Wednesday , September 18 2019
Breaking News
Sejarah Longmarch Arbain

Sejarah Longmarch Arbain

Longmarch Arbain merupakan longmarch terbesar muslim Syiah yang diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Arbain di Irak. Orang-orang yang ikut longmarch ini berasal dari pelbagai penjuru negara Irak dan juga peziarah dari berbagai negara. Mereka berjalan kaki dalam jumlah yang sangat besar menuju Karbala dalam rangkaian acara peringatan Hari Arbain Imam Husain untuk menunaikan ziarah Arbain. Orang-orang yang hadir pada peringatan Arbain ini diperkirakan mencapai puluhan juta orang setiap tahunnya. Pada tahun 2013 angka peziarah mencapai 10 juta orang. Tahun 2014 menembus hingga 20 juta orang.

Menurut hasil penelitian, perjalanan menuju Karbala pada hari Arbain telah mentradisi dalam umat Islam Syiah semenjak masa Imam Maksum. Bahkan disebutkan bahwa kaum Syiah tetap menjalankan tradisi ziarah Arbain ini pada masa kekuasaan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Qadhi Thabathabai menilai bahwa tradisi ziarah Arbain ini sebagai tradisi setiap tahun kaum Syiah di sepanjang sejarah. [1]

Penulis buku Adab al-Thaff yang beredar pada tahun 1967 dalam laporannya atas pertemuan besar kaum Syiah pada peringatan Arbain Imam Husain di Karbala menyerupakan pertemuan itu seperti pertemuan kaum Muslim di Mekkah. Dalam buku itu disinggung tentang majelis-majelis duka disampaikan dalam bahasa Turki, Arab, Persia dan bahasa Urdu. Ia menegaskan bahwa tidak berlebihan, pada masa itu, terdapat kurang lebih satu juta orang yang turut serta pada ziarah Arbain Imam Husain as. [2]

Pemerintahan Saddam Husain dan Pelarangan Longmarch

Pada akhir abad ke-14, pemerintahan Ba’tsi memegang kendali kekuasaan di Irak. Mereka tahu bahwa longmarch Arbain ini merupakan simbol kekuatan politik (show force) kaum Muslim Syiah. Pemerintahan Saddam kemudian melarang adanya peringatan Arbain dan terkadang dengan kejam menyerang para peziarah. Larangan dan teror pemerintahan Ba’tsi ini membuat peringatan Arbain tidak begitu ramai. Mereka terkadang menyerang dengan menembakkan senjata dari darat atau menyerang dari udara. Tahun 1977 merupakan klimaks dari serangan ini dimana mereka menembak para peziarah di dekat kota Karbala. Dengan adanya larangan ini, sebagian Syiah secara diam-diam tetap pergi berziarah ke Karbala. Pada tahun itu juga, Ayatullah Sayid Muhammad al-Shadr mengumumkan wajibnya ziarah Arbain.

Setelah jatuhnya pemerintahan Ba’tsi (Saddam Husain) di Irak yang menjadi penghalang utama terselenggaranya pelbagai jenis majelis duka Imam Husain as, untuk pertama kalinya pada tahun 2003, kaum Syiah bergerak menuju Karbala. Pada permulaan acara peringatan ini terdapat tiga juta orang yang hadir. Pada tahun-tahun setelahnya, jumlah peziarah dan peserta longmarch ini semakin membludak sehingga disebutkan terdapat lebih dari 10 juta orang yang turut meramaikan peringatan Arbain Imam Husain as.[3] Pada tahun 2013 yang bertepatan dengan Arbain tahun 1435 H sebagian melaporkan bahwa terdapat 15 juta peziarah yang berpartisipasi pada ritual Arbain ini. [4] 

Wikishia

 

Catatan kaki

  1. Qadhi Thabathabai, hlm. 2.
  2. Syubbar, jld. 1, hlm. 41.
  3. Khabarguzari Tasnim
  4. Site Fardanew

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top