Wednesday , December 11 2019
Breaking News
Perilaku Nabi saw terhadap Kaum Muda

Perilaku Nabi saw terhadap Kaum Muda

Nabi saw memperhitungkan daya masa muda dan kaum pemuda. Berulangkali beliau berpesan kepada sahabat-sahabatnya: ”Kenalilah potensi anak-anak muda, Hormatilah kepribadian mereka! Berikan kepada mereka tanggung jawab dan kontrollah mereka.” Beliau sendiri melaksanakan amal (perintah) ini supaya orang-orang dapat meneladani beliau. Di bawah ini beberapa contohnya:

Di awal Islam, As’ad bin Zurarah dan Dzakwan dari Madinah datang ke Mekkah. Di salah satu acara mereka bertemu dengan Nabi saw dan dengan penyampaian beliau, mereka menerima Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadah. Mereka berkata kepada Rasulullah ketika hendak kembali ke Madinah, ”Utuslah seseorang bersama kami ke Madinah untuk mengajarkan al-Quran kepada kami dan mengajak orang-orang kepada Islam. Rasulullah saw menugaskan Mush’ab bin Umair yang masih belia, tetapi mampu mengajar al-Quran dengan baik supaya pergi bersama As’ad dan Dzakwan ke Madinah dan mengajak orang-orang masuk Islam. Menjadi imam dalam shalat, Membacakan al-Quran kepada mereka dan berceramah.

Sampai di Madinah, Mush’ab memulai tablignya. Karena dia pemuda yang potensial, serius, utama dan bijak, maka orang-orang terutama anak-anak muda menerima dakwahnya dan Islam berkembang di Madinah. Kemudian Mush’ab menulis laporan tentang antusiasme orang-orang ini kepada Islam kepada Rasulullah. (1)

Nabi saw ketika bergerak maju ke medan perang Shiffin, beliau memilih ’Atab bin Asad, seorang pemuda berusia 21 atau 17 tahun sebagai pimpinan dan imam shalat jamaah di Mekkah. Beliau berkata, ”Tahukah kamu kedudukan apa dan kepada kaum mana, aku mengangkatmu? Aku mengangkatmu sebagai gubernur al-Haram (Mekkah).” (Beliau mengulangi perkataan ini sampai tiga kali). ”Berbuat baiklah kepada penduduk al-Haram.”

Baca juga: Kelahiran Nabi Muhammad Menurut Imam Shadiq As

’Atab diberi satu dirham setiap harinya. ’Atab dalam mengatur kota Mekkah, menyayangi dan mengasihi kaum mukmin. Bersikap kasar dan tidak ramah terhadap kaum penentang. Rajin hadir dalam shalat berjamaah. Membaca khotbah dan berceramah dengan baik. Di saat sedang berceramah, ia mengatakan: ”Nabi telah menetapkan gaji harian untukku satu dirham. Aku qana’ah (merasa cukup) dengan gaji ini dan aku tidak membutuhkan seorang pun?” (2)

Beberapa hari sebelum Rasulullah saw wafat, beliau berencana menyiapkan pasukan untuk berperang melawan bangsa Romawi. Untuk itu beliau memilih Usamah bin Zaid, seorang pemuda berusia 17 tahun, sebagai pimpinan pasukan dan menjadi amir bagi Muhajirin dan Anshar. Beliau mangatakan, ”Berhentilah di suatu tempat di luar kota sampai para pasukan-pasukan datang kepadamu hingga berkumpul semua.” Beliau memerintahkan Muhajirin dan Anshar, ”Susunlah pasukan Usamah dan jangan membangkang

Beberapa sahabat, dengan alasan Usamah masih muda, mereka tidak hadir di medan pertempuran dan tidak patuh. Ketika berita ini sampai kepada Nabi yang dalam keadaan sakit keras, beliau masuk mesjid dan naik mimbar. Setelah menyampaikan pujian kepada Allah, beliau berkata, “Perkataan macam apa yang kalian lontarkan tentang kepemimpinan Usamah. lantaran dia muda kalian tidak mau mengikuti Islam? dulu juga kalian protes kepemimpinan ayahnya. Demi Allah, Usamah layak sebagai pimpinan pasukan. dia termasuk yang terbaik. susunlah pasukannya dan patuhilah dia.” (3)

Catatan Kaki:

  1. Bihar al-Anwar, juz 19, hal., 10-11
  2. Sirah al-Halabi, juz 3, hal., 120
  3. Bihar al-Anwar, juz 21, hal., 410; Tarikh al-Ya’qubi, juz 2, hal., 113.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top