Saturday , July 4 2020
Breaking News
Pengaruh Historis Persia pada Islam di Asia Tenggara [2]

Pengaruh Historis Persia pada Islam di Asia Tenggara [2]

Bagian Pertama

Pengaruh Persia di Asia Tenggara di Bidang Literatur; Perdagangan termasuk Persaingan Niaga Di antara Orang Persia dan Portugis selama Era Safavid Era; hadirnya Pengaruh kaum Syiah; Sufisme; Dampak Persia; dan Orang Persia di Thailand; Dampak Lembaga Politis: Dari Bodisatwa hingga Al-Insan al-Kamil; Jabatan Chularajmontri atau Syaikh al-Islam di Thailand hingga 1945.

Literatur

Genre nasihat dari literatur kuno Persia digambarkan baik dalam literatur Melayu klasik. Salah satu contoh adalah Taj al-Salatin karya Bukhāri al-Jawhari (dari Johor di selatan Semenanjung Malaysia) dari abad ke-17, diterjemahkan untuk para penguasa kesultanan Aceh di Sumatra dari sumber Persia yang tak dikenal ke dalam bahasa Melayu. Karya-karya lain seperti, Bustan al-Salatin karya Nur-al-Din ar-Rāniri, musuh sengit kaum mistikus seperti Hamzah Fanshuri dari kaum legalistik, yang ditulis di Aceh didasarkan pada model literatur Persia. Pengaruh Persia juga ditemukan dalam peran kuat yang dimainkan di bidang mistisisme dalam penyebaran Islam di Nusantara.

Bagaimanapun juga, pengaruh orang Persia di Aceh, yang mempunyai hubungan bahari dan perdagangan dengan India dan wilayah teluk Persia, lebih kelihatan dalam pemikiran dan mistisisme Islam abad ke-17. Hamzah Fanshuri, penyair mistik Melayu yang sukar dimengerti, adalah eksponen utama dan penabur paham wujudiyah atau kesatuan eksistensiyang berasal dari ajaran panteistik Ibn al-Arabi. Fansuri lahir di Ayutthaya, ibu kota Siam. Selain Bahasa Melayu, dia fasih dalam Bahasa Arab dan Persia. Dalam beberapa karyanya, dia mengutip dari para empu mistisisme Persia klasik seperti Šabestari, baik dalam Bahasa Persia maupun dalam terjemahan Melayu.

Konflik di antara Ar-Rāniri dan Fanshuri menggambarkan petarungan antara Sufi sme “ortodoks” atau “tenang”, sebagaimana yang dipromosikan oleh Sirhindi kira-kira pada saat yang sama di India (Wafat 1624), dan Sufi sme yang bersifat “heterodoks,” “panteistik”, dan meluasnya konfl ik dari India ke Asia Tenggara digambarkan dengan munculnya perdebatan di antara Ibn al-Arabi, Syaikh Ahmad Sirhindi, dan Sufi sme Ghazali yang terikat syariah di Asia Tenggara. [M. Ismail Marcinkowski, “Thailand-Iran Relations” http://www.iranicaonline.org/articles/thailand-iran-relations. Lihat juga, Bakar dalam Nasr 1991.]

Perdagangan pengaruh budaya Persia juga dapat dilihat sehubungan dengan kepangeranan Melayu dan emporium perdagangan Malaka, sebuah negara yang berlangsung mulai dari abad ke-15 hingga ditaklukkan orang Portugis 1511 (Andaya, Malacca; Muhammad Yusoff Hashim, trj. D. J. Muzaffar Tate, The Malay Sultanate of Malacca). Meskipun Malaka setidaknya secara nominal merupakan protektorat Siam, yang juga mengklaim kekuasaan mutlak atas seluruh Semenanjung Malaya (Wyatt, The Thai ‘Palatine Law’ and Malacca), ia mampu memantapkan diri sebagai kekuasaan terkemuka di Nusantara, yang memberi daya dorong baru penyebarluasan Islam yang penuh semangat di wilayah itu (untuk pengantar yang sangat bagus lihat Gordon dan Al-Attas, Indonesia. iv-History: (a) Islamic period).

Pada masa itu, bahasa Persia adalah penghubung di dunia niaga Samudra India dan suatu komunitas saudagar berbahasa Persia ada di Malaka. Jabatan dengan gelar Persia Shahbandar (“Kepala Pelabuhan”), dikenal di banyak pelabuhan niaga Samudra Hindia, di beberapa bagian Kekaisaran Utsman juga ditetapkan di Malaka. Hal itu menarik perhatian beberapa sarjana Barat (lihat Andaya, The Indian ‘Saudagar Raja’ (The King’s MerchantsI in Traditional Malay Courts; Moreland, The Shahbandar in the Eastern Seas: Raymond, Shahbandar: In the Arab world; Hooker, Shahbandar in South-East Asia; Yule and Burnell, Hobson-Jobson, hlm.816-17, s.v. Shabunder, dengan referensi yang rinci, dan ibid, hlm.914, s.v. Tenasserim). Jabatan itu tampak telah dikenal di wilayah Samudera Hindia sedini kira-kira 1350 (Yule and Burnell, Hobson-Jobson, hlm.816, s.v. “Shabunder,” mengacu pada kunjungan Ibn Battutah ke pantai Malabar di India selatan).

