Saturday , July 4 2020
Breaking News
Ribuan Warga Dumai Saksikan Budaya Hoyak Tabuik

Ribuan Warga Dumai Saksikan Budaya Hoyak Tabuik

Riau- Ribuan warga Kota Dumai antusias menyaksikan kesenian budaya masyarakat Pariaman Sumatera Barat Hoyak Tabuik di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, yang diadakan pengurus Generasi Muda Pariaman (Gempar), Minggu.

Festival Hoyak Tabuik dengan bunyi khas dari gendang dan tassa ini diselenggarakan untuk memeriahkan pawai budaya Pariaman di Kota Dumai, sekaligus menjadi momen peringatan wafatnya Husein, Cucu Nabi Muhammad SAW. Festival dilepas dari depan Markas Polres Dumai Jalan Sudirman menuju taman kota.

Panitia Ridwan Tanjung mengatakan, Hoyak Tabuik ini bertujuan memperkenalkan tradisi religius dan kebudayaan turun temurun kepada masyarakat Dumai, dan juga salah satu cara untuk mempersatukan masyarakat antar daerah di Pariaman.

“Kami ingin memperkenalkan tradisi tabuik ini kepada masyarakat umum dan perantauan asal Pariaman di Dumai,” ujar Ridwan kepada pers, Minggu.

Ketua Gempar Dumai Andespahmi Chaniago menyatakan, kegiatan Hoyak Tabuik selain memeriahkan Tahun Baru Islam, juga memperingati wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW Husein Bin Ali bin Abu Thalib dalam Perang Karbala.

“Tabuik ini murni budaya dan tradisi turun temurun. Kami lestarikan dalam rangka pelantikan pengurus Gempar dan memperingati Tahun Baru Islam,” kata Andespahmi kepada wartawan.

Disebutkan, masyarakat biasa menggelar Hoyak Tabuik ini pada 10 Muharram di Pariaman Provinsi Sumatera Barat, namun di Dumai sengaja menggelar dalam rangka pelantikan pengurus Gempar.

Sejarah singkat, Tabuik merupakan sebuah patung Buraq, makhluk majestik menyerupai seekor kuda bersayap dengan kepala wanita, terbuat dari bambu, rotan, dan kertas, di punggungnya terdapat sebuah peti berisi perhiasan dekoratif dan payung.

Legenda tersebut mengisahkan bahwa setelah wafatnya sang cucu Nabi, kotak kayu berisi potongan jenazah Husein diterbangkan ke langit oleh buraq, dan karena itu setiap tahun masyarakat Pariaman membuat tiruan dari buraq sedang mengusung tabut di punggungnya.

“Serangkaian kegiatan Hoyak Tabuik tidak sepenuhnya dilakukan sebagaimana ritual lengkap karena tujuan kita mengenal budaya di kampung untuk mengingatkan kembali tradisi ini,” sebutnya.

Tabuik tidak hanya aset wisata Kota Pariaman atau Provinsi Sumatera Barat, tetapi juga aset wisata nasional yang harus dikembangkan dan diperkenalkan ke masyarakat mancanegera. (Antaranews)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top