Friday , November 15 2019
Breaking News
Sejarah Kehidupan Imam Ali Zainal Abidin bin Husain a.s

Sejarah Kehidupan Imam Ali Zainal Abidin bin Husain a.s

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib a.s yang terkenal dengan sebutan Imam Sajjad dan Zainal Abidin adalah Imam Keempat Syiah (38-94 H/658-714). Ia menjadi imam selama 34 tahun. Ia hadir pada Peristiwa Karbala dan peristiwa-peritiwa lain yang terjadi pada masa hidupnya, antara lain Peristiwa Harrah, Kebangkitan Thawwabin (orang-orang yang taubat) dan Kebangkitan Mukhtar.

Shahifah Sajjadiyah merupakan kumpulan doa Ali bin Husain a.s yang menggambarkan kehidupan sosial pada masanya. Shahifah Sajjadiyah adalah sebuah petunjuk jalan kebenaran dalam naungan pendidikan agama dan Alquran, serta penyucian jiwa dari kotoran dan penghubung manusia kepada Allah swt.

Karya dan peninggalannya yang lain yaitu Risalah al-Huquq yang merupakan panduan tentang hak-hak yang menjadi tanggung jawab manusia.

Imam Zainal Abidin as diracun atas perintah Walid bin Abdul Malik. Ia dimakamkan di komplek pekuburan Baqi di samping kubur Imam Hasan al-Mujtaba as, Imam Muhammad al-Baqir as dan Imam Ja’far al-Shadiq as.

Zuhri mengatakan, “Aku tidak melihat seorang pun dari Bani Hasyim yang lebih unggul darinya dan tidak pernah aku melihat seorang pun yang lebih fakih darinya.” Syafi’i berkata, “Ia adalah orang yang paling fakih di antara penduduk Madinah.” Sementara Jahizh megatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang meragukan keutamannya atau mempermasalahkan keunggulannya.”

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib a.s adalah Imam Keempat Syiah dan putra dari Imam Husain as. Mengenai nama dan nasab ibunya terdapat perbedaan pendapat sehingga disebutkan ada beberapa nama, di antaranya: Syahr Banu, Syahr Banuwiyah, Syahzanan[1], Jahansyah, Khulah, Sulafah, Ghazalah, Salamah, Harrar, Maryam dan Fatimah. Sayid Ja’far Syahidi mencatat bahwa diantara nama-nama yang ada, yang paling masyhur adalah Syahr Banu. Diantara nama ayah dari Syahr Banu yang tercatat adalah Yazdgerd raja terakhir kerajaan Sasanian, Nusyijan orang Khurasan dan Syirwaih putra Parwiz. Namun yang terkenal nama ayah Syahr Banu adalah Yazdgerd. Sayid Ja’far dengan mengutarakan dalil dan petunjuk, tidak menerima pensifatan ibu Imam Ali bin Husain as ini.[2] Dia mengatakan, “Setelah kesyahidan Imam Husain as, Zuyaid bekas budak Imam Husain as menikahi ibunya Imam Ali bin Husain as, dan darinya lahir Abdullah bin Zuyaid, sehingga Abdullah adalah saudara seibu Imam Ali bin Husain as.”[3]

Syaikh Shaduq menulis, “Ibu Imam Ali bin Husain as wafat ketika sedang mengandung. Kemudian seorang budak perempuan milik ayahnya menjadi pengasuh Ali bin Husain as. Ia Menganggap perempuan tersebut sebagai ibunya. Setelah mengetahui bahwa perempuan tersebut seorang budak perempuan dan bukan ibunya, kemudian Ali bin Husain as menikahkan perempuan tersebut kepada seorang lelaki. Masyarakat saat itu mengatakan bahwa Ali bin Husain as menikahkan ibunya kepada seorang lelaki.”[4]

Julukan yang diberikan kepala Ali bin Husain as yaitu Abu al-Hasan, Abu al-Husain, Abu Muhammad dan Abu Abdillah.[5] Sementara gelarnya yaitu Zainal Abidin, Sayid al-Sajidin, Sajjad, Hasyimi, ‘Alawi, Mudni, Qurasyi dan Ali Akbar.[6] Gelar lain yang diberikan kepadanya adalah Dzu al-Tsafinat, karena ia memiliki tanda di bagian tubuhnya yang sering dipakai sujud, hingga lututnya seperti lutut unta yang keras dan tebal sebagai akibat dari bekas ibadah dan shalatnya yang banyak.[7] Imam Sajjad as pada zamannya terkenal dengan sebutan Ali al-Khair, Ali al-Ashgar dan Ali al-‘Abid.[8]

