Saturday , March 28 2020
Breaking News
Persatuan Sunni Syiah, Kunci Hadapi Arogansi Global

Persatuan Sunni Syiah, Kunci Hadapi Arogansi Global

Salah satu karakteristik umat Islam dalam al-Quran adalah persatuan Islam. Agama Ilahi ini menetapkan prinsip persaudaraan Islam sebagai basis setiap interaksi antar umat Islam.

Prinsip ideologi muslimin, seperti ideologi tauhid, kenabian, maad (hari akhir), shalat, puasa, satu kiblat, dan kitab suci, juga berbagai prinsip lain serta sunah Nabi saw yang menyeru persatuan dan rekomendasi untuk menghindari perdebatan serta friksi dengan saudara sesama agama, termasuk momentum yang dapat mereduksi perpecahan dan friksi antar masyarakat Islam sekaligus mempererat persatuan dan solidaritas.

Sampai saat ini, para ulama dan cendekiawan berusaha keras merealisasikan tujuan ini. Namun, salah satu gerakan paling penting selama tiga dekade terakhir adalah pembentukan Forum Internasional Pendekatan Antar-Mazhab (Majma Taqrib bainal Mazahib) yang diusulkan Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei.

Forum yang dibentuk pada 19 Mehr 1369 Hs (11 Oktober 1990) adalah lembaga Islam berbasis rakyat, keilmuan, budaya, internasional, dan beranggotakan individu serta tokoh independen dan non pemerintah. Forum ini dibentuk untuk mendekatkan para pengikut mazhab Islam. Tanggal 11 Oktober dicanangkan sebagai hari pembentukan forum ini.

Impian dan harapan para tokoh serta ulama dunia Islam adalah mendekatkan mazhab-mazhab Islam serta mempersatukan barisan umat Islam. Taqrib atau pendekatan, sejatinya merupakan gerakan yang dirintis para ulama dari berbagai mazhab Islam. Tujuannya untuk mendekatkan para pengikut Syiah dan Ahlussunnah serta menghapus friksi di antara mereka dan mempersatukan mereka demi mematahkan konspirasi musuh Islam.

Sepanjang sejarah, banyak upaya telah dilakukan untuk merealisasikan pendekatan ini. Namun, mengingat upaya pemimpin dan sultan di jalan ini penuh dengan tujuan dan ambisi politik, maka upaya tersebut gagal terealisasi. Misalnya, Nader Shah Afshar. Di tengah perang antara Iran melawan Ottoman serta serangan pasukan Ottoman ke perbatasan Iran, ia mengusulkan ulama senior Syiah dan mufti Ottoman, Abdullah Suwaidi untuk membentuk majelis diskusi di Baghdad. Tapi, langkah ini gagal akibat sabotase dan prasangka buruk mufti Ottoman.

Di abad ke-14 Hijriah, Sayyid Jamaluddin Asadabadi juga menggulirkan isu persatuan Islam di majalah Urwatul Wutsqa. Sayyid Jamal meyakini pentingnya interaksi yang telah dirancang di antara seluruh bagian dan anggota masyarakat Islam serta menyatakan umat Islam harus tunduk pada pemerintahan yang menjadikan al-Quran sebagai landasannya.

Sayyid Jamal mengatakan, “Saya tidak mengatakan satu orang menguasai seluruh negeri Islam, karena hal ini sangat sulit. Tapi saya berharap penguasa seluruh bangsa Muslim hanya menjadikan al-Quran dan agama sebagai faktor pemersatu di antara mereka. Dengan persatuan ini, setiap raja dan penguasa di negaranya dapat berusaha menjaga hak negeri Islam lainnya. Sebab, kehidupannya bergantung pada kehidupan yang lain dan kelanggengannya bergantung pada kelanggengan bangsa Muslim lainnya.” Tapi dengan ditutupnya majalah Urwatul Wutsqa, isu persatuan umat Islam beberapa waktu sempat senyap.

Setelah majalah Urawatul Wutsqa ditutup, Mohammad Abduh, rekan Sayyid Jamaluddin Asadabadi yang merupakan warga Mesir, menerbitkan majalah tersebut di Beirut dan melakukan kerjasama dengan sejumlah tokoh seperti Abu Turab Sawiji, pembantu Sayyid Jamaluddin dan Mirza Mohammad Baqir Bawatani (penerjemah Inggris majalah Urwatul Wutsqa). Kerjasama itu diwujudkan dengan membentuk forum pertama pendekatan antar mazhab. Selanjutnya tokoh-tokoh dari Iran, Ottoman, Inggris, dan India bergabung dalam forum itu. Sayang, usia forum itu terbilang pendek.

