingkat kesucian dan sepenuhnya mengendalikan eksistensinya. Hanya kekuatan religiuslah yang dapat membuat suatu ideal menjadi suci, dan membuat ideal tersebut memiliki otoritas terhadap manusia.

Memang, sering orang mengorbankan jiwanya, hartanya dan semua yang dicintainya bukan untuk kepentingan ideal atau keyakinan religius apa pun, melainkan karena ditekan oleh rasa benci, dengki, dendam atau karena reaksi keras terhadap rasa tertindas. Kasus- kasus seperti ini lumrah terjadi di seluruh penjuru dunia.

Namun, antara ideal religius dan ideal non-religius ada bedanya. Karena keyakinan religius dapat membuat suatu ideal menjadi suci, maka untuk kepentingan keyakinan tersebut dilakukan berbagai pengorbanan secara ikhlas dan naluriah. Tugas yang ditunaikan dengan ikhlas memperlihatkan suatu pilihan, namun tugas yang ditunaikan karena pengaruh tekanan jiwa yang mengusik, berarti suatu ledakan. Jadi jelaslah, antara keduanya ada perbedaan yang besar. Selanjutnya, kalau konsepsi manusia mengenai dunia bersifat material semata dan dasarnya hanyalah realitas yang kasat mata, maka dia melihat segala bentuk idealisme sosial dan manusiawi bertentangan dengan realitas kasat mata dan hubungannya dengan dunia yang dirasakannya pada saat tertentu.

Psikolog yang sekaligus Filosof Amerika awal abad ke-20, William James, berkata: “Hasil dari konsepsi persepsional hanyalah egoisme, bukan idealisme. Idealisasi tidak akan sampai melewati batas fantasi jika dasarnya adalah konsepsi mengenai dunia yang hasil logisnya adalah ideal yang bersangkutan. Manusia harus membentuk dunia gagasannya sendiri, yang terbentuk dari realitas-realitas yang ada di dalam dirinya, dan hidup bahagia dengan dunia gagasannya tersebut. Namun demikian, jika idealisme lahir karena keyakinan religius, maka idealisme tersebut dasarnya adalah konsepsi mengenai dunia, yang hasil logisnya mendukung ideal sosial. Keyakinan religius adalah semacam hubungan mesra antara manusia dan dunia, atau dengan kata lain semacam keselarasan antara manusia dan ideal universal. Sebaliknya, keyakinan non-religius dan ideal adalah semacam pencampakan dunia kasat mata untuk membangun dunia imajiner yang sama sekali tidak mendapat dukungan dari dunia kasat mata tersebut.”

Keyakinan religius bukan saja menetapkan bagi manusia sejumlah tugas, terlepas dari kecenderungan naluriahnya, namun juga sepenuhnya mengubah pandangannya tentang dunia. Dalam struktur pandangannya ini, dia mulai melihat unsur-unsur baru. Dunia yang kering, dingin, mekanis dan material itu diubah menjadi dunia yang hidup. Keyakinan religius mengubah kesan manusia mengenai alam semesta. William James berkata: “Dunia yang ditampilkan oleh pemikiran religius bukan saja dunia material ini yang sudah berubah bentuknya, namun juga meliputi banyak aspek yang tak dapat dibayangkan oleh seorang materialis.” (Psychoanalysis and Religion, hal. 508)

Selain itu, setiap manusia mempunyai fitrah untuk mempercayai kebenaran dan realitas spiritual yang menarik. Manusia memiliki banyak kemampuan terpendam yang siap ditumbuh-kembangkan. Semua kecenderungannya sifatnya non-material. Kecenderungan spiritual yang dimiliki oleh manusia sifatnya fitri, bukan hasil dari upaya. Ini merupakan fakta yang didukung oleh ilmu pengetahuan. William James berkata: “Kalau benar alasan dan pendorong kita adalah dunia material ini, namun mengapa sebagian besar hasrat dan kecenderungan kita tidak sesuai dengan kalkulasi material. Ini menjelaskan bahwa sebenarnya alasan dan pendorong kita adalah dunia metafisis.” (Psychoanalysis and Religion, hal. 508. New York, 1929)

