Monday , January 20 2020
Breaking News
Peringatan KAA Ke-60: Tagih Hutang Dunia Merdekakan Palestina

Peringatan KAA Ke-60: Tagih Hutang Dunia Merdekakan Palestina

Sepekan menjelang peringatan KAA (Konferensi Asia Afrika), yang akan digelar di Bandung, muncul beragam respon dari masyarakat Indonesia. Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta misalnya, dalam menyambut peringatan itu menggelar seminar kebangsaan bertema “Peran Mahasiswa dalam Membangun Hubungan Internasional,” di aula UBK Jakarta.
 
Luhut Binsar Pandjaitan Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia menjadi salah satu pembicara. Ia menuturkan saat itu Asia-Afrika ingin membangun aliansi sendiri (kemudian tercetus menjadi gerakan Non-Blok) yang lepas dari dua blok; komunis dan imperialis yang saat itu sedang perang dingin.
 
“Ada 5 orang tokoh (penggagas KAA) ini dengan sistem komunikasi yang sangat sederhana waktu itu telah mampu membangun, membuat bangsa-bangsa di benua Asia dan benua Afrika bersatu. Itu tidak mudah. Itu yang membuat banyak negara-negara merdeka di kemudian hari,” kata Luhut. Ia berharap, mahasiswa saat ini memiliki semangat yang lebih besar dari itu.
 
Seminar kebangsaan pada Selasa (14/4) itu, juga menghadirkan Rizal Sukma, Direktur Eksekutif  Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Ia menegaskan, KAA punya spririt utama yaitu anti kolonialisme.
 
Apa manfaatnya memperingati KAA?

“Pertanyaan yang wajar dalam konteks bagaimana melakukan rekonteksiliasi, atau mencari relevansi peristiwa 60 tahun lalu dengan tujuan-tujuan utama yang sebagian besarnya mungkin sudah tercapai. Kecuali kemerdekaan satu negaram Jadi KAA tahun 55 masih punya hutang yaitu masih belum bisa membebaskan Palestina dari kolonialisme Israel,” kata Rizal.
 
Dunia menurutnya, masih punya hutang. “Momen ini kita manfaatkan untuk menagih janji pada dunia. Nanti saya kira, baik di Jakarta dan Bandung akan deklarasi mengenai dukungan kemerdekaan Palestina,” paparnya.
 
“Jadi tidak hanya sekedar refleksi, komitmen Indonesia terus berusaha memerdekakan Palestina, tapi juga hutang dunia. Terutama semangat KAA 55 yang memiliki spirit anti-kolonialisme, harus ditagih,” tegas Rizal. (Malik/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top