Tuesday , November 19 2019
Breaking News
Puluhan Bendera Hitam Berkibar di Bundaran HI

Puluhan Bendera Hitam Berkibar di Bundaran HI

Long March pendukung ISIS di IndonesiaSejumlah pecinta sepeda free style memamerkan kebolehannya dengan sepeda mereka di Jl. Imam Bojol di dekat Bundaran Hotel Indonesia. Masih di seputar Hotel Indonesia, di  dekat Grand Indonesia  sejumlah muda dan mudi menunjukkan kebolehannya menggunakan Roller Blade dan tak jauh dari mereka sejumlah anak muda lain juga ujuk gigi kebolehannya bermain skate board.

Sebagian besar pengunjung Car Free Day, minggu (16/3) berjalan kaki ataupun bersepeda, sedangkan sebagian lain hanya duduk-duduk santai sambil melepas lelah mengitari air mancur bundaran Hotel Indonesia. Tampak petugas Bis Trans Jakarta sibuk membersihkan jalus bus way dari mereka yang menghalangi saat Bis Trans Jakarta akan melintas.

Setelah lelah berjalan keliling menikmati jalanan yang lengang dari kendaran yang di hari lain buas berlalu lalang, saya pun memutuskan untuk duduk di pinggir lingkaran air mancur Bundaran Hotel Indonesia. Saya duduk di sisi air mancur Bundaran Hotel Indonesia yang dekat dengan jalan Imam Bonjol. Sambil menikmati udara yang sejuk, saya memandang ke Patung Selamat Datang yang menyambut ramah warga Jakarta yang mengerumuninya pagi ini.

Saat menebarkan pandangan pada orang-orang yang sedang menikmati cerahnya pagi itu dengan berbagai cara, akhirnya tatapan mata saya terhenti pada sejumlah bendera hitam Al-Qaida yang dikibarkan oleh lima puluhan orang yang kebanyakan laki-laki berbaju hitam, Kurang lebih 100 meter sebelah kanan saya yang berdekatan dengan kampanye “Pray For Riau”. Hal ini tentu mengundang tanya, ada apakah ini?

Untuk menjawab tanya yang ada di hati, maka saya pun memutuskan untuk terus mengamati apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak lama berselang, datang sekitar lima puluhan orang lagi dari arah jalan Imam Bonjol yang menyeberang bergabung dengan mereka yang berada di pingiran air mancur Bundaran Hotel Indonesia.

Sambil menyeberang jalan mereka meneriakan takbir “Allahu Akbar!” Allahu Akbar!” “Allahu Akbar!” Bis Trans Jakarta yang akan melintaspun sempat terhenti sejenak akibat banyaknya orang yang menyeberang saat itu. Tak ada kejadian istimewa, setelah lima puluh orang tersebut bergabung dengan orang-orang yang membawa panji-panji Al-Qaida, selain mereka bercengkerama biasa saja.

Setelah lebih dari lima belas menit menanti tanpa ada apa-apa, pada jam sembilan lewat lima menit, tiba- tiba terlihat perlahan tapi pasti puluhan panji-panji Al-Qaida yang diusung oleh ratusan orang, layaknya sebuah parade dengan berjalan kaki muncul dari arah jalan MH. Tamrin mengarah ke Bundaran HI. Kemudian terdengar orasi dari sebuah pengeras suara di atas sebuah mobil truk terbuka berwarna kuning dengan plat nomor B 9256 TDC.

Saat mata saya fokus mengarah pada long march yang tidak biasa terjadi di Car Free Day, saya dikagetkan dengan sejumlah orang yang mengenakan baju putih-putih dari arah belakang saya, berlawanan arah dengan mereka yang membawa panji-panji Al-Qaida, yaitu dari arah jalan Jenderal Sudirman. Dengan membawa panji-panji berwarna putih dan bertuliskan “GARIS” dengan warna hijau.

Kedua kelompok ini kemudian bertemu tepat di depan mereka yang mengibarkan bendera hitam Al-Qaida yang sedari tadi menunggu di tepi air mancur Bundaran Hotel Indonesia, seratus meter dari tempat saya duduk. Terdengar dari orator mengatakan “Mohon turunkan bendera selain bendera Islam” dan dengan serentak mereka yang mengibarkan panji-panji “GARIS” menurunkan dan melipat panji mereka.

Sang orator turun dari kendaraan truk yang digunakan sebagai mobil komando aksi dan kemudian mobil komando tersebut lalu menepi ke bagian pinggir jalan. Setelah berkumpul semua dan beberapa pengarahan diberikan, mereka pun menjalankan aksi hari itu, dengan berjalan memutari pancuran air Bundaran Hotel Indonesia ke arah Grand Indonesia.

Hanya beberapa meter mereka berjalan, seorang Polwan yang berbadan agak besar mendekati orator aksi yang bertubuh kurus dengan tinggi sekitar 160 cm dan jengot yang lebat mulai dari pipi kiri hingga ke kanan dan juga  di bawah dagu. Kemudian terjadilah dialog antara keduanya. Tak jelas apa yang mereka bicarakan, sejumlah anggota aksi segera mengerumuninya.

