Friday , November 22 2019
Breaking News
Pesan Cinta Di Balik Bencana

Pesan Cinta Di Balik Bencana

Pesan Cinta Di Balik BencanaSepercik air jatuh dari sudut terpal tenda ke pipi keriput Mak Ijah. Perempuan tua itu mengusap pipinya yang basah. Berselimut jarit bercorak batik yang baru diambilnya kemarin sore dari posko banjir terdekat, serasa ngilu giginya menahan dingin pagi itu.

Mak Ijah tak punya pilihan lain saat rumahnya di dekat bantaran kali itu terendam banjir setinggi 2 meter. Apalagi saat gerobak nasi uduk, perabotnya mengais nafkah dan mencari biaya sekolah dua anaknya yang masih SD pun ikut hanyut dilahap banjir. Kini janda tua bersama puluhan warga lain korban banjir itu harus pasrah menunggu air surut di tenda pengungsian.

Mak Ijah tak sendirian. Mak Ijah-Mak Ijah lain di berbagai pelosok negeri mengalami nasib serupa, kalau tidak malah lebih tragis. Apa bisa dikata, akhir-akhir ini memang musibah dan bencana alam silih berganti melanda Bumi Pertiwi. Mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi, hingga letusan gunung berapi.

Sisi Lain Bencana 

Ustad Miqdad Turkan, salah seorang anggota Dewan Syura Ormas Islam Ahlulbait Indonesia yang tinggal di Jepara kami hubungi terkait fenomena bencana ini dalam pandangan Islam. Kami menghubunginya karena Ustad Miqdad tak hanya dikenal sebagai ‘ustad pengajian’ tapi juga selalu turun aktif ke lapangan dalam berbagai kegiatan sosial.

Melalui sambungan telepon Ustad Miqdad memaparkan bahwa; pertama-tama, kita tidak boleh berpikiran sempit. Memang benar di satu sisi bencana alam menyisakan kisah duka dan air mata, tapi wajah bencana bukan melulu soal duka dan kehilangan. Dan bukan pula berarti, apa yang dipersepsi orang sebagai bencana itu mutlak buruk, karena Allah Swt sebagai sumber kebaikan mustahil menciptakan keburukan. Ada sisi lain bencana yang juga harus kita pahami agar bisa menyikapinya dengan bijak dan proporsional.

“Bencana alam, di satu sisi membuat manusia sadar akan ketakberdayaannya dan ingat kembali kepada Allah SWT, membangkitkan hati nurani, melepas ego, melebur dalam kebersamaan dan kesadaran sosialnya,” terang Ustad Miqdad.

“Selanjutnya, kita harus memahami bahwa alam semesta ini diciptakan Allah SWT dengan sistem yang menyeluruh dan sempurna,” tambahnya. “Dan hukum Allah tak pernah berubah,” tekannya. Menurutnya terjadinya bencana adalah bagian dari sunnatullah yang tak bisa ditolak. Jika hujan lebat, sungai dangkal, dan sistem drainase buruk, tentu saja bencana banjir adalah konsekuensi yang tak terelakkan.

Lalu bagaimana cara kita mencegah atau setidaknya meminimalisir efek bencana? Ustad Miqdad menjelaskan di sinilah pentingnya kesadaran lingkungan di tengah masyarakat. Bahwa manusia mesti menyadari mereka adalah bagian tak terpisahkan dari alam itu sendiri. Ketika manusia hanya mementingkan diri sendiri dan berbuat zalim pada alam dengan menebang hutan seenaknya, membuang sampah sembarangan, mengabaikan pendangkalan aliran sungai, maka dia sendirilah yang akan terkena akibatnya.

Karena itu Ustad Miqdad mengingatkan agar masyarakat lebih bersikap adil dan mencintai alam. “Bila kita mencintai alam dan memiliki kesadaran lingkungan, insya Allah kita pun akan dicintai dan dilindungi oleh alam.” (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top