Tuesday , January 28 2020
Breaking News
Ringkasan Fatwa Ayatullah Ali Khamenei, Daras Fikih Ibadah: Taklid

Ringkasan Fatwa Ayatullah Ali Khamenei, Daras Fikih Ibadah: Taklid

Mukadimah

Setiap mukalaf (setiap orang yang telah memenuhi syarat-syarat-taklif) diwajibkan mempelajari masalah-masalah hukum syar’i yang dilakukannya sehari-hari, seperti masalah salat, puasa, bersuci, sebagian muamalah dan lain sebagainya. Jika ia tidak mempelajari hukum-hukum tersebut sehingga menyebabkan ia meninggalkan hal yang wajib atau melakukan hal yang haram, maka ia berdosa. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 6, Bab Taklid, Masalah 6)

Syarat-syarat taklif:

1. Balig
2. Berakal
3. Mampu melaksanakan taklif. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 1892)

Tanda-tanda balig adalah salah satu dari tiga hal berikut ini:

  1. Tumbuhnya bulu di bawah perut
  2. Mimpi (yang menyebabkan keluarnya mani)
  3. Genap berusia 15 tahun Hijriah bagi laki-laki. Genap berusia 9 tahun Hijriah bagi perempuan. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 742, 1887, 1889)

Selama seseorang itu tidak memiliki salah satu dari tanda-tanda balig tersebut, maka secara syar’i ia belum dinamakan balig dan ia pun belum diwajibkan melakukan hukum-hukum syar’i. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 1891)

Sekadar perkiraan telah tumbuh bulu di bawah perut atau mimpi keluar mani lebih cepat dari usia balig, maka hal itu belum dianggap cukup untuk menjadikan seseorang telah balig. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 1890)

Darah yang keluar dari vagina seorang wanita yang usianya belum mencapai 9 tahun, bukanlah tanda balig. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 1892)

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa tolok ukur balig itu berdasarkan hitungan tahun Hijriah. Apabila tahun kelahiran seseorang berdasarkan tahun Syamsiah (tahun matahari) atau Masehi, maka ia dapat mengetahuinya dengan cara menghitung selisih antara tahun Hijriah dengan tahun Syamsiah atau Masehi (Setiap tahun Hijriah itu kurang dari 10 hari, 21 jam dan 17 menit dari tahun Syamsiah atau Masehi). (Ajwibah al-Istifta’at, No. 1887, 1888)

Cara-cara Mengetahui Hukum

Setiap mukalaf dapat mengetahui hukum-hukum syar’i dengan tiga cara:

1. Ijtihad
2. Ihtiyath
3. Taklid. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taklid, Masalah 1)

Penjelasan:

Ijtihad

Ijtihad ialah menyimpulkan dan mengeluarkan hukum-hukum syar’i dan undang-undang Ilahi dari sumber-sumber yang diakui oleh para fakih dan ulama Islam.

Ihtiyath

Ihtiyath adalah melakukan suatu perbuatan sedemikian rupa sehingga seseorang merasa yakin bahwa ia telah melaksanakan tugas syar’i-nya. Misalnya, jika terdapat suatu perbuatan yang diharamkan oleh sebagian mujtahid, sementara sebagian mujtahid lainnya tidak mengharamkannya, maka ia tidak melakukannya. Jika terdapat suatu perbuatan yang diwajibkan oleh sebagian mujtahid, sementara sebagian mujtahid lainnya tidak mewajibkannya, maka ia melakukannya. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 1 dan 3, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taklid, Masalah 1)

Taklid

Taklid ialah mengikuti dan mempraktikkan fatwa-fatwa seorang mujtahid yang telah memenuhi syarat. (Ajwibah al- Istifta’at, No. 1 dan 3, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taklid, Masalah 1)

Catatan: Masalah taklid, di samping dapat ditetapkan berdasarkan dalil lafzhi (tekstual), akal juga dapat menghukumi bahwa seseorang yang jahil dalam hukum-hukum agama harus merujuk kepada seorang mujtahid yang telah memenuhi syarat. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 1)

Seorang mukalaf yang belum mencapai peringkat mujtahid dalam hukum-hukum agama, harus bertaklid atau ber-ihtiyath. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taklid, Masalah 1)

Mengingat bahwa melakukan ihtiyath dalam amal ibadah itu memerlukan pengetahuan atas tata-cara dan tempat-tempatnya dan juga lebih banyak menyita waktu, maka si mukalaf lebih baik bertaklid kepada seorang mujtahid
yang telah memenuhi syarat. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 2)

Taklid diwajibkan kepada setiap orang yang telah memenuhi tiga syarat:

1. Mukalaf (telah balig)
2. Bukan mujtahid
3. Bukan muhtath. (Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taklid, Masalah 1)

