Friday , October 18 2019
Breaking News
Potensi Ancaman ISIS di Indonesia

Potensi Ancaman ISIS di Indonesia

Keberadaan ISIS beberapa tahun belakangan ini telah menyita banyak waktu, energi serta berbagai media pemberitaan. Tak hanya itu, ISIS pun telah menjadi magnet bagi para jihadis dari seluruh dunia untuk bergabung dan berjuang bersama di bawah ideologi ISIS.

Lalu apa sebenarnya ISIS dan bagaimana strategi mereka?

Berikut wawancara ABI Press dengan Novriantoni Kaharudin, Asisten Penasehat Regional untuk Urusan Kemanusiaan Komite Internasional Palang Merah tentang ISIS.  

Apa sih sebenarnya ISIS ini menurut Anda?

ISIS menurut saya adalah kekuatan politik Salafi-jihadi radikal yang mempunyai cita-cita membangun sebuah negara sesuai dengan konsepsi yang mereka pikirkan. Dengan sejumlah konsep seperti Hakimiah, bahwa yang paling berkuasa hanya Tuhan, maka dari itu semua aturan yang ada di al-Quran itu harus diterapkan, kemudian ada takfirnya dengan menganggap masyarakat yang beragama secara wajar, sudah kafir dan oleh karena itu harus diganti dengan masyarakat yang lebih taat. Kemudian ada keyakinan tentang hijrahnya dan juga jihad.

Kekacauan di Timur Tengah memunculkan ISIS, apakah ISIS berusaha menjadi jawabannya?

Tidak! Situasi kacau itu adalah pra kondisi bagi ISIS untuk bisa merebut kekuasaan dan situasi kacau itu adanya di Irak dan Suriah. Irak yang pemerintahannya tidak fungsional dan Suriah yang pemerintahannya sedang berperang saudara dengan para pemberontak. Jadi ada situasi kevakuman politik di dua negara itu yang membuat ISIS mampu bermain.

Kalau saya ibaratkan, ISIS ini ikan Lele, jadi dia itu paling senang kalau airnya keruh. Ketika airnya jernih dan pemerintahan berjalan dengan wajar maka akan susah bagi ISIS untuk melakukan tekanan tapi dalam situasi yang kacau, misalnya pada konflik Ambon, itu akan mudah bagi kelompok-kelompok seperti ISIS untuk mengalihkannya menjadi isu yang lain.

Sejumlah konflik horizontal antar umat beragama terjadi di Indonesia, apa ini memungkinkan munculnya ISIS di Indonesia?

Saya kira bisa, walaupun saya juga tidak terlalu optimis, karena gesekan sosial di Indonesia itu memang rentan, misalnya sekarang kita lihat intensnya kampanye anti Syiah atau gagasan-gagasan yang membenturkan antar kelompok Islam. Jadi itu pra kondisi dan itu konsepnya Abu Musa’b al-Zarqawi, yaitu menciptakan peperangan antara Sunni dan Syiah dulu, kemudian setelah kacau, ketika dalam kondisi perperang seperti itu orang akan mengelompok, yang Sunni ke Sunni yang Syiah ke Syiah untuk melindungi diri mereka. Dari situ mereka berhasil mengkonsolidasi kekuatan-kekuatan Sunni untuk melawan Syiah. Meskipun persoalan sebenarnya adalah bukan perang Sunni-Syiah.

Apakah konflik-konflik yang terjadi di Indonesia selama ini seperti di Ambon, Sampit dan Sampang adalah alat picu untuk kemunculan ISIS?

Kalau skalanya masih kecil, masih agak jauh tapi sesuatu yang besar kan mulanya dari sesuatu yang kecil yang diabaikan. Seperti sekarang di Poso misalnya. Itu kalau dibiarkan akan menjadi wilayah basis bagi ISIS. Jadi, kalau kita agak lengah, itu bisa membesar. Saya berharap negara tetap waspada.

Seperti api selagi kecil sangat mudah untuk dipadamkan tapi ketika sudah besar sekali susah untuk dipadamkan dan ISIS saat ini termasuk api yang ketika kecil masih dianggap sepele, tapi sekarang setelah menjadi monster yang begitu besar, semuanya kewalahan untuk mengatasinya.

Apakah hal itu juga bisa terjadi di Indonesia?

Saya optimis itu tidak akan terjadi, tapi kan kita tidak pernah tahu. Sebab kadang-kadang ketegangan politik, sosial, budaya, bisa terjadi kapan saja. Pada masa peralihan itu, kadang-kadang bisa muncul kejutan yang tidak kita tahu, siapa yang mengira tiba-tiba ada kerusuhan besar di Indonesia, di Jakarta, tiba-tiba orang-orang Cinanya di usir dan lain-lain.

Tapi memang hal semacam ini harus settingan yang besar untuk bisa melakukannya dan biasanya settingan sebesar itu dan saya masih percaya orang yang memiliki pengalaman militer yang dapat melakukannya. Karena itu di dalam ISIS, banyak unsur dari orang-orang eks-Saddam Hussain, sehingga mereka bisa sebegitu kuatnya.

Apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat menghadapi fenomena ISIS ini?

Belajar agama yang benar, jangan yang aneh-aneh yang tiba-tiba mencelakakan diri kita sendiri, kecuali kalau yang mencerahkan otak, yang begitu baguslah. Tapi jika ada ajaran agama yang tiba-tiba membuat kita hilang rasa kemanusiaan, hilang kerahatan, hilang pula kehangatan dalam bergaul dengan sesama manusia, saya kira itu sudah tidak benar. (Lutfi/Yudhi)
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top