Tuesday , February 25 2020
Breaking News
Pesan Sejarah Al-Qur’an: Jangan Ulangi Kesalahan yang Sama

Pesan Sejarah Al-Qur’an: Jangan Ulangi Kesalahan yang Sama

Ratusan mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Islam Shadra, Jumat (20/2) memenuhi ruang auditorium Shadra dalam Seminar Nasional bertema “Al-Qur’an dan Sejarah Manusia.” Dalam seminar ini hadir Prof. Dr. Azyumardi Azra sebagai pembicara utama.

Azyumardi membahas kevalidan historisitas al-Qur’an yang tak terbantahkan sebagai salah satu kemukjizatan terbesar kitab suci umat Islam tersebut.

“Mukjizat al-Qur’an adalah historisitasnya itu. Kevalidannya tidak terbantahkan. Beda dengan kitab-kitab suci lain yang sejarah historisitasnya itu sering diragukan orang. Dan itulah yang mengakibatkan kitab-kitab suci yang lain itu sering harus disunting atau diedit. Kalau al-Qur’an memang tak perlu diedit dan memang tak pernah diedit,”terang Azyumardi.

Menurut Azyumardi, keotentikan historis al-Qur’an ini tak bisa dilepaskan dari sosok Nabi Muhammad. “Ini terkait dengan sosok Muhammad Rasulullah saw yang juga tingkat historisnya itu tak tertandingi,” tambah Azyumardi.

Upaya Meragukan Otentisitas al-Qur’an

Azyumardi Azra juga menyebutkan bahwa ada orientalis yang berusaha mempertanyakan keotentikan historis al-Qur’an. Tetapi menurut Azyumardi Azra argumen mereka sangat lemah sehingga ditinggalkan.

Selain dari orientalis ada juga dari kelompok Islam sendiri yang berupaya mempertanyakan keotentikan al-Qur’an dengan tuduhan bahwa al-Qur’an dari kalangan Syiah itu palsu dan berbeda. Hal ini dibantah keras oleh Azyumardi Azra.

“Mereka lebih didasarkan prasangka,” ujar Azyumardi. “Qur’annya Syiah gak ada bedanya dengan Qur’annya Sunni. Al-Qur’an itu satu. Tak ada al-Qur’an itu versi macam-macam. Tidak ada al-Qur’an yang disebut sebagai Qur’an Sunni dan juga tak ada Qur’an yang disebut Qur’an Syiah. Yang ada ya Qur’an saja, yang pertama kali Mushaf Utsmani.”

ABI Press_Seminar Nasional STFI Shadra Jakarta“Orang yang menganggap Syiah punya Qur’an sendiri, mungkin dia tak pernah melihat Qur’an yang dipakai di Iran, misalnya. Jadi saya kira prasangka-prasangka seperti itu harus dihilangkan lah, jangan dikembangkan terus,” lanjut Azyumardi azra.

Pelajari Sejarah, Jangan Ulangi Kesalahan yang Sama

Meski bukan kitab sejarah, tapi dalam al-Qur’an banyak terdapat pelajaran sejarah yang bisa diambil hikmahnya oleh umat. Sayangnya menurut Azyumardi Azra, umat banyak yang melupakan sejarah.

“Sebagian dari kita ini, muslimin ini tak mau belajar dari sejarah. Selalu saja mengulangi kesalahan yang sama. Kayaknya gak puas-puas kalo gak berbunuh-bunuhan,” keluh Azyumardi. “Dan itu dikobarkan dengan semangat sektarianisme. Seperti ISIS.”

“Kita akan lebih dungu dari keledai kalau sudah melakukan kesalahan yang sama. Kesalahan yang sama itu apa? Ya berkelahi hanya karena beda faham. Untuk apa berantem, untuk apa berkelahi? Apa gak puas dengan apa yang terjadi di masa lalu? Apalagi dibikin lagi di Indonesia. Itu lebih tak patut lagi itu,” tambahnya.

“Tapi yang begini, terulang terus, berabad-abad. Lah, kapan membangunnya? Kapan mencerdaskan bangsanya?”keluh Azyumardi Azra. (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top