Tak lama kemudian, sang Polwan tampak menggerutu berjalan meninggalkan sang orator menuju jalan Imam Bonjol. Dari dekat terlihat nama pada seragamnya, tertulis “Yuli”. Niat hati ingin mendekati untuk mengobati keingintahuan saya tentang apa yang sebenarnya terjadi? Tapi hal itu saya urungkan, saat melihat wajah sang Polwan yang masih cemberut dan terus menggerutu.

Sambil sesekali saya ambil gambar dari kamera HP, saya terus berjalan dan melihat kesana kemari, untuk mencari jawaban, kepada siapa saya harus bertanya? Kemudian terlihat seorang polisi yang sudah cukup berumur sedang mengatur jalan dan mengawasi mereka yang sedang melakukan aksi.

Dengan mengumpulkan keberanian terlebih dahulu, saya pun bertanya pada beliau “Apakah aksi seperti yang mereka lakukan pada Car Free Day itu dibolehkan pak?”

“Selama berjalan tertib ya, ndak masalah!” Jawab pak polisi yang dari nama di bajunya tertulis “Nyoman”.

Pak Nyoman menjelaskan biasanya memang aksi dilakukan pada hari Sabtu dan hari ini awalnya mereka ini berorasi di tugu Tani, terus menuju ke Bundaran Hotel Indonesia. Untuk aksi di Bundaran Hotel Indonesia ini, pak Nyoman sendiri tidak tahu. “Tapi mereka sudah mendapat ijin dari Mabes Polri” terang Pak Nyoman. “Dan perintah dari Mabes Polri agar diawasin saja” lanjut Pak Nyoman yang saat itu juga seperti masih bingung dengan kondisi tidak biasa ini.

Beberapa menit kemudian Pak Nyoman mendekati Bu Polwan Yuli yang sedang duduk di sebuah stand ponsel China di arah Jl. Imam Bonjol yang masih menggerutu, sambil sesekali tampak menelpon. Sementara itu aksi terus berlanjut memutari Bundaran Hotel Indonesia hingga berhenti di depan Grand Indonesia.

Sejumlah anggota aksi membentangkan beberapa sepanduk yang bertuliskan dukungan terhadap ISIS (Islamic State of Iraq and Sham/ Negara Islam Irak dan Suriah)  dan juga sejumlah dukungan terhadap terbentuknya Khalifah di Indonesia. Sejumlah orator berorasi bergantian, tidak ketinggalan ketua GARIS (Gerakan Reformis Islam) Ustadz Chep Hermawan ikut berorasi.

Dalam orasinya Chep Hermawan menekankan diterapkannya Syariat Islam di Indonesia sebagai jawaban persoalan yang terus mendera negeri ini. Sejumlah orator lain juga tidak kalah semangat dalam berorasi. “Apakah kalian mendukung ISIS?” tanya sang orator saat itu yang spontan dan serentak dijawab oleh anggota aksi dengan teriakan “Iya…!”

“Jika Khalifa Abu Bakar al-Baghdadi, meminta kita untuk berbaiat kepadanya saat ini, maka kita siap!” yang juga diikuti oleh anggota aksi dengan suara serentak “Siap!”

Semakin dalam rasa ingin tahu saya, aksi apakah ini? Saya pun memberanikan diri mendekati seorang anggota aksi yang bertugas membagikan brosur selebaran untuk mendapatkan selebarannya. Mereka memberikan sejumlah selebaran pada saya dengan senyum. Saat itulah saya bertanya tentang aksi tersebut kepadanya. “Ini aksi untuk memperingati kekhalifahan Utsmani yang runtuh di Turki” jelas salah seorang anggota aksi, “Serta sekaligus menunjukkan dukungan kita terhadap ISIS” lanjutnya.

“Kita ingin mengembalikan kekhalifahan kembali seperti dulu” terang salah satu pengikut aksi tersebut dengan ramah. Ketika saya tanya dari mana saja mereka yang hadir? “Saya kurang tahu tapi kalau saya dari Bogor” jawabnya.

Saya pun terus mengikuti orasi-orasi yang disampaikan oleh para orator. Sesekali terdengar sang orator  menyanyikan sebuah Nasyid dukungan terhadap Abu Bakar al-Baghdadi sebagai Khalifah. Dalam sebuah orasi, sang orator menyatakan “Masa tanzhim telah usai, sudah datang masa daulah!” serentak dijawab oleh pengikut aksi dengan takbir “Allahu Akbar!” Allahu Akbar!”

Setelah hampir selama satu jam berorasi, pada pukul sepuluh pagi aksi tersebut ditutup dengan pembacaan doa bersama. Usai pembacaan doa, para peserta aksi kemudian membubarkan diri dengan tertib. Peristiwa ini, boleh jadi merupakan aksi pertama dengan anggota aksi terbanyak yang dilakukan pada Car Free Day di Jakarta.

Mungkinkah aksi ini adalah awal dari gerakan untuk membuat Indonesia menjadi seperti kondisi Irak dan Suriah saat ini?

Jika seperti itu, bukankah ini berarti ancaman terhadap NKRI? (Lutfi/Abu Mufadhdhal)

One comment

  1. Saya tercerahkan bahwa penulisan reportase boleh dalam gaya cerpen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top