Thursday , November 14 2019
Breaking News
Saudi vs Yaman = Borjuis vs Proletar

Saudi vs Yaman = Borjuis vs Proletar

Gerakan reformasi rakyat Yaman yang dipimpin oleh Houthi terus membara. Rakyat yang lama miskin dan dimiskinkan oleh rezim boneka Saudi itu kini bangkit menuntut kedaulatan bangsanya. Sudah hampir sepekan ini Saudi dibantu Amerika, Israel dan 10 Negara Teluk menginvasi Yaman, tapi para pejuang Yaman justru makin bersatu siap mempertahankan Tanah Air mereka.

Apakah yang sebenarnya terjadi di Yaman dan kondisi seperti apakah yang dihadapi masyarakat Yaman? Berikut ini hasil wawancara khusus ABI Press dengan Cendekiawan Muslim, Dr. Muhsin Labib.

Apa sebenarnya yang terjadi di Yaman?

“Untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di Yaman, ada beberapa hal yang harus dipahami terlebih dahulu. Pertama, bahwa Yaman itu bagian dari Semenanjung Arab, yang sebetulnya secara geografis dan historis, adalah bagian dari Negara Teluk, tapi tidak dimasukkan karena dianggap miskin. Jadi sebenarnya yang paling berhak disebut Negara Teluk itu bukan hanya negara yang sekarang ini saja yaitu Saudi, Qatar, Emirat, Oman, Bahrain, dan Kuwait, tapi juga Yaman mestinya.”

“Kedua, Yaman itu punya aset geografis yang sangat vital; Babul Mandab, yang 30% kekayaan dunia itu lewat dari situ. Itulah pemisah antara Asia dan Afrika. Selain punya pelabuhan besar, teluk Aden. Jadi Yaman punya selat dan teluk. Ini yang pada masa-masa dulu terkenal. Itu jantungnya Yaman. Hampir sama dengan selat Hormuz, teluk Persia, yang Iran punya kekuatan besar di situ. Yaman juga punya kekuatan besar di Babul Mandab dan Aden, dulunya. Tapi, itu tidak difungsikan sekarang. Mengapa? Karena Yaman tidak diberi kesempatan untuk membangun negerinya. Akibatnya jadi miskin. Jadi miskinnya Yaman itu karena dimiskinkan. Sebab jika Yaman mampu membangun negaranya, menghidupkan kembali selatnya, pelabuhan Aden-nya maka beberapa negara di Teluk itu takkan punya apa-apa. Terutama Emirat, Dubai. Mereka hanya mengandalkan pelabuhan. Bayangkan kalau Yaman bangkit, mati mereka.”

“Suplai minyak pipa-pipa Saudi juga lewat di situ. Kalau Yaman tak dilemahkan maka dia akan bisa hidup dan mengontrol semuanya. Karena itu sejak klan Saudi berkuasa, pemerintahan Yaman dibuat pemerintahan boneka, tidak pernah ada pemerintahan yang benar-benar berdaulat. Setiap kali ada usaha untuk membangun kembali, selalu ditumpas dan digantikan dengan pemimpin pilihan Saudi sendiri. Jadi Yaman seperti negara bagian dari Saudi selama ini. Semua dikontrol Saudi. Dan itu fakta yang tak bisa dipungkiri.”

“Dan faktanya lagi, yang mungkin perlu dieksplorasi lebih lanjut. Ada kawasan minyak di Saudi yang sebetulnya secara historis milik Yaman. Jadi sebetulnya kekayaan Saudi itu adalah sebagian karena pemiskinan Yaman.”

Houthi yang memimpin gerakan di Yaman ini, siapa mereka sebenarnya?