Berdasarkan pendapat yang masyhur, Imam Sajjad as lahir pada tahun 38 H/658, sehingga ia sempat mengalami masa hidupnya pada masa Imam Ali a.s, Keimamahan Imam Hasan a.s dan Imam Husain a.s. Ia juga mengalami masa pemerintahan Muawiyah yang berusaha keras menekan orang-orarang Syiah di Irak dan daerah lainnya. Namun dalam beberapa sumber data disebutkan bahwa usia Imam Sajjad a.s kurang dari 38 tahun, dengan kelahiran pada tahun 48 H/668.[9] Meskipun pendapat terakhir ini disebutkan dalam beberapa sumber, tapi terdapat bukti yang menolak pendapat tersebut. Misalnya yang masyhur diantara para sejarawan dan penulis biografi bahwa Imam Sajjad as lahir pada tahun 38 H/658. Dengan demikian, usia Imam Sajjad a.s pada saat Peristiwa Karbala adalah 23 tahun.

Muhammad bin Umar Waqidi, seorang perawi sejarah Ahlusunnah, menyebutkan bahwa perkataan Imam Shadiq a.s yang mengatakan, “Ali bin al-Husain a.s wafat pada usia 58 tahun”, adalah sebagai bukti bahwa Imam Sajjad as ketika berada di Karbala bersama ayahnya berusia 23 atau 24 tahun.[10] Zahari juga menyebutkan Ali bin Husain as ketika bersama ayahnya di Karbala berusia 23 tahun.[11]

Imam Sajjad as syahid pada tahun 94/713 atau 95 H/714 karena diracun atas perintah Walid bin Abdul Malik.[12] Ia dikuburkan di Pemakaman Baqi’ di samping makam Imam Hasan al-Mujtaba a.s, Imam Muhammad al-Baqir a.s dan Imam Ja’far al-Shadiq as.[13]

Keimamahan Imam Sajjad as bermula dengan kesyahidan Imam Husain a.s pada peristiwa Asyura tahun 61 H/681 dan berlanjut hingga masa kesyahidannya, yakni tahun 94 atau 95 H.

Berdasarkan bukti-bukti yang dikutip oleh para ahli hadis Syiah dalam kitab-kitabnya, Imam Sajjad as merupakan pengganti dan washi ayahnya, Imam Husain a.s.[16] Syaikh Mufidmengatakan bahwa dalil pertama imamah Imam Sajjad a.s adalah keutamaan ilmunya atas orang lain setelah ayahnya.[17] Hadis-hadis Nabi Muhammad saw yang menyebutkan nama-nama para imam Syiah juga menjadi penguat hal ini.[18] Begitu juga berdasarkan dalil-dalil Syiah, peralatan seperti pedang dan baju besi Rasulullah saw yang mesti diwarisi para imam, semuanya ada pada Imam Sajjad as.[19] Hal ini juga secara gamblang termaktub dalam kitab-kitab Ahlusunnah.[20]

Peristiwa Karbala dan Penawanan

Ketika terjadi Peristiwa Karbala dan pada hari ketika Imam Husain as dan para sahabatnya syahid, Imam Ali bin Husain as sedang sakit parah. Sehingga ketika para musuh hendak membunuhnya, sebagian dari mereka berkata, “Cukuplah baginya dengan sakit yang dideritanya ini.”[22]

Setelah Tragedi Karbala, seluruh keluarga Imam Husain as ditawan dan dibawa ke Kufah dan Syam. Ketika tawanan dibawa dari Karbala  ke Kufah, leher Imam Sajjad as diberi belenggu dengan Jamah, yaitu semacam belenggu atau borgol yang mengunci dan mengikat tangan serta leher secara bersamaan. Karena sakit dan tidak bisa menjaga dirinya di atas punggung unta, kedua kaki Imam Sajjad as diikatkan ke perut unta.[23]Kufah

Sebagian sejarawan mengatakan Imam Sajjad as membacakan sebuah khutbah di Kufah. Namun, karena keadaan Kufah dan pengekangan serta ketidakramahan para prajurit pemerintah yang berkuasa, juga rasa takut penduduk Kufah terhadap mereka dan sikap tidak bersahabat, maka khutbah yang penuh informasi itu sulit diterima. Selain itu, disebutkan bahwa isi khutbah yang disampaikannya sama dengan khutbahnya di masjid Damaskus.[24]

