Wednesday , December 11 2019
Breaking News
Pengaruh Historis Persia pada Islam di Asia Tenggara [1]

Pengaruh Historis Persia pada Islam di Asia Tenggara [1]

Pengantar

Asia Tenggara berasal dari Bahasa Sanskerta sebagai Suvarnabhumi, Nanyang dalam Bahasa Cina, Serambi Mekah dalam Bahasa Melayu, dan Zirbadat – negeri di bawah angin oleh orang-orang Arab dan Persia. Saat ini terdapat sekitar 240 juta Muslim di Asia Tenggara, sekitar 42% dari total populasi Asia Tenggara dan 25% dari populasi dunia Muslim yang berjumlah sekitar 1,6 milyar. Mayoritas kaum Muslim di kawasan ini bermadzhab Sunni dan menganut Syafi ’i dalam hal yurisprudensi Islam. Akan tetapi, ada komunitas-komunitas Syiah di setiap negeri Asia Tenggara.

Dengan terbentuknya komunitas ASEAN, Muslim berjumlah 42% dan disusul Buddhist sebesar 40%. Tiga negeri Asia Tenggara yaitu, Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam mempunyai populasi mayoritas kaum Muslim, sementara Thailand, Filipina, Singapura, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Vietnam mempunyai populasi minoritas Muslim. Islam adalah agama resmi di Malaysia dan Brunei dan salah satu agama yang diakui secara resmi di Indonesia, Thailand, dan Filipina. Muslim Asia Tenggara terdiri dari banyak kelompok etnik dengan bahasa yang berbeda-beda seperti Bahasa Indonesia, Melayu, Jawa, Maranao, Maguindanao, Tausug, Thai, Cina, Myanmar, dan sebagainya.

Baca Prof Azyumardi Azra: Kaum Syiah Di Asia Tenggara, Menuju Pemulihan Hubungan Dan Kerjasama [3]

Islam datang ke Asia Tenggara pada abad ke-12 Masehi. Islam dibawa oleh para pedagang Muslim dan para pengkhotbah dari Gujarat di India, Cina, Persia, dan Hadhramaut di Yaman ketika mereka melayari Samudra Hindia, Selat Malaka, Teluk Siam, dan Laut Cina Selatan. Abad ke-13 Masehi menyaksikan berdirinya kerajaan Islam pertama di Pasai, Sumatra. Islam yang dibawa para mistikus Sufi yang menaruh tekanan pada orientasi humanistik Islam yang menekankan cinta dan kasih sayang sesama. Hal itu merupakan pertemuan di antara tradisi panteistik-monoteistik mistisisme Islam dan monisme Hindu- Buddha dalam bentuk pemujaan Syiwa dan Buddha. Hal ini memunculkan sinkretisme Islam—suatu kombinasi ajaran-ajaran Islam yang bercampur dengan Hindu, Buddha, dan kepercayaan- kepercayaan serta praktek-praktek ritual animis. Sebagai gerakan dari atas ke bawah, para elit Jawa terkadang melihat diri mereka sebagai Muslim, Hindu, dan Buddha sekaligus.

Orang Islam yang membawa Islam pertama kali ke Indonesia dan kemudian ke Malaysia dan Thailand selatan, di antara abad ke-12 dan ke-15, sebagian besar adalah para mistikus Sufi . Islam yang diperkenalkan di wilayah ini berorientasi mistik dan sebagian besar dibentuk oleh tradisi-tradisi Sufisme Persia dan India. Dalam terminologi religius, ia merupakan suatu pertemuan di antara pandangan Hindu akan moksha (pembebasan) melalui gagasan Hindu atas monisme, gagasan Buddha akan dhamma— ajaran yang berarti Hukum dan kehidupan yang dijalani sesuai dengan hukum. Dhamma adalah “jalan kebenaran,” atau cara berperilaku yang ‘benar’, ‘tepat’, ‘pantas’ atau ‘patut’; nirvana (pencerahan) melalui pencapaian sunyata (kekosongan). Dalam Islam, konsep ini ekuivalen dengan fana, yaitu lenyapnya identitas seseorang dengan bergabungnya ia ke dalam ada Universal sebagaimana diuraikan dalam panteisme monistik kaum Sufi.

Baca Faktor Syiah dalam Masuk dan Tersebarnya Islam di Asia Tenggara (7)

Berangsur-angsur muncullah suatu kebudayaan sinkretik cangkokan, khususnya di Jawa dan di bagian-bagian lain Asia Tenggara, yang memunculkan suatu versi Islam yang bersifat mistis, cair, dan lunak, yang memelihara spritualisme yang khas di wilayah itu. Dari segi dialog antaragama, saling bertukar di antara pandangan-pandangan dunia Islam dan Buddha melibatkan pertukaran lintas-budaya di antara apa yang disebut sebagai diin dalam Bahasa Arab, agama dalam BahasaIndonesia-Melayu, dan sāsana dalam Bahasa Sanskerta dan Pali. Semuaistilah ini mengacu kepada agama sebagai jalan hidup, dan semuanya mempunyai corak arti yang bersifat lokal. Oleh karena itu, saling bertukar di antara Islam dan Buddha bukan sekedar interaksi dua-arah di antara pandangan-pandangan kedua agama yang direifi kasi, tetapi juga melibatkan keberagaman regionalnya.

Sayangnya, sekarang ini koeksistensi historis di antara tipe-tipe berbeda keBudayaan, madzhab Islam, dan agama-agama lain di Asia Tenggara sedang dihancurkan oleh promosi kebencian di antara umat Muslim sendiri dan juga di antara agama-agama lain. Bahaya yang sedang menyebar itu tak selalu berakar dalam agama-agama itu sendiri, melainkan juga dari eksploitasi dan manipulasi agama dan madzhab untuk alasan-alasan politis, ekonomis, dan lainnya. Berkaitan dengan Persia atau Iran masa kini, negeri-negeri Muslim Asia Tenggara mempunyai ikatan ekonomi kuat dengan negeri itu, tetapi sayang Syiah telah dinyatakan sebagi madzhab yang menyimpang di Malaysia dan Indonesia. Sementara faktanya bahwa baik kelompok Sunni maupun Syiah percaya pada Tuhan, Nabi dan Alquran yang sama.

Dalam artikel ini, Bagian Pertama terlebih dahulu akan mendiskusikan sejarah pengaruh Persia di Asia Tenggara sehubungan dengan ko-eksistensi Muslim. Bagian Kedua akan menyentuh ancaman-ancaman bagi kesatuan Sunni-Syiah di Asia Tenggara dan diakhiri dengan kesimpulan.

bersambung….

Dikutip dari artikel Imtiyaz Yusuf dalam buku Sejarah dan Budaya Syiah di Asia Tenggara.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top