“Abdul Malik al-Houthi itu adalah seorang pemuda terpelajar. Dia sempat mengenyam pendidikan di Iran. Kemudian dia belajar banyak filsafat, sistem demokrasi, dan lainnya. Dia punya kesadaran dari itu. Lihat saja dari pidatonya yang rapi dan terstruktur itu. Ia tahu hukum. Dan dia bahkan ikut mengutus utusan untuk melayat Raja Abdullah yang meninggal. Ada good will yang ia tunjukkan.”

“Houthi itu nama marga, ia bukan kelompok. Jadi salah kalau ada yang bilang gerakan kelompok Houthi, karena ini gerakan rakyat Yaman, hanya saja dipimpin oleh Abdul Malik al-Houthi. Houthi mewarisi nama pejuang yang diwarisi oleh ayahnya. Dia adalah orang yang membawa beban derita masyarakat miskin Yaman. Dan dia punya kecerdasan. Dia tahu ada penyebabnya kenapa masyarakat Yaman ini tidak bisa bangkit selama ini. Negara lain bangkit malah mereka tidak bangkit. Bersatu bukan malah bagus, ekonomi malah sulit. Dan pemimpin-pemimpinnya korup. Presiden-presiden sebelumnya korup, kejam. Ambil keputusannya bukan di istana tapi di Riyadh. Itu semua orang sudah tahu.”

“Houthi, mewakili generasi sadar. Generasi yang punya kemampuan untuk mengubah rakyatnya. Houthi jauh dari radikalisme. Houthi selalu bicara tentang toleransi, kedaulatan, kebangsaan. Tidak bicara tentang jargon-jargon yang sifatnya sektarian. Dia juga tak punya ambisi menjadi pemimpin. Dia hanya mengantarkan, mewakili, merepresentasikan people power. Dan dia memang punya sejarah, anaknya pejuang. Jadi kalau di sini ya seperti anaknya Bung Tomo.”

lalu bagaimana bisa muncul pandangan yang menyatakan bahwa konflik Yaman itu adalah konflik sektarian?

“Begini, al-Qaeda itu ada di Yaman, di Selatan. Dan al-Qaeda ini adalah operator Saudi. Mereka dari dulu melakukan penyerangan terhadap kelompok Houthi. Dan ketika al-Qaeda tak mampu, Saudi pernah masuk ke Yaman. Pernah melakukan intervensi. Masuk ke negara orang. Dan tidak mampu. Kalah.”

“Saudi itu tak punya sejarah pertempuran. Kalau Yaman, Yaman itu Kurdinya Arab. Orangnya kecil-kecil, udik, pakenya sarung, tapi tangguh. Dan biasa bawa senjata. Baik senjata tradisionalnya maupun senjata api. Seperti Texas. Siapa saja bisa beli senjata di sana. Bayangin orang seperti ini, yang tahan banting, tangguh dalam kemiskinan, melawan pasukan Negara yang pilotnya saja nyewa. Melawan orang-orang yang biasa hidup dalam kemewahan dan dilemahkan oleh kesenangan.”

“Karena lewat senjata kalah, dipakailah media. Diciptakanlah isu konflik sektarian. Seakan-akan Houthi mewakili Syiah, dan al-Qaeda atau Saudi seakan-akan mewakili Sunni. Anehnya lagi Zaidiyyah itu katanya disebut Syiah yang paling dekat dengan Sunni. Loh, kok dalam posisi ini dirafidhahkan? Ada apa? Jadi sebetulnya ini adalah upaya menekan satu bangsa atas bangsa lain. Mengeksploitasi satu bangsa oleh bangsa lain. Ada pemiskinan terhadap negara lain dengan kedok Syiah dan Sunni. Bayangkan jika itu digeber oleh dua media besar Arab, al-Jazeera (Qatar) dan al-Arabiya (Saudi). Yang isinya itu benar-benar corong sektarian kebohongan dan manipulasi.”

“Ketika di-Syiahkan berarti semua boleh ditimpakan atas Yaman. Ini opini yang dibangun Saudi dan Amerika. Seperti yang di Suriah, Bashar Assad itu sekular, sosial, Baathis, yang didirikan orang Kristen. Tapi supaya bisa dijatuhkan, dituduh Syiah.”