Pembagian Taklid

Taklid kepada mujtahid yang telah wafat ada dua bagian:

1. Ibtida’i, yaitu seorang mukalaf mulai bertaklid kepada seorang mujtahid yang telah wafat, padahal ketika mujtahid itu masih hidup, ia tidak bertaklid kepadanya. Taklid semacam ini, secara ihtiyath wajib tidak dibolehkan.
2. Baqa’i, yaitu seorang mukalaf tetap meneruskan taklidnya kepada seorang mujtahid yang telah wafat, dan ketika mujtahid tersebut masih hidup dia telah bertaklid kepadanya. Taklid semacam ini diperbolehkan dalam semua masalah fikih, termasuk dalam masalah-masalah yang hingga kini belum sempat dia amalkan. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 22 dan 41, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taklid, Masalah 4)

Catatan:

  • Dalam taklid baqa’i, tidak ada perbedaan antara mujtahid itu a’lam (lebih pandai) ataupun tidak. Pada kedua kondisi itu dibolehkan. Tetapi sebaiknya jangan meninggalkan ihtiyath untuk tetap bertaklid kepada mujtahid mayit yang a’lam. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 35)
  • Taklid ibtida’i atau tetap bertaklid kepada mujtahid mayit dan batasan-batasannya, harus merujuk kepada mujtahid yang hidup dan secara ihtiyath harus yang a’lam. Tetapi apabila kebolehan bertaklid kepada mujtahid mayit itu disepakati oleh fukaha pada masanya, maka izin dari mujtahid a’lam tidak diperlukan lagi. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 23, 36 dan 40, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taklid, Masalah 4)Bila seseorang (mukalid) bertaklid kepada seorang mujtahid yang telah memenuhi syarat itu belum balig, tetapi ia bertaklid kepadanya dengan cara yang benar, maka ia diperbolehkan untuk tetap bertaklid kepadanya setelah marja’-nya itu wafat. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 42)
  • Apabila seseorang bertaklid kepada seorang mujtahid, dan setelah mujtahid itu wafat ia bertaklid kepada mujtahid lainnya di dalam beberapa masalah, kemudian mujtahid yang kedua pun wafat, maka dalam hal ini ia dibolehkan untuk tetap bertaklid kepada mujtahid yang pertama di dalam masalah-masalah yang ia belum berpindah taklid darinya. Sementara di dalam masalah-masalah yang ia sudah berpindah taklid darinya, ia dibolehkan memilih antara tetap mengikuti fatwa-fatwa mujtahid yang kedua atau berpindah kepada mujtahid yang masih hidup. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 37)

Beramal Ibadah tanpa Taklid

Amal ibadah seseorang yang dilakukan tanpa taklid, atau taklidnya tidak benar, dapat dianggap sah apabila:

1. Sesuai dengan ihtiyath (kehati-hatian)
2. Sesuai dengan realitas (hukum Tuhan)
3. Sesuai dengan fatwa mujtahid yang wajib ia taklidi. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 7)

Syarat-syarat Marja’ Taqlid

Seseorang dapat menjadi marja’ taqlid dan bisa ditaklid jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Laki-laki
  2. Balig
  3. Berakal sehat
  4. Bermazhab Syi’ah Imamiyah
  5. Bukan anak di luar nikah
  6. Secara ihtiyath wajib, masih hidup
  7. Adil
  8. Mengingat pentingnya kedudukan marja’iyah dalam masalah fatwa, maka secara ihtiyath wajib seorang marja’ harus bersifat zuhud, warak dan tidak rakus terhadap materi duniawi
  9. Mujtahid
  10. Secara ihtiyath wajib, harus a’lam (paling pandai) dari para mujtahid lainnya. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 12, 15,16, 21 dan 22, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taklid, Masalah 2)

Penjelasan dari syarat ke-7

  1. Adil adalah kondisi jiwa yang dapat mendorong seseorang untuk senantiasa bertakwa sehingga ia tidak mungkin meninggalkan hal-hal yang diwajibkan dan
    melakukan hal-hal yang diharamkan. (Ajwibah al- Istifta’at, No. 562)
  2. Seseorang dikatakan adil apabila menyandang sifat tersebut. Dengan ungkapan lain bahwa ketakwaannya sampai kepada tingkatan yang ia tidak akan melakukan dosa dan maksiat (meninggalkan hal-hal yang wajib atau melakukan hal-hal yang haram) dengan sengaja. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 13, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taklid, Masalah 2)
  3. Untuk menilai keadilan seseorang, cukup hanya dengan memerhatikan kebaikan lahiriahnya saja. (Ajwibah al- Istifta’at, No. 562)

