Wednesday , April 8 2020
Breaking News
Sayidah Fatimah dan Pewahyuan

Sayidah Fatimah dan Pewahyuan

Pengertian Etimologis dan Terminologis

Kata wahyu dan derivatnya terdapat dalam Al-Qur’an sebanyak 78 kali sebagaimana dikutip Muhammad Fuad Abdul Baqi dalam Mu’jam Al-Mufahras li Alfazh Al-Qur’an Al-Karim. Secara umum, wahyu adalah isyarat atau sesuatu yang disampaikan. Mewahyukan secara etimologis berarti menyampaikan yang lebih samar dari isyarat dengan cara tersembunyi dan cepat. Ibn Manzhur dalam Lisan Al-‘Arab berkata bahwa wahyu adalah pemberitahuan secara samar, karena itu ilham disebut sebagai wahyu. Dari makna etimologi tersebut, terdapat macam-macam wahyu.

Pertama, wahyu suci kepada manusia, seperti Ibunda Nabi Musa.

Dan Kami wahyukan kepada ibunya Musa, “Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.” (QS. Al-Qashash [28]: 7)

Kedua, Wahyu instinktif untuk hewan, seperti wahyu untuk lebah.

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia,” (QS. An-Nahl [16]: 68)

Ketiga, kode singkat sebagaimana isyarat Nabi Zakaria as kepada kaumnya.

Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia memberi isyarat (اوحى) kepada mereka; bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang. (QS. Maryam [19] : 11)

Keempat, bisikan syaitan ke dada manusia.

Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan (يوحون) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu. (QS. Al-An’am [6] : 121)

Kelima, perintah Allah kepada para malaikat-Nya.

(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” (QS. Al-Anfal : 12)

Sebagaimana wahyu bersifat bisikan rahasia, maka Al-Qur’an menyebutkan manusia ‘mewahyukan’ (memberikan wahyu kepada) manusia lain.

Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan (يوحي) kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. (QS. Al-An’am [6]: 112)

Wahyu Allah Swt kepada para Nabi as merupakan pengetahuan tertinggi.

Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Dawud. (QS. An-Nisa’ [4]: 163)

Ayat yang terakhir ini sekaligus membatasi makna wahyu Allah yang khusus untuk para nabi dan rasul as.

Gradasi Wahyu

Dari makna-makna, dari konteks siapa yang menerima, dan konten wahyu ara ahli tafsir membagi wahyu dalam dua kategori; wahyu yang positif dan suci; dan wahyu negatif (seperti pada poin 4 di atas). Wahyu suci pun memiliki gradasi.

  • Wahyu juga bersifat vertikal (poin 1, 2, 5 dan 7) dan horizontal (seperti poin 6 di atas)
  • Wahyu vertikal adalah ilmu dari yang lebih mulia kepada yang di bawahnya.
  • Wahyu vertikal bisa berperingkat sesuai gradasi kesucian dan kecahayaan penerimanya.
  • Wahyu tertinggi adalah ilmu Allah yang memancar tanpa perantara. Penerimanya pastilah punya mempunyai kualitas kesucian.

Ada dua macam wahyu tanpa jeda; yaitu wahyu yang bermuatan hukum (permanen); dan wahyu yang bermuatan pesan-pesan khusus terkait sebuah peristiwa khusus yang diterima oleh nabi atau lainnya. Ada kalanya wahyu bersifat personal yang diterima seorang Nabi tentang sesuatu seperti perintah Allah kepada Nabi Musa as untuk pergi ke gunung Thur. Wahyu yang diterima Nabi Muhammad adalah cahaya dalam pengertian eksistensial. Wahyu yang disampaikan oleh Jibril as adalah wahyu yang berjeda (perantara), berdasarkan peristiwa-peristiwa (berkonteks dengan asbabun nuzul). Ada juga wahyu yang langsung utuh dari Allah tanpa perantara, langsung Allah pindahkan (cangkokkan) kepada Nabi Saw.

Wahyu utuh boleh jadi tidak bermushaf, tidak ditulis. Segala yang disampaikan nabi adalah wahyu. Tak semua wahyu yang diterima Nabi SAW termaktub dalam al-Quran.

“Tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya. Ucapan beliau adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53]: 3-4)

Gradasi Penerima Wahyu

Penerima wahyu juga berbeda-beda. Ada kalanya nabi. Kesucian dan kualitas kecahayaan para nabi pun bertingkat-tingkat. Wahyu tertinggi adalah bagi para Nabi Ulul ‘Azm as, karena mereka menjadi imam-imam bagi Nabi selainnya, seperti Nabi Ibrahim yang menjadi imam bagi Nabi Ismail as, Ishaq as, Ya’qub as, dan lainnya, atau Nabi Musa yang menjadi imam bagi Nabi Harun as, dan tentu saja Nabi Muhammad Saw yang menjadi imam bagi seluruh nabi. Semua berada dalam wahyu vertikal ini.

Wahyu positif dan vertikal tidak hanya diberikan kepada Nabi. Mengapa? Karena tingkat kesuciannya yang meniscayakan itu.

Al-Qur’an menyinggung beberapa ayat tentang para wanita yang diajak bicara oleh para Malaikat. Tentu saja hal ini bukanlah wahyu kenabian namun wahyu kewalian mereka. Antara lain:

Wahyu Allah kepada Sayidah Maryam putri Imran as, ibunda Nabi Isa as:

Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, “Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam (pada masa itu). (QS. Ali ‘Imran [3]: 42)

Wahyu Allah kepada Sayidah Sarah, istri Nabi Ibrahim as:

Dan istrinya berdiri lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya (Sarah) kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak dan setelah Ishak (akan lahir) Yakub. (QS. Hud [11]: 69-73)

Wahyu Allah kepada Ibunda Nabi Musa as. Sebagaimana telah disebutkan pada poin pertama (QS. Al-Qashash [28]: 7)

Wahyu untuk Fatimah as

Bagaimana halnya wahyu dalam konteks Ahlulbait as, seperti Sayidah Fathimah as, putri Rasulullah Saw yang telah Allah sucikan di dalam Al-Qur’an? Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlulbait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab [33]: 33)

Demikian halnya riwayat muktabar yang menegaskan kesucian para Ahlulbait Nabi Saw. Suci adalah konsekuensi penerimaan wahyu. Karena menerima sesuatu yang suci dari Yang Mahasuci, maka Ahlulbait as yang menerima wahyu haruslah suci. Ahlulbait Nabi disucikan bukan berarti pernah kotor. Kesucian mereka adalah akibat niscaya pancaran cahaya kesucian dari Allah Swt Yang Mahasuci sebagai Sebab Sejati.

Az-Zahra sebagai manusia suci, secara duniawi suci, lahir dari Nabi yang suci, tidak pernah menyembah berhala, tidak pernah syirik, dan tidak pernah bermaksiat. Karena itu, Az-Zahra menerima wahyu (dalam pengertian yang luas) adalah keniscayaan.

Jangankan manusia selain Nabi, seperti Sayidah Maryam as, Sayidah Sarah as, Ibunda Nabi Musa as dan Sayidah Fatimah as, makhluk Allah Swt yang lain pun disebutkan dalam Al-Qur’an menerima wahyu:

Hawariyun, para sahabat setia Nabi Isa as:

Dan (ingatlah), ketika Aku wahyukan kepada pengikut-pengikut Isa yang setia, “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab, “Kami telah beriman, dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (Muslim).” (QS. Al-Maidah [5]: 111)

Lebah, sebagaimana telah disebutkan pada poin 2 di atas. (QS. An-Nahl [16]: 68)

Langit:

Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. (QS. Fusshilat [41]: 12)

Bumi:

karena sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukan (yang sedemikian itu) padanya. (QS. Az-Zalzalah [99]: 5).

Dalam ranah ilmu tasawuf wali menerima kasyaf, syuhud (penyingkapan), ilmu ladunni, mawhibah dan sebagainya adalah lumrah. Itu semua adalah wahyu yang dalam pemahaman orang umum disebut ilham, padahal sebenarnya dalam makna primer ia adalah wahyu.

Bagi sebagian besar pengikut Ahlulbait, hal itu merupakan keniscayaan dari kesucian Fatimah Zahra. Tapi sebagian awam, kata wahyu dipahami secara kaku akibat pembatasan makna, apalagi para aktivis teologi pengkafiran selalu berupaya menciptakan aneka fitnah termasuk memelintir ucapan.

Ustaz Muhsin Labib Assegaf (Ketua Komisi Bimbingan dan Dakwah Dewan Syura ABI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top