“Satu lagi yang dijadikan keyword, yaitu ‘intervensi Iran.’ Diisukan bahwa Iran sudah ‘masuk.’ Masuk apanya? Masuk itu ditandai dengan senjata, atau militer, atau bantuan nyata yang bisa diidentifikasi. Hanya karena mengagumi, itu gak bisa dianggap intervensi. Bayangkan orang Arab itu mayoritas paling besar gengsinya. Ndak mungkin bisa diatur oleh bangsa lain. Iran itu Persia, yang punya sejarah konflik dengan orang Arab, kok tiba-tiba bisa menguasai, bisa mengintervensi… Ini kan dongeng yang lucu banget. Ini ‘joke of the century’menurut saya.”

“Iran itu hubungannya dengan negara lain aja seperti gak bisa. Beli peralatan buat pesawatnya aja susah. Negaranya diblokade, mata uangnya gak berlaku, hubungan luas dikendala, kemudian mengintervensi? Ini dongeng. Loh ini saja Iran lagi jatuh-bangun karena inflasinya besar. Jadi istilah ‘intervensi’ ini mengada-ada. Hanya justifikasi supaya mereka punya alasan untuk menginvasi.”

Bagaimana dengan isu bahwa konflik Yaman ini adalah soal dominasi Iran vs Saudi?

“Isu ini juga lucu. Iran itu gak ada hubungannya dengan Yaman. Yaman itu sudah Syiah jauh-jauh hari sebelumnya. Dan Syiahnya Zaidi, bukan Imamiyah seperti di Iran. Sebagaian pengamat itu hanya baca koran, artikel-artikel di media Barat lalu disebut itu analisanya dia. Yang memang itu ditulis untuk men-setting bahwa ini adalah soal pertarungan Syiah dengan Sunni, Iran dengan Saudi.”

“Orang Syiah itu gak hanya di Yaman. Kalau ini soal Iran vs Saudi, dan Iran mau gunakan kartunya bener-bener, ada Bahrain. Di Saudi sendiri separuh Saudi itu Syiah. Terutama di bagian timur yang kaya minyak. Tapi Iran tak pernah sentuh apa-apa di situ. Bahwa mereka sama secara ke-Syiah-an ya bener. Malah lebih Syiah daripada yang di Yaman. Kalau di Saudi, di Qatif, di Ahsa, di Damam itu Syiah seperti di Iran, tapi gak ada intervensi. Kalau Iran mau gunakan kartu itu banyak. Kuwait itu seperempatnya orang Syiah, Bahrain mayoritas Syiah. Kemudian Qatar, jumlahnya juga lumayan. Tapi gak dilakukan apa-apa di sana.”

“Ini bukan masalah Syiah atau apa. Ini semua karena Yaman itu miskin. Anda kalau lihat Yaman, Yaman itu seperti negara Afganistan masa 13 tahun yang lalu. Anda seperti ke masa lalu kalau ke Yaman. Saking dimiskinkannya. Padahal negaranya bersebelahan dengan Saudi. Dan dulu disebut dengan baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur itu ya Yaman dalam al-Qur’an. Tapi kok tiba-tiba jadi negara termiskin di Arab?”

Ada yang mengatakan Houthi itu kelompok pemberontak, ekstremis, bahkan teroris. Bagaimana menurut Anda?

“Ini bukan pemberontakan. Ini reformasi. Ini perlawanan kaum proletar terhadap borjuisme. Kalau menggunakan teori analisanya Karl Marx ya di sini ini. Orang-orang desa yang udik, polos, tapi punya kecintaan pada negaranya. Itu saja.”