Ibnu Ziyad memenjarakan Imam Sajjad a.s dan para tawanan Karbala. Dia mengirim surat ke Syam dan meminta perintah Yazid selanjutnya. Yazid membalas suratnya supaya para tawanan dan kepala para syuhada Karbala dibawa ke Syam. Ibnu Ziyad merantai Imam Sajjad as dan memasang belenggu di lehernya. Para tawanan Karbala pun dibawa ke Syam dengan pengawalan Muharafah bin Tsa’labah.[25]

Imam Sajjad a.s memberikan khutbah di masjid Syam. Ia memperkenalkan dirinya, ayahnya dan kakeknya kepada masyarakat Syam. Ia juga mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Yazid dan orang-orangnya adalah tidak benar. Ayahnya bukanlah orag asing, dan ia tidak hendak menyerang orang Islam serta menyebarkan fitnah di negeri Islam. Ia bangkit untuk kebenaran dan atas undangan umat dengan menghilangkan bid’ah-bid’ah dalam agama, sehingga kesucian masa Rasulullah saw pun bisa disampaikan.[26]

Kembali ke Madinah

Imam Sajjad a.s hidup selama 34 tahun setelah Peristiwa Karbala. Selama itu pula ia berusaha terus menghidupkan dan menjaga ingatan terhadap para syuhada Karbala. Setiap minum air ia selalu mengingat ayahnya, dan senantiasa menangisi musibah yang menimpa Imam Husain a.s. Diriwayatkan dari Imam al-Shadiq a.s, “Imam Zainal Abidin a.s menangis utuk ayahnya selama 40 tahun. Ia setiap hari berpuasa dan setiap malamnya melakukan salat. Ketika berbuka puasa, pembantunya membawakan air dan makanan untuknya dan berkata, “Silakan Tuan!” Imam berkata, “Putra Rasulullah saw terbunuh dalam keadaan lapar! Putra Rasulullah terbunuh dalam kondisi kehausan!” Kalimat ini diulang-ulangnya dan ia menangis sedemikian rupa sehingga air matanya bercampur dengan air minum dan makanannya. Hal ini terus menimpanya hingga ia meninggal dunia.”[27]

Keutamaan Imam Sajjad As

Malik bin Anas berkata, “Ali bin Husain melakukan shalat siang malam sebanyak 1000 rakaat sampai meninggal dunia, sehingga ia dijuluki Zainal Abidin (perhiasan para ahli ibadah).[34] Ibnu Abdi Rabbah menulis, “Ketika Imam Sajjad a.s bersiap-siap hendak shalat, ia menggigil hebat. Kemudian ia ditanya mengenai hal tersebut. Imam berkata, “Celakalah engkau, apakah engkau tidak mengetahui kepada siapa aku akan menghadap dan kepada siapa aku akan bermunajat?”[35] Malik bin Anas berkata, “Ketika Ali bin Husain sudah mengenakan kain ihram, ia mengucapkan labbaika allahumma labbaik. Dan pada saat itu juga ia langsung pingsan dan terjatuh dari kendaraan tunggangannya.”[36]

Abu Hamzah Tsumali berkata, “Ali bin Husain as memikul sejumlah makanan dan dalam kegelapan malam ia memberikannya kepada fakir miskin secara diam-diam. Ia berkata, “Sedekah yang diberikan dalam kegelapan malam akan memadamkan amarah Allah swt.”[37]

Muhammad bin Ishaq berkata, “Orang-orang Madinah selama hidupnya tidak mengetahui dari mana kebutuhan hidup mereka terpenuhi. Namun setelah wafatnya Imam Sajjad as, makanan-makanan mereka pun terhenti.[38]

Ketika malam hari memikul roti dipundaknya dan membawanya ke rumah-rumah orang yang membutuhkan, ia berkata, “Sedekah yang tersembunyi akan memadamkan murka Allah.” Akibat memikul karung, bekas pikulan tersebut nampak di pundaknya. Hal ini diketahui ketika tubuhnya yang suci dimandikan saat wafatnya.[39] Ibnu Sa’ad menulis, “Ketika orang-orang yang butuh datang menemui Imam Sajjad as, ia pun bangkit dan memenuhi kebutuhan mereka. Ia berkata, “Sebelum sedekah sampai ke tangan orang-orang yang membutuhkan, ia akan sampai kepada Allah swt.”[40]

