Thursday , July 18 2019
Breaking News
Pergeseran Makna Salafi Dulu dan Kini

Pergeseran Makna Salafi Dulu dan Kini

Salafiyah di Indonesia semula adalah atribut yang identik dengan Ahlussunnah terutama NU. Karena itu, di papan pesantren-pesantren di Jawa tercantum kata ini.

Namun kini telah menjadi nama bagi para penganut teologi Ibnu Taymiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab. Nama wahhabiyah dan wahabisme, yang berkonotasi negatif, pun mulai hilang.

Teologi Ibnu Taymiyah yang sangat dibenci oleh seluruh Ahlussunnah kini menjadi fenomema yang menyebar secara eksesif di hampir seluruh negara Islam yang semula didominasi oleh Ahlussunnah empat mazhab.

Mungkin Salafiyah Taymiyah secara kuantitatif belum mengambil alih dominasi Islam Sunni di Indonesia dan negara-negara Islam lainnya. Tapi secara kualitatif sekte kaku ini sulit dianggap kecil. Sistem dan militansi adalah keunggulannya. Saya pernah membahas ini dalam tulisan dan tayangan video.

Salafisme tidak tampil dengan satu pola. Paling tidak ada empat Salafisme, yaitu Salafisme Teologis, Salafisme Ikhwani dan Salafisme Jihadi.

Salafisme Teologis adalah pandangan teologi Ibnu Taymiyah dan Muhammad bin Abdul Wahhab yang apolitik. Pandangan ini direpresentasi oleh para agamawan yang mendukung rezim Arab Saudi. Inilah wahabisme soft yang telah memasuki Indonesia sejak berdirinya kerajaan Arab Saudi dan hadir secara sporadis dalam aneka organisasi dan lembaga pendidikan agama dan Bahasa Arab.

Intoleransi yang diekspresikan oleh para penganutnya bersumber dari kebencian kepada apapun yang dianggap sesat, syirik dan bi’dah. Gerombolan ini tak becita-cita mendirikan negara Islam. Mungkin relijiusitas penganut salafiyah kategori ini, meski intoleran dan jauh dari logika, bisa dianggap tulus.

Salafisme Ikhwani adalah gerakan politik transnasional yang secara teologis dan pemikiran dipengaruhi oleh para pemikir garis keras dalam komunitas Sunni dengan cita-cita negara Islam. Gerakan ini semula hanyalah berupa organisasi kader yang bersifat lokal di Mesir lalu melebar ke negara-negara bermayoritas Sunni dengan mengusung cita-cita global, yaitu khilafah.

Salafisme Ikhwani tak muncul dengan satu pola gerakan dan satu wadah karena ragam pemikiran yang terus berkembang di dalamnya dan melahirkan friksi. Sebagian tetap konsisten dengan visi dan misi Ikhwanul Muslimin. Sebagian lain membawa isu khilafah dan menolak mengakui pemerintahan yang tak berasas khilafah sambil menyebarkan ide khilafah terutama di kalangan generasi muda relijius tak berlatar belakang santri. Sebagian lagi menempuh jalur formal dan meleburkan diri dalam dinamika politik domestik sembari menyembunyikan cita-cita mendirikan khilafah.

Salafisme Jihadi adalah gerakan teologi sekaligus politik dan militer. Salafisme agresif transnasional ini semula terwadahi dalam organisasi bernama Al-Qaeda dengan pola gerakan militer sporadis dengan target militer institusi negara adidaya AS dan rezim-rezim di Dunia Islam yang dianggap sebagai boneka-bonekanya.

Banyak analis menduga organisasi ini adalah produk rekayasa dinas intelejen AS yang dijadiikan sumber instabilitas di Dunia Islam. Namun ada pula yang menganggapnya sebagai gerakan yang muncul secara natural sebagai cetusan semangat membela umat Islam dari cengkaram AS dan sekutunya.

Salafisme Jihadi jilid dua adalah gerakan politik transnasional super agresif bahkan sadis yang semula dibentuk oleh para perwira loyalis diktator Irak yang roboh, Saddam Hossein. Semula hanya ingin mengambil alih Irak dengan mengusung cita-cita negara Islam di Irak. Setelah berhasil merekrut banyak serdadu dan para salafis dari seluruh dunia juga senjata dan dana, cita-citanya dikembangkan menjadi gerakan yang bercita-cita mendirikan negara Islam di Irak dan Suriah. Kemudian mengubahnya menjadi gerakan teroris global dengan cita-cita khilafah.

Gerakan ini dipastikan sebagai proxi AS dan Israel karena beberapa fakta. Alasan pertama, organisasi ini didirikan oleh para agen Baath loyalis Saddam Hossein yang sama sekali tidak relijius bahkan sekular. Kedua, target operasi militernya bukan hanya AS dan rezim-rezim yang dicap sebagai sekutu.
Ketiga, pola organisasinya terbuka dengan dukungan dana dan persenjataan dari Turki dan Suadi. Keempat, organisasi ini mendeklarasikan perang terhadap Syiah dan semua kelompok Islam yang tak mengakuinya.

Selain beberapa salafisme di atas, ada tipe salafisme praktis atau pragmatis. Yaitu kelompok yang tidak menganut teologi Ibnu Taymiyah dan Bin Dul Wahhab tapi menduplikasi pola gerakan dan militansinya. Isu yang diangkatnya tetaplah sama, yaitu penegakan Syariah dan negara Khilafah.

Salafisme, terutama yang bercita-cita mendirikan khilafah dengan ragam bentuknya diyakini sebagai ancaman terhadap persatuan umat Islam yang direpresentasi oleh Sunni dan Syiah stabilitas dunia, terutama stabilitas negara-negara Islam, tak terkecuali Saudi dan rezim-rezim yang menyusuinya, dan secara umum terhadap perdamaian umat manusia.

DR Muhsin Labib MA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top