Wednesday , December 19 2018
Breaking News
Rendahnya Kemampuan Literasi Masyarakat Membuat Hoax Mudah Menyebar

Rendahnya Kemampuan Literasi Masyarakat Membuat Hoax Mudah Menyebar

Jakarta – Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Dalam hal membaca saja, kita memiliki kualitas yang sangat rendah, apalagi dalam menulis atau memahami sebuah informasi.

Hal itu terungkap dalam Workshop Masyarakat Anti Hoax yang mengupas “Bagaimana Mengenal Hoax dan Antisipasinya” yang diselenggarakan oleh Litbang DPP Ahlulbait Indonesia di Jakarta, Sabtu 10 November 2018.

Aribowo dari Komunitas Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia), sebagai pembicara dalam workshop itu mengungkapkan bahwa hampir setengah dari penduduk Indonesia ini sudah terhubung internet. Maka informasi dengan mudah  dapat diakses, ditambah lagi media sosial yang juga semakin memudahkan masyarakat berinteraksi. Namun, rendahnya kemampuan literasi masyarakat membuat hoax itu sangat mudah sekali menyebar.

Contoh hoax di sosial media

Mengapa demikian?  Karena masyarakat merasa kesulitan membedakan mana informasi yang benar dan yang tidak. Masyarakat tanpa pandang bulu dapat mencurahkan apa yang ada di pikiran mereka dan membagikannya melalui akun media sosial yang mereka miliki.

Aribowo menjelaskan bahwa Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar tetapi dibuat seolah olah benar. Hoax bisa berupa informasi kelliru yang di sebar luaskan tanpa tujuan tertentu (misinformasi), infotmasi keliru yang disebarluaskan dengan tujuan membuat informasi yang asli yang tidak valid,berkurang kebenarannya dan atau tidak berguna (disinformasi), informasi keliru yang disebarkan untuk tujuan mempengaruhi reaksi emosional (propaganda), informasi bohong yang disebarkan dengan maksud menjelekan orang (fitnah), membangkitkan orang lain supaya panas,marah dan sikap negatif lain (hasut), gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang,biasanya disampaikan dalam bentuk ironi,sarkasme atau parodi (satire), pendapat,ide atau pikiran untuk menjelaskan preferensi tertentu (opini), atau komunikasi media untuk menggiring persepsi publik terhadap suatu peristiwa (framing).

Namun demikian, Aribowo membagikan tips agar tidak mudah tertipu HOAX. Karena Internet tidak sama dengan media konvensional maka kita perlu:

  1. Mengenali kevalidan dan kredibilitas sumber informasi
  2. Berhati-hati dengan judul atau kalimat pembuka yang provokatif/sensational
  3. Mencermati alamat situs.
  4. Memeriksa faktanya
  5. Mengecek keaslian gambar.
  6. Ikut serta group diskusi atau komunitas anti hoax

Selain tips-tips tersebut kita juga bisa mengidentifikasi berita hoax dari aplikasi yang bisa diinstal HBT (HOAX Buster Tools) –MAFINDO (android). Selain aplikasi, teknik Debunking/Fast checking (FB Nasrullah Azzubeiry) juga bisa digunakan. Namun, jika kita hendak mengecek sendiri informasi tersebut, kita dapat menggunakan tool-tool berikut:

  • Google search (https:/www.google.com/) digunakan untuk mencari (search engine). Search engine ini digunakan untuk membandingkan kebenaran suatu berita, mengecek sumber informasi, dan mencermati kevalidan dan kredibilitas sumber informasi.
  • Google Image search (https:/www.google.com/images) digunakan untuk pencarian menggunakan gambar,bisa juga menggunakan tineye
  • Google maps dan google street view untuk memerikas keberanan tempat kejadian suatu perkara atau latar dari berita itu terjadi.

Sebagai masyarakat yang cerdas mestinya kita mengecek informasi yang kita dapatkan. Apakah benar atau tidak. Kalaupun sebuah informasi yang kita terima itu benar, kita juga perlu mengetahui apakah informasi tersebut bermanfaat atau tidak. Dan apakah informasi tersebut layak atau tidak untuk kita sebarkan lagi. Karena alih-alih kita akan memberikan manfaat kepada masyarakat kita, tetapi justru akan menjerumuskan mereka kepada berita yang tidak benar dan memungkinkan untuk berakibat buruk. Untuk itu, kita perlu mengasah kemampuan literasi kita dalam membaca, menulis, dan memahami informasi. (Haidar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top