Mengingat kecenderungan spiritual memang ada, maka kecenderungan ini harus ditumbuh-kembangkan dengan baik dan saksama. Kalau tidak, bisa-bisa kecenderungan ini menyimpang dari jalan yang benar, dan akibatnya adalah kerugian yang tak mungkin dapat ditutup. Psikolog yang lain, Erich Fromm, mengatakan: “Tak ada manusia yang tidak membutuhkan agama dan tidak menghendaki batas bagi orientasinya dan subjek bagi masa lalunya. Manusia sendiri boleh jadi tidak membedakan antara keyakinan religius dan keyakinan non-religiusnya, dan boleh jadi percaya bahwa dirinya tak beragama. Boleh jadi dia memandang fokusnya kepada tujuan yang kelihatannya nonreligius, seperti harta, tahta atau kesuksesan, sebagai semata-mata isyarat perhatiannya kepada urusan praktis dan upaya untuk mewujudkan kesejahteraannya sendiri. Yang menjadi masalah bukanlah apakah manusia beragama atau tidak beragama, melainkan apa agama yang dianutnya.” (Psychoanalysis and Religum, hal. 508)

Yang dimaksud oleh psikolog ini adalah, bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa menyucikan dan mencintai sesuatu. Kalau yang diakui dan disembahnya bukan Allah, dia pasti mengakui sesuatu sebagai realitas yang absolut, dan pasti menjadikannya sebagai objek keyakinan dan pemujaannya. Mengingat manusia membutuhkan ideal dan keyakinan, dan berdasarkan naluri dia berupaya mendapatkan sesuatu yang boleh jadi disucikan dan dipujanya, maka satu-satunya jalan adalah meningkatkan keyakinan religius kita, yang merupakan satu-satunya keyakinan yang benar-benar dapat mempengaruhi manusia. Al-Qur’an Suci merupakan Kitab pertama yang menggambar-kan keyakinan religius sebagai semacam harmoni antara manusia dan alam semesta. Apakah mereka mencari sesuatu selain agama Allah? Namun kepada-Nya tunduk patuh apa yang ada di langit dan di bumi. (QS. Ali ‘Imran: 83)

Al-Qur’an Suci juga menyebutkan bahwa keyakinan religius merupakan bagian dari fitrah manusia. Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus. Yaitu fitrah di mana Allah telah mendptakan manusia menurut fitrah itu. (QS. ar-Rum: 30)

Pengaruh keyakinan religius sudah kami singgung. Namun, untuk lebih menjelaskan keuntungan dari aset kehidupan yang bernilai ini dan kekayaan spiritual, kami akan membahasnya dengan lebih terperinci. Tolstoy, seorang penulis yang sekaligus Filosof Rusia, berkata: “Keyakinan adalah sesuatu yang dibutuhkan dalam hidup manusia.” Seorang penyair sekaligus pemikir Iran, Hakim Nasir Khusrow, berkata kepada putranya: “Aku telah berpaling kepada agama, karena bagiku dunia tanpa agama laksana penjara. Aku tak mau alam hatiku porak- poranda.” Banyak pengaruh positif yang diberikan oleh keyakinan religius. Keyakinan religius mewujudkan kebahagian dan kegembiraan, mengembangkan hubungan sosial, dan mengurangi serta menghilangkan kecemasan yang menjadi ciri pokok dunia material ini. Kami akan menjelaskan pengaruh keyakinan religius dari ketiga sudut pandang ini.