Selanjutnya, pada 1938, Mohammad Taqi Qommi asal Iran berimigrasi ke Mesir dan membentuk Dar at-Taqrib bainal Mazahib al-Islamiyah di Kairo. Langkah ini tercatat sebagai yang terpenting dalam pendekatan keilmuan. Sementara itu, Perang Dunia II mempengaruhi jalannya gerakan ini dan Qommi akhirnya keluar dari Mesir.

Pada 1956, Qommi kembali ke Mesir dan memulai aktivitasnya. Forum itu kemudian menjadi tempat berkumpulnya ulama dan cendekiawan Syiah dan Sunni. Sementara itu, Ayatullah Hossein Boroujerdi, salah satu marja Syiah, mendukung tujuan forum itu. Bahkan, hubungan bersahabat serta korespondensi antara Ayatullah Boroujerdi dan Mahmud Syaltut berujung pada perilisan fatwa terkenal Syaltut yang mengakui secara resmi mazhab Syiah.

Syaikh Syaltut

Syaikh Syaltut, seorang ulama Sunni, menyebut bahwa salah satu masalah terpenting dalam pembentukan persatuan adalah meraih sisi kolektif dan persamaan yang diyakini oleh setiap mazhab. Ia menyebutkan bahwa poin persamaan ini adalah al-Quran. Terkait dengannya, Syaikh Syaltut mengatakan, Islam menyeru umatnya bersatu dan menyatakan Hablullah (Tali Allah), di mana semua muslim harus berpegang teguh dengannya.

Dalam kesempatan lain, Syaikh Syaltut menyebut Kitabullah (al-Quran) dan sunah Nabi sebagai titik persamaan seluruh mazhab. Ia memisahkan antara friksi ilmiah di forum ulama dan fanatisme buta yang ada di kalangan masyarakat awam. Terkait dengannya, ia mengatakan, “Perbedaan pendapat itu suatu keniscayaan sosial dan hal alami yang tidak dapat dihindari. Namun, ini berbeda dengan perbedaan dan friksi yang mengarah pada fanatisme mazhab dan kejumudan pemikiran. Fanatisme memutus akar persatuan muslim dan menumbuhkan permusuhan serta kedengkian di hati. Tapi perbedaan yang didorong oleh studi dan riset dengan menghormati pendapat dan pemikiran orang lain adalah terpuji dan diterima.”

Menurut pendapat Syaltut, pembahasan ilmiah dan teknis untuk menghapus perbedaan dan fanatisme akibat kelalaian selama bertahun-tahun serta kebodohan dan konspirasi telah dimulai. Karena itu, ulama dan seluruh lapisan masyarakat Islam selain harus menjaga identitasnya juga harus mengenyampingkan fanatisme keliru demi cita-cita besar umat Islam yang bersatu.

Sebagai kelanjutan dari ideologi ini, pasca kemenangan Revolusi Islam Iran (22 Bahman 1357 Hs) dan terbentuknya Republik Islam Iran, perhatian khusus terhadap persatuan dan pendekatan muslim serta upaya mencegah segala bentuk perpecahan, mulai marak. Imam Khomeini, pendiri Republik Islam Iran, menyatakan bahwa persatuan Islam adalah slogan strategis yang muncul dari kedalaman keyakinan Islam.

Imam Khomeini menegaskan bahwa pendekatan antar mazhab dan persatuan umat Islam merupakan faktor kehormatan umat Muslim. Dalam kondisi saat ini, Bapak Republik Islam Iran ini menilainya sebagai kewajiban umat Islam sesuai dengan instruksi dan ajaran al-Quran.

Imam Sayyid Ali Khamenei

Sementara itu, pengganti Imam Khomeini, Imam Ali Khamanei juga menekankan persatuan umat Islam. Dalam perspektif beliau, maksud persatuan di sini bukannya kita menjadikan Syiah sebagai Sunni, atau Sunni menjadi Syiah. Namun, maksud persatuan adalah seluruh umat Islam merasa menjadi bagian dari umat yang satu dan tidak terpisah.

Muslim harus merasa bahwa keyakinan, prinsip fikih, tanggung jawab, kewajiban, dan hak mereka sama. Karena itu, seluruh umat Muslim harus bangkit sebagai umat yang satu melawan berbagai kesulitan dan kendala umat Islam. Terkait dengannya, pada 1990, atas inisiatif dan prakarsa Imam Ali Khamenei, dibentuklah Forum Internasional Pendekatan Antar Mazhab. Forum ini bertanggung jawab atas upaya pendekatan di dunia Islam dengan menggelar kongres persatuan setiap tahun yang melibatkan para cendekiawan dan ulama Islam di Iran atau negara Islam lainnya.