Penjelasan dari  syarat ke-9

  1. Ijtihad dari satu sisi terbagi kepada dua bagian:
    a. Ijtihad mutlak: kemampuan ijtihad untuk berfatwa dalam seluruh masalah fikih. Orang yang memiliki kemampuan itu disebut sebagai “mujtahid mutlak”.
    b. Ijtihad mutajazzi: kemampuan ijtihad untuk berfatwa dalam sebagian bab fikih saja seperti salat, puasa dan lainnya. Orang itu disebut sebagai “mujtahid mutajazzi”. (Ajwibah al- Istifta’at, No. 10)
  2. Fatwa seorang mujtahid mutlak selain merupakan hujah bagi dirinya, orang lain pun dapat bertaklid kepadanya. Begitu pula dengan fatwa mujtahid mutajazzi. Tetapi secara ihtiyath mustahab hendaknya tidak bertaklid kepada mujtahid mutajazzi. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 10)

Penjelasan dari  syarat ke-10

  • Yang dimaksud a’lam (lebih pandai) adalah bahwa seseorang itu lebih mampu dalam melakukan ijtihad. Dengan kata lain, dia lebih mampu dalam mengetahui
    hukum-hukum Ilahi dibandingkan dengan para mujtahid lainnya dan lebih mengetahui dalil-dalilnya dalam berijtihad. Di samping itu pula, ia lebih mengetahui kondisi zamannya yang mempengaruhinya dalam menentukan objek-objek hukum. (Ajwibah al- Istifta’at, No. 16, dan Istifta’ dari Kantor Rahbar, Bab Taklid, Masalah 2)
  • Dalil diwajibkan bertaklid kepada mujtahid yang a’lam adalah berdasarkan tingkah laku ‘uqala’ (orang-orang yang berakal) dan hukum akal. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 20)
  • Kewajiban bertaklid kepada mujtahid a’lam itu— berdasarkan ihtiyath wajib—adalah dalam masalah-masalah ketika fatwa mujtahid a’lam berbeda dengan
    fatwa mujtahid yang tidak a’lam. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 16)
  • Hanya sekadar adanya dugaan kurangnya syarat pada mujtahid a’lam—secara ihtiyah wajib—tidak boleh membuat seseorang bertaklid kepada mujtahid yang
    bukan a’lam dalam masalah-masalah yang diikhtila”an. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 17)

Beberapa poin berkenaan dengan syarat-syarat marja’ taqlid

  • Keabsahan bertaklid kepada marja’ yang telah memenuhi syarat tidak disyaratkan bahwa marja’ tersebut telah menyatakan marja’iyah atau memiliki risalah amaliyah. Karena itu, apabila seorang mukalaf telah membuktikan nterpenuhinya syarat-syarat marja’iyah pada seorang mujtahid, ia boleh bertaklid kepadanya sekalipun marja’ tersebut belum menyatakan marja’iyah atau tidak memiliki risalah amaliyah. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 9)
  • Bertaklid kepada seorang marja’ taqlid yang telah memenuhi syarat tidak disyaratkan harus senegara atau satu tempat tinggal dengan si mukalaf. (Ajwibah al-
    Istifta’at, No. 11)
  • Para ayah dan ibu berkewajiban memberikan petunjuk dan bimbingan kepada anak-anak mereka yang baru saja menginjak usia taklif (balig) ketika mereka sudah harus memilih marja’ taqlid—namun mereka mendapatkan kesulitan dalam memahami masalah-masalah taklid— sehingga dapat menentukan tugas syar’i mereka. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 4)

Tab’idh dalam Taklid

1. Tab’idh dalam bertaklid ialah seseorang membagibagi dalam taklidnya, yakni pada sebagian masalah ia bertaklid kepada seorang marja’ dan pada sebagian lainnya bertaklid kepada marja’ yang lainnya.

2. Mukalid dibolehkan bertaklid dalam sebagian hukum kepada seorang marja’ yang a’lam dalam masalah tersebut. Misalnya dalam bab ibadah, ia bertaklid kepada seorang marja’, sementara dalam bab muamalah ia bertaklid kepada marja’ yang lainnya, atau dalam hukum-hukum individu ia bertaklid kepada seorang marja’ dan dalam hukum-hukum sosial, politik dan ekonomi ia bertaklid kepada marja’ yang lainnya. Bahkan apabila si mukalaf dapat membuktikan a’lamiyah (kepakaran) setiap marja’ dalam masalah-masalah tertentu yang diwajibkan bertaklid kepadanya, maka secara ihtiyath wajib ia harus melakukan tab’idh dalam bertaklid ketika terdapat perbedaan dalam fatwa. (Ajwibah al-Istifta’at, No. 18, dan Istifta’ Kantor Rahbar, Bab Taklid, Masalah 5)

Dikutip dari buku Daras Fikih Ibadah: Ringkasan Fatwa Imam Ali Khamene’i terbitan Nur Al-Huda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top