Pengaruh pertama keyakinan religius, dilihat dari sudut pandang kebahagiaan dan kegembiraan, adalah optimisme. Seorang yang memiliki keyakinan religius selalu optimis sikapnya terhadap dunia, kehidupan dan alam semesta. Keyakinan religius memberikan bentuk tersendiri kepada sikap manusia terhadap dunia. Karena menurut agama, alam semesta itu ada tujuannya dan bahwa tujuannya itu adalah perbaikan (kemajuan) dan evolusi, maka keyakinan religius tentu saja mempengaruhi pandangan manusia dan membuat manusia optimis dengan sistem alam semesta dan hukum yang mengatur alam semesta. Sikap seorang yang berkeyakinan religius terhadap alam semesta adalah sama dengan sikap seorang yang tinggal di sebuah negara yang meyakini bahwa sistem, hukum dan formasi negara tersebut bagus, bahwa pemimpin negara tersebut tulus bermaksud baik, dan bahwa di negara tersebut setiap warganya, termasuk dirinya, berpeluang membuat prestasi. Orang seperti itu tentu saja akan berpendapat bahwa penyebab tetap terkebelakangnya dirinya atau orang lain, tak lain adalah kemalasan dan tak berpengalamannya orang bersangkutan, dan bahwa dirinya dan warga lain bertanggung jawab dan di tun tut untuk menunaikan tugas mereka.

Seorang yang memiliki keyakinan religius akan bertanggung jawab atas keterbelakangan dirinya dan tak akan menyalahkan negaranya dan pemerintahannya atas keterbelakangannya tersebut. Dia percaya bahwa jika ada yang tidak beres, hal itu karena  dan warga lain seperti dirinya tidak dapat menunaikan tugas dengan baik. Tentu saja perasaan seperti ini akan membangkitkan rasa harga dirinya, dan mendorong dirinya melangkah ke depan dengan penuh optimisme. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki keyakinan religius adalah seperti orang yang tinggal di sebuah negara yang sistem, hukum dan formasinya dia yakini zalim, dan orang tersebut terpaksa menerima, meski tidak sesuai dengan kata hatinya, sistem, hukum dan formasi negara tersebut. Hati orang seperti itu akan selalu dipenuhi rasa benci dan dendam. Sedikit pun dia tak akan pernah berencana meningkatkan kualitas dirinya.

Menurutnya, kalau segalanya sudah tidak beres, kejujuran dan ketulusan dirinya tak akan ada gunanya. Orang seperti itu tak akan pernah menikmati dunia ini. Bagi dirinya, dunia ini akan selalu seperti penjara yang menakutkan. Itulah sebabnya Al-Qur’an memfirmankan: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (QS. Thaha: 124)

Sesungguhnya, keyakinan religiuslah yang membuat kehidupan kita lapang secara spiritual, dan yang menyelamatkan kita dari tekanan faktor-faktor spiritual. Dari sudut pandang penciptaan kebahagiaan dan kegembiraan, pengaruh kedua dari keyakinan religius adalah tercerahkannya had. Kalau manusia melihat dunia dicerahkan oleh cahaya kebenaran, maka hati dan jiwanya juga tercerahkan. Keyakinan religius adalah laksana lentera yang menerangi rohaninya. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki keyakinan religius melihat dunia gelap gulita, kotor dan tak ada artinya, dan akibatnya hati orang tersebut tetap gelap gulita di dunia yang dianggapnya gelap gulita itu.

Pengaruh ketiga dari keyakinan religius, dari sudut pandang kebahagiaan dan kegembiraan, adalah pandangan bahwa upaya yang baik membawa hasil yang baik pula. Dari sudut pandang material murni, dunia fana ini tak peduli siapa yang lurus dan benar jalannya, dan siapa yang salah jalannya. Hasil dari suatu upaya ditentukan semata-mata oleh satu hal, yaitu seberapa keras upaya tersebut dilakukan. Namun, menurut sudut pandang orang yang memiliki keyakinan religius, dunia fana ini tidak acuh dan tidak netral terhadap upaya orang-orang yang berbuat benar dan salah. Reaksi dunia terhadap upaya dua kelompok ini tidak sama. Sistem alam semesta mendukung orang-orang yang berbuat untuk kebenaran, keadilan dan integritas.