Majma al-Taqrib (Forum Pendekatan) menilai, peradaban baru Islam, menghidupkan umat Islam yang satu dan meraih saham yang tepat di lingkaran kekuasaan dan sistem global sebagai cita-cita bersama seluruh bangsa Muslim. Dalam pada itu, forum ini meyakini bahwa nasib bersama dan tak terpisahkan mazhab Islam dan persatuan muslim merupakan solusi tunggal untuk menjaga umat Islam serta meraih cita-cita bersama.

Untuk merealisasikan cita-cita ini, Majma al-Taqrib mulai membentuk berbagai aliansi dan organisasi bersama, media pendekatan, kinerja bersama untuk menangani isu-isu kolektif, serta berbagai langkah lainnya yang efektif demi menggalang persatuan. Forum ini fokus terhadap kepentingan bersama, bersandar pada kesamaan yang ada, serta menerima perbedaan antar mazhab, seraya menilainya sebagai peluang bagi pendekatan antar mazhab. Sementara, untuk interaksi antar pengikut mazhab Islam, forum ini berusaha meningkatkan kesadaran dan pengetahuan, menyebarkan penghormatan terhadap mazhab lain, toleransi, persaudaraan (ukhuwah), saling bantu, serta menghapus kendala pendekatan di antara mereka.

Majma al-Taqrib sebagai lembaga spesialisasi pendekatan terpenting, melakukan misi Ilahinya berdasarkan ajaran al-Quran, sunah dan itrah nabawi, serta pemikiran ulama dan cendekiawan Islam, dus kebijakan kolektif anggota forum dan komitmen terhadap prinsip moral Islam. Di jalan ini, Majma al-Taqrib siap bekerjasama dengan lembaga dan yayasan taqrib lainnya, hauzah ilmiah atau pesantren, dan universitas Islam di berbagai negara.

Misi Majma al-Taqrib adalah meningkatkan level pengetahuan dan kesadaran, serta memperdalam dan saling memahami antara pengikut mazhab Islam sekaligus memperkokoh mazhab Islam dan penghormatan timbal balik serta memperkuat persaudaraan di antara umat Islam tanpa melihat perbedaan etnis, kelompok, atau bangsa demi mencapai umat yang satu.

Di awal aktivitasnya, lembaga Majma ini menggulirkan teori pendekatan, dan melalui kerjasama dengan lembaga riset dan studi di bawah naungannya, mulai menyusun teori. Selanjutnya, Lembaga Majma memasuki tahap kedua dari aktivitasnya, yakni tahap wacana pendekatan. Pada tahap ini, Majma al-Taqrib mulai menyebarkan wacana pendekatan antar mazhab di level dunia Islam dan dengan bantuan lembaga di bawahnya serta melalui banyak upaya, akhirnya berhasil menjadikan wacana persatuan dan pendekatan mazhab mendapatkan apresiasi, bahkan marak di dunia Islam.

Pada tahap ketiga, dengan membentuk lembaga dan berbagai yayasan, serta memanfaatkan kapasitas dan kemampuan yang ada dalam sektor sosial, budaya, ekonomi, dan politik, Majma al-Taqrib berusaha memperluas misi pendekatannya di seluruh level.

Dengan membentuk berbagai organisasi seperti persatuan muslimah dunia, persatuan ulama muqawama sedunia, persatuan teknologi dan sains sedunia, persatuan akademisi dan budayawan sedunia, persatuan partai muqawama sedunia dan persatuan pedagang sedunia, Majma al-Taqrib aktif menyukseskan misinya.

Seraya menekankan tidak adanya teladan tunggal bagi seluruh negara Islam dan di berbagai negara lain, kondisi geografi, sejarah dan sosial khusus negara tersebut menjadi penentu, Majma berusaha menarik perhatian negara-negara Islam pada prinsip bersama yang dimiliki semua umat Muslim yang bisa dijadikan faktor persatuan mereka.

Mungkin saja saat ini, diakibatkan konspirasi kubu arogan dan negara reaksioner di dunia Islam, persatuan Islam terbayang-bayangi dan gerakannya sedikit melambat. Namum, secara pasti, gerakan ini tidak musnah, karena al-Quran, hadis, dan iman terhadap ajaran Islam merupakan landasan utama gerakan ini. Kami berharap konspirasi ini akan musnah dan persatuan di dunia Islam setiap hari semakin luas. (hajij)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top