Wednesday , January 22 2020
Breaking News
Serba-serbi Alih Fungsi Lokalisasi Kramat Tunggak & Dolly

Serba-serbi Alih Fungsi Lokalisasi Kramat Tunggak & Dolly

Rencana Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini untuk menutup lokalisasi Dolly 19 Juni mendatang sepertinya tidak akan berjalan dengan mulus. Ada penentangan dari warga komplek setempat, bahkan ada oknum dari DPRD Surabaya yang ikut menolak rencana penutupan lokalisasi tersebut dengan berbagai alasan.

Pertentangan pendapat ini tak ayal menimbulkan pertanyaan, apakah setiap penutupan lokalisasi selalu bermasalah seperti ini?

Di ibukota sendiri, sejak zaman Jakarta dipimpin Gubernur Ali Sadikin, juga ada lokalisasi Kramat Tunggak, yang bahkan tercatat sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara. Namun ketika Sutiyoso menjabat sebagai Gubernur Jakarta, terbitlah keputusan bersama penutupan lokalisasi Kramat Tunggak yang eksekusinya berjalan relatif damai.

Menurut keterangan Mutnoro, Ketua Rt 1 Rw 1 Kelurahan Tugu Utara Kecamatan Koja yang berada tepat di depan komplek masjid Jakarta Islamic Centre yang dulunya merupakan area lokalisasi Kramat Tunggak, jalannya penutupan lokalisasi Kramat Tunggak nyaris tak ada permasalahan berarti. “Nggak ada. Nggak ada itu ribut-ribut orang waktu dulu dipindah. Aman saja,” terang Mutnoro, saat membandingkannya dengan kasus Dolly.

Mutnoro adalah saksi hidup sejak lokalisasi Kramat Tunggak berdiri hingga dialihfungsikan menjadi Jakarta Islamic Centre. Ia berharap penutupan lokalisasi Dolly bisa sedamai yang di Kramat Tunggak.  Menurut pengakuan Mutnoro, sejak lokalisasi ditutup dan diubah menjadi masjid, sekarang situasi lebih aman. Dulu sering ada keributan karena banyak yang mabuk, sekarang anak-anak muda di kampungnya sudah tidak lagi mabuk-mabukan dan mulai menjalankan pekerjaan yang halal.

Hanya saja Mutnoro mengakui, sejak alih fungsi lokalisasi Kramat Tunggak, pendapatan ekonomi warganya memang menurun. Keberadaan lokalisasi yang menampung ribuan pekerja seks itu memang membuat roda ekonomi berputar. Meski banyak akibat negatif lainnya.

Sementara Bu Pina, ibu tujuh anak yang dulunya memiliki warung nasi di komplek lokalisasi Kramat Tunggak menceritakan bahwa memang dulu ia mudah mendapatkan uang dari pengunjung lokalisasi. “Kalau dulu dapetnya cepet, Mas. Tapi gak tahu kenapa habisnya juga cepet. Sekarang, walau dapetnya sedikit, tapi rejeki ada aja,” aku Bu Pina, yang sekarang berdagang bakso dan minuman ringan tepat di sebelah gerbang samping Jakarta Islamic Centre.

Menurut Bu Pina, memang sejak lokalisasi diubah menjadi Jakarta Islamic Centre oleh Pemda DKI, preman-preman yang dulunya banyak berkeliaran,  sekarang sudah tidak ada. Para pekerja lokalisasi pun sudah tak ada lagi yang tinggal di situ. Menurut penuturannya, kebanyakan dari mereka sudah pulang kampung, atau mungkin sudah pindah kerja ke tempat lain.

Berkaca dari keberhasilan Pemda dan masyarakat Jakarta dalam upaya alih fungsi lokalisasi Kramat Tunggak yang merupakan lokalisasi terbesar di Asia Tenggara menjadi Jakarta Islamic Centre,  tampak bahwa alih fungsi lokalisasi tak harus diwarnai keruwetan yang tidak perlu. Asal saja sudah ada dukungan dan kerjasama semua pihak, terutama kesadaran masyarakat setempat bahwa tujuan alih fungsi itu tak lain adalah demi kemaslahatan mereka sendiri.

Karenanya, tak mustahil upaya serupa bisa ditempuh Pemkot Surabaya dan warga sekitar lokalisasi Dolly agar rencana penutupan dan alih fungsi lokalisasi di kota mereka dapat berjalan lancar dan damai.
(Muhammad/Yudhi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top