“Saudi dan Amerika ingin pembodohan sektarian seperti yang terjadi di Suriah mau dipindahkan ke Yaman. Tapi saya kira itu tak akan bisa. Karena gerakan Yaman itu gerakan rakyat, bukan gerakan pemerintah. Houthi itu bukan Bashar Assad. Kalau Bashar Assad itu memang punya catatan-catatan, punya cacat politik, — itu pun tetep bertahan sampai saat ini— tapi ini rakyat yang dihadapi. Jelas beda sekali.”

“Ini rakyat pure yang memang tak menghendaki rezim boneka. Jadi yang disebut ‘pemberontak’ itu siapa? Ya rakyat Yaman itu yang disebut pemberontak. Sama dulu kita jadi pemberontak hanya karena menurunkan Soeharto? Kenapa gak bisa mengukur orang lain dengan diri kita. Kalau kita tak mengapresiasi perjuangan bangsa lain, berarti kita tak menghargai perjuangan kita sendiri. Upayakan bagaimana kalau melihat bangsa Yaman adalah bagaimana kita melihat bangsa kita. Bahwa mereka ini human, manusia juga seperti kita. Kenapa kita dengan mudah men-judge mereka? Apa salahnya orang menjadi Syiah? Dosa? Kriminal? Penjahat apa kalo jadi Syiah? Lha tidak menjadi Muslim saja ndak apa-apa, kok.”

“Menuduh Houthi itu gerakan militan seperti ISIS juga ngawur. Houthi itu terbuka, menempuh jalur-jalur politik, negosiasi, ikut ke Saudi bahkan. Jadi ndak ada karakteristik teroris seperti ISIS. Houthi tak pernah bicara khilafah, ndak ada itu. Jadi ndak ada kesamaan sama sekali. Tak juga membanggakan kesadisan atau teologi horor. Itu hanya ada di media non-mainstream saja.”

Akar konflik di Timur Tengah, termasuk Yaman kalau begitu sebenarnya apa?

“Konflik itu bisa di mana aja. Tak hanya di Timteng. Ia terjadi ketika ada pihak tertetnu yang ingin mengambil sesuatu yang bukan haknya dengan berlebihan. ‘Kerakusan’ –kata Abu Dzarr– itu adalah sumber penindasan. Jadi kalau sudah ada yang rakus, jadi penindasan sebagai cara, kekerasan yang dilakukan adalah cara untuk mengatasi masalah. Karena rakus. Seperti yang terjadi di Yaman ini.”

Ada tuduhan gerakan Houthi sebagai makar Syiah dan dihubungkan dengan Syiah di Indonesia. Pendapat anda?

“Syiah itu bukan hanya di Iran. Lihat Syiah di Irak, lihat Syiah yang di Libanon, yang kerjasama dengan Michel Oun yang Kristen. Lihat Syiah yang di Azerbaijan, Uzbekistan itu mayoritas Syiah. Tapi ndak ada itu makar. Mereka hidup harmonis dalam perbedaan. Orang yang kurang wawasan saja yang percaya isu ini. Tapi itu memang senyawa. Antara yang bodoh dan intoleran itu biasanya ketemu.”

“Isu ini gak faktual. Gak akan berhasil. Karena itu juga harus diverifikasi. Dinas intelijen kita bukan orang-orang bodoh. Malah intel makin curiga kenapa mereka ini menyebarkan isu ini. Mereka tahu siapa sebetulnya sumber ekstremisme dan radikalisme. Siapa yang bicara tentang khilafah-khilafah itu. Padahal mereka orang yang paling gak percaya NKRI. Ternyata tujuannya mengalihkan perhatian dari ISIS, tujuannya supaya mereka dianggap tidak berbahaya. Karena mensesatkan Syiah dengan alasan-alasan agama kelihatannya mentah. Maka ditarik-tarik dan dibenturkan ke negara.”

“Orang Syiah itu gak punya cita-cita macem-macem. Shalat aja gak diganggu sudah bagus. Orang Syiah kalau gak diganggu akan sangat berjasa bagi negara ini. Mereka yang akan memberikan penafsiran-penafsiran yang lebih filosofis tentang kebangsaan, tentang Pancasila, tentang ketuhanan, tentang banyak hal.”

