Thursday , November 21 2019
Breaking News
Remahan Asyura di Nusantara

Remahan Asyura di Nusantara

Jika anda bertanya kepada masyarakat Jawa, apa nama penyangga pintu yg terpasang di rumahnya, mereka akan menjawab “kusen”. Tanpa kusen, pintu rumah tak jadi kokoh dan mudah roboh. Inilah satu diantara banyak pesan tersembunyi dari ekspresi cinta pada keluarga Nabi yg disimbolkan melalui bagian penting dari sebuah rumah.

Kusen personifikasi dari Husen cucunda Nabi yang dibantai 30 ribu tentara muslim atas perintah khalifah Yazid bin Muawiyah, sedangkan pintu adalah personifikasi Ali bin Abi Thalib.  Nabi saw pernah berkata, “Aku kota ilmu dan Ali adalah pintunya”.

Secara samar dan unik rupanya leluhur kita ingin menyampaikan pesan sejarah, bahwa, ajaran yg diwarisi Ali dari sang Nabi saw hampir saja punah sia-sia jika Husen tidak menapaki jalan kesyahidan seperti Ali ayahnya.

Masyarakat Jawa seringkali mengajarkan etika dan moral melalui simbol-simbol. Mereka memang punya cara yg khas dalam menyampaikan pesan, baik melalui syair, sanepa, perlambang penamaan benda-benda, aneka kuliner (seperti bubur suro, ketupat dll), maupun melalui pemadatan bahasa.

Kata “Suro” misalnya, adalah pemadatan dari kata “Asyura” yang bermakna peristiwa menyedihkan di hari kesepuluh bulan Muharram. Dimana tragedi berdarah pembantaian Husen dan keluarganya terjadi di Karbala atas perintah penguasa.

Pada bulan duka tersebut, umumnya masyarakat Jawa tidak akan mengadakan pesta tasyakuran dalam bentuk apapun, mulai dari mendirikan rumah, resepsi pernikahan, sunatan ataupun hajatan sukacita lainya.

Tradisi dan simbol semacam ini tak hanya dimaksudkan sebagai ungkapan duka, tapi juga menjadi instrumen pendidikan dalam membentuk kepribadian masyarakat yg ikhlas berkorban, setulus pengorbanan pemimpin pemuda surga Sayyidina Husen.

Jejak Asyura melimpah di negeri ini. Konon di zaman mbah saya, kuliner bubur suro masih marak mentradisi, sekarangpun masih ada. Elemen kuliner menjadi bagian penting pada setiap adat ritual di Nusantara. Bubur suro / suran berwarna merah putih melambangkan keberanian dan kesucian Husen. Hal ini guna mengabarkan ulang kepahlawanan dan pengorbanan Husen beserta keluarga dan sahabatnya.

Cara ini sengaja dibidikkan sebagai ajakan untuk melawan lupa serta seruan belasungkawa pada kanjeng Nabi Muhammad saw. atas gugurnya Husen di Karbala’

Masyarakat Jawa pada bulan Muharram juga biasa menaburkan bunga di tiap perempatan jalan yg sering dilalu-lalangi masyarakat, sebagai pengingat bahwa dulu rombongan kafilah keluarga Nabi yg terdiri dari perempuan dan anak-anak ditawan, diarak bersama penggalan kepala Husen dan 78 kepala lainnya sejauh 1.200 km mulai Karbala, Kufah sampai Damaskus Suriah. Tradisi menebar bunga juga ditujukan agar malapetaka serupa tak terulang kembali di masa-masa mendatang.

Tentu yg utama dimaksud “musibah” di sini adalah, upaya penghancuran nilai-nilai kemanusian serta penipuan atas nama agama, maupun atas nama rakyat biasa melalui propaganda dan dalil-dalil absurd yang ditafsir untuk menindas dan kepentingan kekuasaan semata.

Tidak hanya di Jawa, berbagai ungkapan duka di hari Asyura menjelma menjadi tradisi yang masih ditemukan di berbagai daerah di Nusantara, misalnya: perayaan Tabot di Bengkulu dan Tabuik di Pariaman Sumatra Barat. juga di Painan, Padang, Maninjau, Pidie, Banda Aceh, Meuleboh dan Singkil.

