Monday , January 27 2020
Breaking News
Sabna Si Penjaja Bendera

Sabna Si Penjaja Bendera

Sabna, beristirahat di tengah kemacetan kota Jakarta sembari menjajakan bendera.

Sabna mengelap bulir-bulir keringat di pipinya dengan handuk kumal berwarna merah yang disampirkan di atas kepala. Mendorong gerobak berisi bendera merah putih beragam ukuran lengkap dengan batang bambu sebagai tiang bendera, pemuda asli Majalengka ini berjibaku dengan kemacetan kota Jakarta.

Tanggal 17 Agustus hampir tiba, Sabna berharap bisa mengais rejeki lebih di momen kemerdekaan tahun ini.

Sabna mengaku sejak pukul enam pagi sudah keluar mendorong gerobaknya. Dari tempat bosnya yang ada di Mampang, di pagi buta ia susuri satu demi satu lorong kampung di Jakarta. Berharap warga Ibukota yang ingin merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-69 nanti membeli bendera-bendera itu kepadanya.

Tak saban tahun Sabna berjualan bendera dengan gerobak sederhana yang dimodali bosnya. Tapi Sabna mengaku tahun 2012 kemarin ia mendapatkan untung lumayan besar, sekitar Rp. 200.000,- hingga Rp. 300.000,- per hari.

Ini kiranya yang membuat Sabna, seorang pedagang aksesoris keliling dan kadang kuli bangunan ini banting setir menjual bendera saat Agustus tiba.

Saat berteduh di bawah pohon di samping jalan raya yang macet, seorang pengendara motor berhenti dan membeli bendera kecil seharga Rp. 5.000,-
Pembeli yang mengaku bernama Marlon Sirait ini menyebutkan bendera itu untuk dipasang di motornya.

“Kita warga NKRI, kita cinta NKRI. Ini buktinya,” ujar Marlon dengan bangga. “Kita beli di gerobak karena lebih murah. Perbedaannya bisa 2-3rb rupiah kalau di toko-toko,” tambah Marlon yang mengaku di rumah masih punya bendera merah-putih yang dimilikinya sejak tahun lalu.

Namun tahun ini Sabna mengeluh. Dagangannya sepi. “Biasanya 10 hari menjelang 17 Agustus rame. Sekarang masih sepi,” keluh Sabna.

Di pusat grosir tekstil Tanah Abang pun, pemesanan bahan tekstil masih terbilang sepi tak seperti tahun lalu. Dian Sujanto, pelayan di toko grosir Ranah Katun di Pusat Grosir Tanah Abang mengakui tahun ini belum ada pergerakan yang berarti. Biasanya sebulan menjelang Agustusan sudah banyak pesanan bahan untuk membuat bendera. Sementara sekarang seminggu menjelang Agustusan, tak ada kenaikan pesanan yang berarti.

“Mungkin karena abis lebaran, ya? Jadinya masih sepi,” ujar Dian.

Beberapa pemilik toko grosir di komplek Aria juga mengutarakan hal yang sama. Koh Budi, pemilik toko Bersaudara dan Tanto dari toko Berkah yang ada di pusat grosir tekstil ini juga menyebutkan bahwa tahun ini penjualan bahan untuk membuat bendera merah-putih menurun.

“Rame mestinya mulai hari ini,” ujar Koh Budi. “Yang beli biasanya tukang bikin bendera,” imbuh lelaki Tionghoa ini.

Di tengah menurunnya omset penjualan ini, Sabna tetap mendorong gerobaknya, bergelut dengan kemacetan kota Jakarta. Karena sudah terlanjur ‘teken kontrak’ dengan bos pemasok benderanya, pemuda asli Majalengka ini pun masih berharap bisa mengais rejeki lebih dengan terus menjajakan bendera merah-putihnya hingga tanggal 17 Agustus nanti. (Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top