Pengenalan kapal uap ke Samudra Hindia oleh kekuasaan kolonial Inggris dan Belanda pada awal pertengahan abad ke-19 memfasilitasi kontak Muslim Asia Tenggara dengan negeri-negeri Arab di Timur Tengah, khususnya dengan tempat-tempat keramat di semenanjung Arab dan pusat-pusat studi di Mesir. Kembalinya para haji dan orang-orang yang mendalami agama mulai menyebarkan ide-ide puritanisme Islam, khususnya Wahhabiyah, di Nusantara. Tradisi Sufisme fi losofis Fanshuri dan para pengikutnya semakin dikaitkan dengan bid’ah dan pemikiran yang menyimpang, seperti paham Syiah “dari Persia”. Perkembangan yang bersifat mengecilkan ini sekarang ini terus berlangsung dan mempengaruhi secara negatif iklim umum stabilitas dan keilmuan. [Lihat Marcinkowski, “Thailand-Iran Relations” http://www.iranicaonline.org/articles/thailand-iran- relations]

Persaingan Niaga di antara Orang Persia dan Portugis

Di periode Safavid (1501-1736), kita dapat menyaksikan perdagangan yang pesat dengan Asia Tenggara, sementara terjadi persaingan hebat antara para pedagang Persia dan Portugis. “Di kalangan saudagar Muslim, orang-orang yang berasal dari Shiraz tampak menonjol khususnya dalam perdagangan Teluk Persia dan mereka berdagang dengan perusahaan-perusahaan dagang Hindia Timur (Floor, 1366 S./1987, di setiap bagian; idem, 1988b, bab.1). Perdagangan dengan India khususnya terpusat di tangan orang-orang India, meskipun saudagar Yahudi juga aktif (Du Mans, hlm. 193-94; Fryer, II, hlm. 247-48).

Perdagangan lokal mungkin dikemudikan terutama oleh orang-orang Muslim Persia. Pada akhir abad ke-18 jelas bahwa perdagangan luar negeri juga sebagian besar berada di tangan orang-orang Persia ( Francklin, hlm. 60; Kinneir, hlm. 198). Hubungan budaya dan perdagangan Persia dengan Asia Tenggara sudah berlangsung jauh sejak periode pra-Islam. Berkenaan dengan periode Sasanid dan awal Islam, studi yang dilakukan Colless dan Tibbetts (lihat dalam bibliografi ) sangat penting. Akan tetapi, hubungan diplomatik resmi di antara kedua wilayah, yang diilustrasikan dengan pertukaran misi-misi non-permanen ketimbang kedutaan-kedutaan ektsrateratorial yang permanen, dapat dilacak baru pada periode Safavid.

Kontak di antara orang Persia— baik lewat anak benua India atau langsung dari negeri Iran—dengan rakyat Thailand menjadi mungkin terjadi baru sesudah penghunian berangsur-angsur dan dominasi dataran-dataran tengah Thailand yang sekarang. Proses migrasi ini berpuncak pada pendirian Ayutthaya pada tahun 1351 oleh Raja U Thong (berkuasa 1351-1369 dan yang bergelar Ramathibodi) sebagai ibu kota kerajaan Thailand yang kemudian dikenal sebagai Siam. Ayutthaya terletak kira-kira 80 km ke utara Bangkok modern.

Ia bertempat secara strategis di atas sungai Chao Phraya yang dapat dilayari hingga ke Teluk Thailand. Ayutthaya ditakdirkan menjadi salah satu emporia perdagangan yang paling penting di wilayah itu, dengan letak yang sama jauhnya dari Asia Timur, Cina, dan India.

Pengaruh Religius Kaum Syiah di Asia Tenggara

Islam di Asia Tenggara mempunyai dimensi Sufisme yang kuat dari Persia, India, Cina dan Yaman yang bercampur dengan monisme Hindu setempat dan non-teisme Buddha. Akan tetapi, lebih disukainya Nur-al-Din al-Raniri (wafat 1656), yang lahir India (lihat Al-Attas, A Commentary on the ‘Hujjat al-Siddiq’ of Nur al-Din al-Rāniri, Intro.) oleh para penguasa Aceh yang setia pada Sunni Syafi’i, memulai suatu periode legalisme, yang menghasilkan penganiayaan dan penindasan Sufisme heterodoks non-konformis yang dikaitkan dengan Fanshuri and para pengikutnya.

Di masa lampau, konfl ik di antara “heterodoksi” dan “ortodoksi” di Aceh abad ke-17, yang dilambangkan oleh kontestasi antara Fanshuri and Rāniri, biasanya dikaji dalam konteks mistisisme saja (lihat Al-Attas, Raniri dan the Wujudiyyah of 17th Century Aceh). Akan tetapi, lazimnya pemikiran kaum Syiah di kalangan Sufi “heterodoks” di Aceh juga harus dipertimbangkan. Fanshuri sendiri mengacu kepada imam pertama kaum Syiah, Ali bin Abu Thalib, dalam beberapa puisinya. Nampaknya, dia juga sempat pergi ke Irak selama perjalanannya ke Timur Tengah. [Lihat Marcinkowski, “Southeast Asia: Persian Presence in Southeast Asia http://www.iranicaonline.org/articles/southeast-asia-i]

bersambung….

Dikutip dari artikel Imtiyaz Yusuf dalam buku Sejarah dan Budaya Syiah di Asia Tenggara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top