Dari batang pisang Tabot dibuat, dihiasi bunga-bunga beraneka warna, diarak ke pantai bersama ribuan orang sambil diiringi teriakan “Hayya Husein hayya Husein” ( “Hidup Husein, hidup Husein”). Yang diakhiri dengan pelarungan Tabot di laut lepas. Benda yang disebut tabot adalah perlambang keranda Jenazah suci SayYidina Husen.

Baca juga Video-Asyura Dalam Tradisi Islam Nusantara

Peristiwa Asyura tak hanya menguras air mata, tapi juga membangkitkan semangat kepahlawanan, pengorbanan dan kesetiakawanan. Bangsa ini pernah dipompa darahnya melalui kisah sejarah Asyura di Karbala. Semangat pejuang menggelora saat para ksatria keluarga Nabi dIsebut namanya. Ambisi penjajah Belanda hampir pupus saat itu juga. sekalipun bantuan tentara didatangkan dari berbagai kepulauan di luar Jawa. Yakni saat perang Pangeran Diponegoro. (1825-1830). Sayangnya karena tujuan dari beberapa oknum pemimpinya berubah arah niatan untuk meraih tahta, maka perlawanan itu kembali sia-sia belaka seperti sedia kala.

Di bawah ini saya kutipkan terjemahan pidato Kyai Mojo (Muhammad al-Jawad) yg dikenal sebagai panglima perang Pangeran Diponegoro.

“Wahai kalian ksatria mataram, negara Jawa tersimpan sudah dalam cakrawala pemahaman kalian.

Pada diri kalian tersimpan watak perilaku, kebijaksanaan Sayyidina Ali dan Sayyidina Hasan. Tertanam juga (pada diri kalian) keberanian Husen.

Ingatlah.. pada saat Suro nanti, Belanda akan kita lenyapkan dari tanah Jawa, karena terdorong kekuatan para ksatria Muhammad yaitu, Ali, Hasan dan Husain.

Bertempurlah kalian dengan iringan takbir dan shalawat, jika kelak kalian gugur di medan laga ini, maka kalian akan tercatat syahid sebagaimana gugurnya para sahabat setia Sayyidina Husen di Nainawa (Karbala).

Engkau yang bijak terlibat dalam peperangan ini, adalah orang yg pantas mendapat julukan Ali Basya (gelar kehormatan bagi para ksatria / bangsawan)

Babad perang Dipanegara, karya pujangga Yasadipura II, Surakarta.

Peristiwa Asyura dan Husen dikenal serta tertanam sedemikian rupa oleh para pejuang kita, presiden pertama RI Soekarno pernah berkata,

“Husein adalah panji berkibar yang diusung oleh setiap orang yang menentang kesombongan di zamannya, dimana kekuasaan itu telah tenggelam dalam kelezatan dunia serta meninggalkan rakyatnya dalam penindasan dan kekejaman.” (Diambil dari buku “10 Hari Yang Menggetarkan Dunia: Ucapan dan Komentar Tokoh Dunia” karya Saed Zomaezam)

Saat ini mungkin lebih banyak generasi bangsa yg tak lagi mengenal Asyuro dan siapa tokoh penting dibaliknya. Tetapi nilai-nilai luhur sekalipun berupa remahan masih mewarnai jiwa anak bangsa, mereka mewarisi keberanian dan pengorbanan dari para leluhur yg mengambil pelajaran dari sayyidina Husen. Kita hanya perlu merefreshnya saja. Membongkar ulang sejarahnya. Dan tak perlu meributkan siapa yg akan melakukannya, apa agamanya dan apa alirannya. Bagi saya, siapapun boleh memperingatinya. Siapapun tak terlarang mengidolakan figurnya.

Antoine Bara, seorang cendekiawan, pemikir, dan tokoh terkemuka Kristen dalam bukunya yg berjudul Imam Hussein in Christian Ideology berkata, bahwa, “Imam Husein a.s tidak khusus untuk Syiah atau khusus Muslim saja, tetapi milik seluruh dunia karena menurutnya beliau adalah “hati nurani agama”

Kita patut bangga pada pendahulu yang perkenalkan Asyura pada kita. Atas warisan budaya yg tak ternilai harganya. Atas semua karya yang sampai di tangan kita, atas usaha besar dalam membentuk kepribadian bangsa. Atas segala tinggalan, pusaka dan wasiat kita berdoa, dan menjaga budayanya. Dan atas segala sesuatunya semoga kita bisa melestarikan tradisi Asyura yg sarat dengan makna.

Massayik IR, Senin 10 Oktober 2016/8 Muharam 1438.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top