“Kasih kesempatan. Jangan diganggu. Gak perlu dikasih posisi. Mereka akan memberikan kontribusinya. Itu nyata. Lihat Sayyid Hasan Nasrallah di Libanon. Siapa yang lebih nasionalis dari Hizbullah? Memang pegang senjata. Tapi senjatanya hanya diarahkan kepada agresor yang mengancam kedaulatan Libanon. Tanpa Hizbullah habis Libanon. Hizbullah gak harus pakai sorban. Pakai jeans. Persis seperti orang Syiah, hidup biasa. Ada yang tradisional, ada yang liberal, ada yang agamis, ada yang pake jeans, ada yang jenggotan, ada yang klimis. Lihat aja. Gak ada tanda-tanda radikalisme dalam Syiah. Bahkan gak religius sebagian.”

“Jadi jauh sekali Syiah buat cita-cita negara. Justru orang Syiah itu orang yang paling terganggu kalau negara ini menjadi negara Islam. Kenapa? Karena Islamnya pasti mewakili satu kelompok yang biasanya intoleran. Dan itu saya kira banyak orang faham.”

Lalu bagaimana masyarakat mesti menyikapi Konflik di Yaman?

“Ya kita sadarkan dengan pemberitaan yang cerdas. Media yang membuka akal pikiran orang. Tidak memposiskan akal orang itu sebagai keranjang. Perlu media tandingan. Makanya kaum intelektual, orang-orang cerdas, yang disebut dengan silent majority jangan hanya ribut soal APBD, DPRD-Ahok, KPK-Polri saja. Ada ancaman yang lebih besar dari ini, intoleransi, ekstremisme, radikalisme, yang secara tidak langsung diciptakan oleh media.”

“Masyarakat juga harus sadar, jangan hanya baca berita, dia harus menganalisis. Jangan serahkan pada pengamat, karena pengamat mewakili perspektifnya sendiri. Kita ini jangan mau dijejali begitu saja, kita kan juga punya akal sehat. Jadilah bijak, tidak gampang dan serampangan dalam men-judge orang. Tapi akan lebih hati-hati. Sebab satu kata bisa berdampak negatif. Banyak orang tak punya kesadaran pada butterfly effect, akibat yang beruntun. Kelihatannya jauh. Tapi itu berdampak besar terhadap orang lain, terhadap banyak orang.”

“Karena itu perlu kebersihan hati dan kejernihan berpikir. Jangan ada lagi media yang memasukkan suatu peristiwa dengan memasukkan unsur yang tak ada hubungannya dengan peristiwa itu. Agamanya, keyakinannya, etniknya. Itu jelas pembodohan, bukan media yang cerdas. Lihat peristiwanya, lihat tindakannya. Jangan lihat keyakinannya apa, mazhabnya apa. Susah kalau harus dikait-kaitkan dengan agama, ini Houthi Syiah. Lha, Soeharto? Sunni? Masak mau gitu? Jangan tulis ini Houthi militan. Itu pembodohan namanya militan. Apalagi kalau artinya militan itu di ISIS-ISIS-kan. Itu jelas pembodohan.”

Terakhir, singkat saja, bisa anda gambarkan krisis Saudi dengan Yaman saat ini?

“Ya, kalau pakai logikanya logika kekuasaan, mau hegemoni, memang Saudi harus menginvasi. Jadi kalau saya berpikir seperti Saudi, ini kalau dibiarkan Yaman berkuasa, hidup dan bangkit negaranya, dia akan menuntut hak tanahnya atas Saudi. Banyak yang akan dilakukan. Tapi Saudi harus ingat, Yaman bukan agar-agar. Yaman itu tulang yang bisa merontokkan gigi Saudi yang mencoba mengunyahnya.” (Lutfi-Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top