Thursday , September 19 2019
Breaking News
Perbaikan Birokrasi, Hapus Mentalitas Kerdil

Perbaikan Birokrasi, Hapus Mentalitas Kerdil

Dalam semester pertama tahun 2015, Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat terjadi 308 kasus korupsi dan menjerat 590 aparat penegak hukum sebagai tersangkanya.

Banyaknya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia bagi Ray Rangkuti, Pengamat Politik, alumnus UIN Syarif Hidayattullah Jakarta, adalah salah satu bukti watak bangsa kita yang kerdil.

Hal tersebut dia ungkapkan dalam diskusi budaya bertema “Memulihkan Mentalitas Kerdil”, Kamis (10/12) di Omah Btari Sri, Jakarta Selatan.

Lebih jauh Direktur Lingkar Madani (LIMA) itu mengatakan bahwa betapa vulgarnya praktik korupsi yang dilakukan oleh para pejabat kita yang mau tidak mau kita harus katakan bahwa praktik korupsi itu kekerdilan, dan pasti akan membuat bangsa ini terpuruk.

“Korupsi yang merajalela membuktikan pada kita bahwa watak bangsanya kerdil,” tegasnya.

Maka tema ini menjadi penting, bagi Ray sebagai sebuah pondasi untuk mengubah mentalitas bangsa, untuk menjangkau apa yang disebut sebagai revolusi mental, yaitu mengubah mentalistas elit politik yang berwatak kerdil menjadi lebih terbuka.

“Menjadi lebih empati pada orang lain dan memegang teguh dasar filosofi pancasila kita yaitu gotong royong”, tegas Ray.

Sementara itu, Mohammad Sobari yang juga menjadi pembicara pada hari itu menganggap kekeridilan itu terjadi di dalam birokrasi negara kita, yang pertama pada pengingkaran kewajiban dan tugas konstitusi dan lebih mementingkan kepentingan pribadi dan partainya daripada kepentingan rakyat.

Yang kedua adalah para birokrat bisa menjadi perampok dalam pengertian yang sedikit berbeda namun maknanya sama, yaitu merampok kebijakan yang diarahkan oleh level di atasnya.

“Perbaikan birokrasi merupakan salah satu entri poin untuk menyelesaikan masalah”, tegasnya.

Bagi Sobari, birokrasi tersebut yang harus dibenahi dalam revolusi mental, yang tak hanya menjadi slogan tapi juga harus hadir dalam tindakan.

Sebagai pembicara terakhir Prof. Dr. Thamrin Amal Tamagola, Profesor Sosiologi dari Universitas Indonesia, mengamini apa yang disampaikan oleh dua pembicara sebelumnya.

“Jiwa Kerdil dalam politik parpol dan politikus busuk sebagai warisan penjajah Belanda, harus direvolusi”, pungkasnya.(Lutfi/Abu Mufadhdhal)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top