Saturday , November 17 2018
Breaking News
Rabia Ba’ali: Madrasah Keluarga Lebih Dahulu

Rabia Ba’ali: Madrasah Keluarga Lebih Dahulu

Jumat (13/3) siang, Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) SADRA Jakarta menggelar Seminar Nasional berjudul “Tuntunan Al Quran dalam Berkeluarga.” Berlangsung di aula Al Mustafa STFI SADRA, seminar tersebut menghadirkan Rabia Ba’ali, MA (Pakar Keluarga Islam asal Aljazair) sebagai pembicara.

Dalam seminar yang sebagian besar dihadiri oleh kalangan mahasiswa tersebut Rabia Ba’ali menuturkan bahwa pergulatan era sekarang ini tidak lagi bicara tentang pergulatan yang bersifat tradisional melainkan pergulatan pemikiran. Ia menyebut ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi perkembangan pemikiran tersebut di antaranya; kaum intelektual, guru (ulama), dan keluarga. “Seorang mu’alim lahir dari madrasah-madrasah, namun ada madrasah yang lebih dahulu melahirkannya, yaitu madrasah keluarga,” paparnya.

Keluarga yang sejatinya adalah madrasah, menurut Rabia Ba’ali adalah suatu sarana utama mempersiapkan pemuda-pemuda tangguh untuk menghadapi pergulatan masa depan melalui pemikiran-pemikiran.

Tujuan Manusia Diciptakan

Dalam sebuah ayat al-Qur’an (QS Adz-Dzariyat: 56) menyebutkan, tujuan diciptakannya jin dan manusia untuk menyembah (beribadah) kepada Sang Pencipta (Allah Swt). Kata “beribadah” tersebut menurut Rabia Ba’ali juga dapat dimaknai (dimanifestasikan) ke dalam hubungan tolong-menolong antar manusia. “Hal tersebut dimulai dari hubungan dalam keluarga,” ungkapnya.

Dalam ayat lain QS. Al-Hujurat: 13 yang berbunyi:  Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ayat tersebut merupakan di antara tujuan lain diciptakannya manusia. “Agar saling kenal-mengenal” dan bukan saling bermusuhan. Dengan kata lain, ketika manusia menyikapi sebuah ciptaan yang berbeda-beda itu dengan makna dan tujuan Allah Swt (bukan untuk saling memusuhi) dapat dikatakan sebuah bentuk “menyembah/ibadah” seperti dalam ayat pertama tadi. Dalam hal ini pun dimulai dari sebuah keluarga, sebelum mengenal suku dan bangsa.

Pondasi Dasar Keluarga

Cinta. Menjadi sebuah kata yang agaknya tidak boleh dijauhkan dari yang namanya keluarga. Sesuai penciptaan alam semesta, cinta pula yang mendasarinya. “Bukan hanya sekadar ungkapan ‘saya cinta kamu,’” kata Rabia Ba’ali. Namun lebih dari itu, cinta harus ditransformasikan ke dalam tindakan.

Beberapa hal menurut Rabia perlu dipersiapkan dalam membangun hubungan keluarga di antaranya; membangun diri (mengetahui tujuan hidup). Memilih pasangan yang shaleh/shalehah, merumuskan program yang bagus (untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt, mengatur hubungan keluarga). Sebagaimana firman-Nya, ……..Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku, lalu siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS, Thaha: 123)

Mendidik Anak, Wajib  Berilmu

Atas dasar mengikuti arus kehidupan modern, para ibu menitipkan anak-anaknya di Taman Kanak-kanak bahkan terkadang salah dalam menentukannya. Padahal seperti telah disebutkan di atas bahkan keluarga merupakan madrasah utama, yang orangtua atau ibulah yang semestinya bisa menjadi guru utama bagi anak-anaknya. Tapi bagaimana bisa menjadi guru kalau tidak berilmu? Jawaban dari pertanyaan tersebut yang kemudian dijelaskan Rabia Ba’ali bahwa untuk mendidik anak, orang tua wajib berilmu. Dalam hal ini ilmu memiliki cakupan yang cukup luas.

Mencari Ilmu atau Menikah?

Siapa yang melarang menikah sekaligus mencari ilmu? Pertanyaan balik Rabia Ba’ali utarakan. Sebab menurutnya, tidak ada larangan orang menikah sambil menuntut ilmu. Menuntut ilmu memiliki cakupan yang luas juga; ada formal dan non-formal. Menikah juga harus memiliki banyak pertimbangan. “Jangan hanya mengedepankan nafsu, ego, agar tidak justru membentuk keluarga yang berantakan nantinya.”

Dalam forum itu Rabia Ba’ali juga berharap kepada para mahasiswa yang hadir agar tidak hanya sekadar berhenti mencari ilmu saja melainkan mentransformasikan ilmu-ilmu itu dalam membangun kehidupan masyarakat. (Malik/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top