Al-Qur’an memfirmankan: Jika kamu menolong (agama) Allah, Dia akan menolongmu. (QS. Muhammad: 7) Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berniat baik. (QS. at-Taubah: 120, Hud: 115, Yusuf: 90)

Pengaruh keempat dari keyakinan religius, dilihat dari sudut pandang penciptaan kebahagiaan dan kegembiraan, adalah kepuasan mental. Pada dasarnya manusia berusaha untuk sukses, dan rencana untuk meraih kesuksesan tersebut membuat hatinya berbunga- bunga. Ketakutan akan masa depan yang gelap membuat dirinya merasa ngeri dan mengusik ketenangannya. Ada dua hal yang membuat orang bahagia dan puas: (1) upaya; (2) kepuasan terhadap kondisi-kondisi yang lazim di lingkungannya. Kesuksesan seorang pelajar ditentukan oleh dua hal: Pertama, upayanya sendiri. Kedua, kondusif atau tidak atmosfer di sekolahnya, dan dorongan dari pihak sekolah. Jika seorang pelajar yang pekerja keras tidak percaya dengan atmosfer sekolahnya dan guru-gurunya, sepanjang tahun belajarnya dia akan khawatir akan adanya perlakuan yang tidak adil dan akan dicekam rasa cemas.

Manusia mengetahui tugasnya terhadap dirinya sendiri. Aspek ini tidak membuatnya khawatir, karena yang mengusik manusia adalah perasaan ragu dan tidak pasti. Manusia yaki dengan semua yang penting bagi dirinya. Yang mengusik manusia dan yang tidak jelas bagi manusia adalah tugasnya terhadap dunia. Pertanyaan yang paling mengusiknya adalah: Apakah perbuatan baik itu ada gunanya? Apakah kebenaran dan kejujuran itu membantu mencapai tujuan? Apakah akhir dari penunaian tugas adalah kesia-siaan?

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang menimbulkan kecemasan dalam bentuknya yang paling mengerikan. Keyakinan religius mengembalikan rasa percaya manusia kepada dunia, dan menghilangkan rasa tidak percayanya kepada perilaku dunia terhadap dirinya. Itulah sebabnya kami katakan bahwa salah satu pengaruh keyakinan religius adalah ketenangan mental. Pengaruh lain dari keyakinan religius, dari sudut pandang kegembiraan dan kebahagiaan, adalah lebih menikmati kenikmatan yang dikenal sebagai kenikmatan spiritual. Ada dua macam kenikmatan yang dapat dirasakan oleh manusia. Kenikmatan macam pertama berkaitan dengan salah satu dari panca indera. Kenikmatan seperti ini dirasakan berkat terjadinya kontak antara organ tubuh manusia dan objek tertentu. Mata memperoleh kenikmatan melalui melihat, telinga melalui mendengar, mulut melalui merasakan, dan indera peraba melalui meraba atau menyentuh. Kenikmatan jenis lain adalah kenikmatan yang berkaitan dengan jiwa dan indera batiniah manusia. Kenikmatan seperti ini tak ada hubungannya dengan organ tubuh, dan tidak diperoleh melalui kontak dengan objek tertentu. Kenikmatan seperti ini diperoleh bila kita berbuat baik kepada orang atau makhluk lain, bila kita dihormati dan menjadi popular, atau bila kita sukses atau bila anak kita sukses. Kenikmatan seperti ini khususnya tidak berkaitan dengan organ tubuh, juga tidak dipengaruhi langsung oleh faktor material. Kenikmatan spiritual lebih kuat dan lebih abadi ketinabang kenikmatan material.

Kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang tulus beribadah kepada Allah dengan ibadah mereka yang khusyuk adalah kenikmatan spiritual. Dalam bahasa agama, ke- nikmatan spiritual digambarkan sebagai “Nikmatnya Iman” dan “Rasanya Iman”. Rasanya iman lebih lezat ketimbang—dan melebihi—rasa-rasa yang lain. Kenikmatan spiritual akan semakin bertambah bila kita berbuat bajik, misalnya menuntut ilmu pengetahuan, membantu orang atau makhluk lain, atau sukses melaksanakan tugas yang digerakkan oleh rasa keagamaan. Setiap perbuatan yang dilakukan karena Allah SWT, merupakan perbuatan ibadah dan mendatangkan kenikmatan.

Manusia dan Alam Semesta, Ayatullah Syahid Muthahari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top