Pada suatu tahun, Imam Sajjad as hendak menunaikan ibadah haji. Saudarinya, Sukainah, menyiapkan bekal senilai seribu Dirham. Ketika sampai di Harrah, bekal tersebut dibawa ke hadapan Imam Sajjad as, dan Imam membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.[41]

Imam Sajjad as memiliki seorang kemenakan yang miskin. Pada malam hari ketika kemenakannya tidak mengenalinya, ia pergi menjumpai kemenekannya tersebut dan memberinya beberapa Dinar. Kemenakannya bertanya, “Ali bin Husain as tidak memperhatikan familinya sendiri, semoga Allah mengingatkannya.” Imam mendengar perkataan kemenakannya tersebut dan dengan sabar serta tenang ia tidak menjelaskan siapa dirinya yang sesunggguhnya. Ketika Imam Sajjad as meninggal, kemenakannya tersebut tidak lagi mendapati kebaikan orang yang selama ini menolongnya. Orang tersebut pada akhirnya mengetahui bahwa orang yang selama ini berbuat baik adalah Ali bin Husain as. Kemudian ia pergi ke kuburan Imam Sajjad as dan menangis di pusara Imam.[42]

Abu Na’im menulis, “Dua kali ia membagi dua hartanya dengan orang-orang tidak mampu. Ia berkata, “Allah menyukai orang berdosa yang bertaubat.”[43] Abu Na’im juga menulis, “Masyarakat mengenalnya sebagai orang pelit. Namun ketika ia wafat, mereka mengetahui bahwa Ali bin Husain menjadi penanggung hidup seratus keluarga.[44] Ketika pengemis sering datang kepadanya, ia berkata, “Selamat datang orang yang bersedia membawa bekal saya ke akherat.”[45]

Karya Peninggalan

Syaikh Mufid menulis, “Para ulama Ahlusunnah mengutip banyak ilmu dari Imam Sajjad as. Diantara karya peninggalannya yang masyhur menurut para ulama adalah nasihat-nasihat, doa-doa, riwayat tentang keutamaan Alquran, halal haram, peperangan dan hari-hari sejarah.[47]Sebuah hal menarik bahwa sekitar 300 hadis dari Imam Sajjad as dimuat dalam kutub Arba’ah.[48]

Shahifah Sajjadiyah

Shahifah Sajjadiyah adalah kumpulan doa-doa Imam Sajjad as. Sebuah cerminan dari kehidupan sosial pada masanya—khususnya di Madinah—terlihat dalam Shahifah Sajjadiyah. Diantaranya, menghindari perilaku dan perkataan buruk masyarakat masa itu dan minta perlindungan kepada Allah swt dari apa yang dilihat dan didengar dan menjelaskan jalan kebenaran dalam naungan pendidikan agama dan Alquran, serta pensucian jiwa dari kotoran. Sepertinya Imam Sajjad as dengan bahasa doanya sebisa mungkin hendak mengeluarkan masyarakat dari belenggu syaitan menuju naungan Allah swt.[49] Shahifah ini sudah tersebar dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Risalah Huquq

Risalah al-Huquq adalah salah satu karya yang dinisbatkan kepada Imam Sajjad as. Dalam risalah ini terdapat 51 hak (atau 50, menurut beberapa cetakan).[50] Risalah ini pun telah dicetak dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sebagian hak yang terdapat di dalamnya adalah:

  1. Hak Allah
  2. Hak Jiwa
  3. Hak Lidah
  4. Hak Shalat
  5. Hak Sedekah
  6. Hak Guru
  7. Hak Rakyat
  8. Hak Perempuan
  9. Hak Ibu
  10. Hak Ayah
  11. Hak Anak
  12. Hak Saudara
  13. Hak Budak
  14. Hak Teman
  15. Hak Tetangga
  16. Hak Peminjam Utang
  17. Hak Orang yang Marah Kepada Anda
  18. Hak Orang yang Membahagiakan Anda
  19. Hak Orang yang Berbuat Buruk
  20. Hak Ahli Dzimmah

Perkataan Ahli Sunnah Tentang Imam Sajjad as

Muhammad bin Muslim Zuhri berkata, “Aku tidak melihat orang dari Bani Hasyim yang lebih unggul darinya dan juga aku tidak melihat seseorang yang lebih fakih darinya.”[51] Syafi’iberkata, “Ia adalah orang yang paling fakih diantara penduduk Madinah.”[52] Jahizh berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang meragukan keutamaannya dan berkata tentang keunggulannya.”[53]

klik sumber dan foot note

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top